Medan, Tribun - Nurhayati (55) warga Dusun Lestari, Desa Pasar V Kebun Kelapa Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang, kritis setelah dibacok oleh anak perempuannya, Wulan (25). Dimana setelah kejadian tersebut, korban langsung dilarikan ke RSUP H Adam Malik untuk mendapat perawatan intensif, Jumat (18/2).

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, korban saat itu berada dirumah anak keempatnya di Dusun Manggis Desa Tumpatan Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang. Namun, saat sebelum kejadian, korban sedang melaksanakan shalat Ashar, sekitar pukul 15.30 WIB, entah mengapa, Wulan bungsu dari lima bersaudara ini dan saat itu juga berada dirumah, tiba - tiba mendatangi korban kemudian membacok kepalanya dengan menggunakan cangkul.

Akibat peristiwa itu, dengan seketika korban tidak sadarkan diri dan bersimbah darah atas kejadian tersebut. Berdasarkan pantauan, korban masih menjalani perawatan di Ruang IGD dengan kondisi terbaring lemah dan dipasangi infus. Sementara itu, keluarga korban tidak dapat dimintai keterangannya lebih lanjut.

Humas RSUP H Adam Malik, Sairi Saragih mengatakan belum dapat dikonfirmasi mengenai masalah tersebut. "Saya belum dapat memberi keterangan. Karena saya juga belum mengetahui kondisi korban secara pasti. Selain itu, keluarga korban juga tertutup dan tidak mau memberi keterangan. Sekarang pasien masih mendapat perawtan di ruang IGD. Tapi besok akan saya cek, dan melihat kondisinya,"ujarnya

Nurmadi Mencurigai Kematian Istrinya


Medan - Suami korban Nurmadi (53) mengatakan dirinya tidak percaya dan menganggap kematian istrinya Suyatni sangat tidak wajar. Pasalnya kalau korban kebakaran, kenapa lidah dan gusi Suyatni ikut terbakar.

"Saya mencurigai atas meninggalnya istri saya. Memang saya tahu kalau istri saya meninggal karena kebakaran angkot yang ditumpanginya. Namun kenapa lidah dan gusinya ikut terbakar. Padahal kalau terbakar biasanya hanya bagian kulit luar. Ini sampai lidahnya pun ikut terbakar," katanya. Jumat (18/2)

Ditanya mengenai apakah dirinya pernah bermimpi atau mengalami kejadian yang aneh sebelum Suyatni meninggal, Nurmadi mengatakan dirinya tidak pernah mengalami hal buruk ataupun bermimpi. Namun sambungnya, Minggu (13/2) Suyatni (korban) mengendarai sepeda motor dan kendaraan yang digunakannya rem belakangnya putus. "Saya tidak pernah mimpi, tapi minggu (13/2) kemarin rem kereta istri saya tiba-tiba putus dan setelah kejadian itu, saya memperingatkan istri saya untuk berhati-hati," terangnya.

Ditanya mengenai kronologis kejadian sebelum Suyatni terbakar, Nurmadi menjelaskan sebelum kejadian, istri saya pergi mengendarai kereta itu sekitar pukul 12.00 Wib dan sesampainya diaksara, kereta yang dikendarai Suyatni disimpan diaksara setelah itu jumpa sama supir angkot 53 dan Suyatni menaiki ankot tersebut. Namun sesampainya di simpang pahlawan Jalan Serdang, angkot yang ditumpanginya terbakar.

"Saya sempat sms istri saya sekitar jam 13.00 wib namun belum ada jawaban. Setelah itu saya dapat telp dari tetangga saya dan memberitahu bahwa istri saya kecelakaan dan sudah dibawa ke piorngadi," terangnya seraya mendapat kabar tersebut, dirinya langsung menuju RSU Pirngadi Medan.

Masih dikatakan Nurmadi, setelah saya sampai di Pirngadi, satpam menghampiri saya dan menanyakan apakah saya suaminya dan saya bilang ia saya suaminya. Satpam tersebut mengatakan kepada saya kalau dompet dan jam istri saya ada sama supir angkot tersebut. "Saya langsung mengambil dompet dan jam milik istri saya," ujarnya seraya menjelaskan pada saat itu sebelum operasi, Suyatni masih bisa berbicara dan mengatakan kalau STNK dan kunci kereta ada sama sopir angkot tersebut.

"Saya curiga atas kematian istri saya, kenapa STNK dan kunci kereta bisa sama supir angkot itu," ungkapnya saat dijumpai dikediamannya Jalan Jermal 5 No 5 ini.

Masih dikatakan Nurmadi, setelah kejadian saya bertanya sama Suyatni, kenapa hal ini bisa terjadi, dan Suyatni mengatakan sudahlah bang, jangan dipermasalahkan, yang penting uruslah saya dan jangan lupa urus juga surat untuk medan sehat kata Nurmadi memperagakan ucapan istri tercintanya.

Suyatni meninggalkan 3 orang anak, Nuriana Sesi (25), Suheriaty (22), Andryanto (15). Nurmadi berharap agar Sopir angkot tersebut bisa ditahan selamanya oleh pihak kepolisian. (Akb)

Suyatni Meninggal, Humas Pirngadi Tidak Tahu, Ruang Informasi Tidak Ada Pegawai

Medan - Kabag Humas RSU Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin tidak mengetahui Suyatni pasien luka bakar yang menjadi korban akibat peristiwa angkutan kota (angkot) 53 meninggal dunia Kamis (17/2) kemarin sekitar pukul 05.00 Wib.

Menurut pantauan Tribun Kamis (17/2) sekitar pukul 15.00 wib, ruang informasi RSU Pirngadi Medan tidak ada pegawai yang stay disitu untuk melayani masyarakat. Jumat (18/2)

"Saya tidak tahu apakah Suyatni sudah meninggal atau tidak, coba chek ke ruang informasi, masih ada bawahan saya disana," kata Edison saat dihubungi melalui selularnya Kamis (17/2) kemarin seraya mengatakan kalau dirinya masih mendapat informasi kalau Suyatni masih mendapat perawatan di ICU pasca operasi untuk membersihkan luka bakar yang ada disekujur tubuhnya.

Dari kejadian ini, bisa disimpulkan kalau Humas RSU Pirngadi sepertinya tidak difungsikan sebagai mestinya Humas disetiap instansi. Menurut informasi yang dihimpun Tribun, Humas Pirngadi banyak tidak mengetahui kejadian dan perkembangan yang berada di seputaran rumah sakit milik Pemko Medan ini. Sementara itu, saat wartawan Tribun mencoba mengkonfirmasi tentang kesehatan Suyatni, Humas Pirngadi mengarahkan agar mencari data di informasi.

"Saya sudah tidak berada diruang kerja saya, tapi coba tanya ke ruang informasi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut," katanya. Setelah mendapat arahan dari Humas, wartawan Tribun langsung ke Ruang Informasi, dan ternyata diruang informasi RSU Pirngadi Medan tidak ada pegawai yang berada disitu melainkan hanya dijaga sama security.

Sementara itu, saat wartawan mencoba menanyakan pasien bernama Suyatni warga Jalan Jermal V Kecamatan Medan Johor diruang informasi, security yang berada disitu menginput nama Suyatni dan keluar data tentang Suyatni menerangkan bahwa pasien bernama Suyatni masih diruang ICU dan menjalani perawatan. Pertanyaan itu dilontarkan Kamis (17/2) sekitar pukul 15.00 wib (Akb)

Penyakit Kanker Mendominasi di Sumut


Medan - Kepala Program Studi Departemen Patologi Anatomi Universitas Sumatera Utara, dr H Delyuzar SpPA(K) mengatakan penyakit kanker rahim ditemukan paling banyak di Sumut dibanding jenis kanker lainnya.

"Namun sayangnya, gejala penyakit mematikan ini tidak dapat diketahui," katanya seraya menerangkan, faktor kanker leher rahim ini, bisa dipicu oleh virus Human Paviloma Virus (HPV) yang dapat memicu kanker leher rahim dimana bisa diakibatkan dari hubungan seksual. Jumat (18/2)

Dikatakannya, selain kanker leher rahim, jenis lainnya disusul kanker payudara, kanker kolon (usus), kanker testis dan kanker nasoparing dimana semua jenis kanker ini, paling rentan menyerang manusia pada usia 40 tahun. Bahkan sejauh ini, sambungnya penyakit kanker ini paling banyak ditemukan pada perempuan.

Selanjutnya, kanker payudara disebabkan karena tidak seimbangnya hormon estrogen yang bekerja. Selain itu ada faktor pencetus lainnya, seperti zat-zat kimia tertentu. Kemudian kanker hati dapat disebabkan karena ada hubungannya dengan hepatitis B. Sedangkan kanker kulit dapat disebabkan oleh sinar ultraviolet yang kontak langsung dengan kulit. "Tidak hanya itu, kanker ini juga dapat disebabkan genetika (turunan)," ujarnya.

Dirincikannya, di Sumut untuk jenis kanker yang mendominasi perempuan dengan jenis kanker rahim dan kanker payudara. Sedangkan pada laki-laki jenis kanker paru, kanker nasoparing, kanker testis, kanker lokon (usus).

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr. Chandra Syafei SpOG melalui Kepala Seksi Wabah dan Bencana Dinas Kesehatan Sumut, Suhadi, mengatakan, berdasarkan 2007 hingga 2010, sebanyak 50782 orang sampel untuk diperiksa terhadap kemungkinan terkena kanker leher rahim ini. Namun, dari jumlah tersebut hanya, 18010 orang saja yang bersedia melakukan pemeriksaan di delapan kabupaten/kota masing-masing di Binjai, Medan, Sibolga, Padang Sidimpuan, Tebing Tinggi, Langkat dan Serdang Bedagai.

Dikatakannya, kemudian berdasarkan hasil periksaan terhadap 18010 orang yang diperiksa, ditemukan 145 warga yang positif. Namun yang bersedia dilakukan pengobatan hanya 88 orang. Kondisi ini sambungnya, menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit kanker.

"Salah satu contohnya, di Serdang Bedagai, dari 20 warga yang positif terjangkit kanker leher rahim, hanya tiga bersedia diobati," terangnya seraya menjelaskan di Sibolga, dari 31 warga yang positif, tidak ada satupun yang bersedia diobati. Padahal, jika pengobatan secara dini dilakukan akan memberi peluang sembuh semakin besar.

Masih dr Delyuzar menilai, minimnya warga yang berobat disebabkan, kurangnya sosialisasi terhadap penyakit yang mematikan ini. (Akb)

BBPOM Menemukan Empat Zat Berbahaya dari Minuman Ringan


Medan - Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi BPOM Sumut, Sacramento mengatakan pihaknya telah memeriksa minuman ringan yang menewaskan Dachi bocah berusia 7 tahun. "Empat zat kimia kita temukan pada minuman ringan buahvita yang diduga menjadi penyebab meninggalnya seorang bocah bernama Salefina Natalia Dachi diperiksa di laboratorium pihak Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM)," katanya. Kamis (17/2)

Dikatakannya, keempat zat kimia itu yakni, Logam Berat, Sianida, Rosen dan Nitrit."Keempat zat itu diperiksa karena menurut analisis ada gejala dugaan keracunan zat berbahaya itu," bebernya.

Dikatakannya, selain menguji isi dari minuman ringan tersebut, pihaknya juga memeriksa kemasan minuman ringan tersebut. "kita ambil semua untuk pengujian bersama dan memastikan apakah ada temuan disuatu tempat atau tempat tertentu atau sama sekali tidak ada,” katanya.

Dikatakan Sacramento, pemeriksaan itu sebenarnya akan siap dalam sehari, namun sejauh ini setelah dievaluasi belum ada ditemui tanda-tanda yang mengandung zat berbahaya dalam minuman ringan tersebut.

“Memang hasil kordinasi dari dokter, anak yang meninggal itu sudah mulai muntah-muntah dari rumah, ditempat perawatan pun masih muntah-muntah. kata dokter dan kata pasien yang datang, gejalanya seperti keracunan. Tapi, sejauh ini belum ada kita temui zat berbahaya didalam minuman ringan itu,”ujarnya.

Sacramento menambahkan, pihaknya akan terus berkordinasi dengan instansi terkait untuk mencari masalah dan kearah mana penyebab kematian Dachi, sehingga bisa memfokuskan program pencegahan kedepannya. “Tetap kita kordinasikan ke Dinkes, supaya datanya melengkapi. Terutama soal pengawasan IRT di Medan. Sebab, selama ini pembinaan IRT dalam mengolah produk masih lemah,” pungkasnya.

Sementara itu menurut Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen(LAPK), Farid Wajdi mengatakan terkait masalah ini, Dinkes Medan dan BBPOM harus mengevaluasi terhadap kebijakan regulasi dan makanan anak dimana hal tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tidak punya rumah makanan aman dan sehat.

Dikatakannya, Begitu banyak terjadi kasus dimana anak-anak sebagai korban paling rentan. Lebih parah lagi, banyak ditemukan sarana produksi dan distribusi makanan anak yang tidak memenuhi persyaratan itu berasal dari industri kecil/rumah tangga, industri jasa boga dan penjual makanan jajanan menengah ke bawah. Maka dari itu sambungnya, perlu memperkuat pemahaman betapa pentingnya melindungi anak dari potensi korban keracunan makanan. Edukasi makanan sehat bagi anak adalah pilihan segera dan itu harusnya dimulai dari meja makan setiap rumah tangga.

Setiap keluarga perlu dibekali pula informasi dan pengetahuan memadai terkait dengan makanan sehat untuk anak. "Tak kalah penting pula adalah mengajak kesadaran para pedagang agar lebih selektif menjual dan memperdagangkan makanan sehat lebih khususnya dengan anak-anak sebagai konsumennya," bebernya seraya mengatakan Tugas moral dan sosial itu penting untuk didesak mengingat anak-anak merupakan aset yang harus dilindungi.

"Dosa terbesar orang tua, keluarga dan negara adalah ketika membiarkan anak-anak memilih sendiri makanan, padahal mereka ternyata merupakan korban eksploitasi makanan tak layak konsumsi tersebut," katanya lagi. (Akb)

Suyatni Masih di Ruang ICU


Medan - Suyatni (45), warga Jalan Jermal V Kecamatan Medan Johor yang menjadi korban saat menumpangi angkutan kota (angkot) 53 sekarang masih mendapat perawatan intensif diruang ICU RSU Pirngadi Medan.

Suyatni yang mengalami luka bakar sekitar 50 persen sudah menjalani tahap operasi untuk membersihkan luka bakar yang dideritanya. Menurut Kabag Humas RSU Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin mengatakan Suyatni sekarang masih dirawat diruang ICU yang berada dilantai IV RSU Pirngadi Medan. "Suyatni masih menjalani perawata di ICU pasca operasi," katanya seraya menjelaskan kalau kondisi Suyatni sekarang masih dalam fase pemulihan. Kamis (17/2)

Sementara itu, pihak keluarga yang menjaga Suyatni tetap tidak mau memberi komentar tentang keadaan Suyatni. Sebelumnya, akibat peristiwa ini, Suyatni mengalami luka bakar 50 persen bagian tubuh korban ini mengalami luka bakar pada bagian wajah hingga dada, lutut sampai kaki. Pasien ini harus menjalani perawatan intensif. (Akb)

TKW Tewas di Rumah Kos Kekasihnya

Medan - Warga Desa Dolok Matubur Kecamatan Maura Tapanuli Utara, Alinska Raja Gukguk (28) tewas tergantung dikamar kos kekasihnya yang berada H2-2 Taman Desa Idaman di Johor Baru Malaysia pada (13/2).

Sementara keberada kekasih Alinska yang merupakan warga Miyanmar belum diketahui indentitas oleh pihak kepolisian Diraja Malaysia. Alinska yang merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Sumut bekerja di Kilang Elektronik dinegara tetangga Johor Malaysia.

Menurut informasi yang dihimpun hasil visum yang dilakukan Hopistal Temenggong Maharaja Tun Ibrahim sekaligus Salinan keterangan dari Pihak Kepolisian Diraja Malaysia Anliska Raja Gukguk pada (14/2) menunjukkan hasil visum tersebut bahwa TKW asal Tapanuli Utara Meninggal Gantung Diri.

Selanjutnya Jenazah dibawa ke Sumut untuk dikembalikan kepada keluarga duka yang didampingi oleh adik Alinska, Sarma Raja Gupgup. Jenazah Anliska tiba di Terminal Cargo Bandara Polinia Medan Kamis (17/2) Pukul 09.00 WIB dari Kuala Lumpur Malaysia menumpangi pesawat Malaysia Air Lines (MAS) MH 860.

Setelah itu, pihak keluarga membawa jenazah Alinska ke RSU Pirngadi Medan guna diotopsi kembali. Jenazah Alinska tiba di RSU Pirngadi Medan sekitar pukul 11.00 WIB didamping BP3TKI Sumut, Pihak Kepolisian Medan Baru, Depnaker, PJTKI Sansan Yonsindo dari Batam dan Staff Konsulat Jendral Malaysia Medan.

Saat jenazah di RSU Pirngadi pihak keluarga tidak mengizinkan jenazah Alinska untuk diotopsi kembali. Jenazah hanya dibersihkan setelah itu jenazah pada pukul 14.00 WIB dari RSU Pirngadi Medan langsung dibawa keluarga kekediamannya di Tapanuli Utara. Sarma Raja Gukguk Adik korban mengatakan kakak Alinska akhir januari 2011 habis kontraknya dan kakak rencana mau pulang Tapanuli Utata.

Tetapi pada tanggal (13/2) dirinya mendapatkan kabar bahwa Anliska sudah meninggal. "Anliska menjadi TKW di Malaysia Melalui PJTKI Sansan Yosindo Batam pada tahun 2008. pada akhir januari 2011 kontrak berakhir dengan perusahaan tempat Anliska bekerja," kata Syawalluddin Simamora Staff Tata usaha BP3TKI Sumut.

Dikatakannya, BP3TKI Sumut sudah berkordasi dengan Konjen RI di Johor Baru Malaysia untuk pemulangan jenazah, sementara hasil visum yang dilakukan rumah sakit setempat dan pihak kepolisan diraja malaysia bahwa Alinska meninggal gatung diri dikamar kos kekasihnya.

"Semetara pihak kepolisian Diraja Malaysia mencoba mencari kekasih korban (Alinski) untuk dimintai keterangan,” ujarnya. Sementara Staff Konjen Malaysia, Novel mendampingi jenazah di RSU Pirngadi dan membenarkan bahwa Alinska meninggal gantung diri dii kamar kos kekasihnya dan sementara kasus ini lagi diproses pihak Kepolisian Diraja Malaysia. (Akb)

Esia Melakukan Kegiatan Donor Darah


Medan - Dalam merayakan Ulang tahun Bakrie yang ke 69, Esia membuat kegiatan donor darah dimana ini bertujuan untuk berbagi kesehatan kepada masyarakat. "Acara donor darah ini sudah kita lakukan dua kali selama dua tahun dan ini kita lakukan untuk merayakan hari lahirnya Bakrie," kata Ketua Panitia sekaligus Tim Marketing Esia, Noval Helmy. Kamis (17/2)

Dikatakannya, acara ini dilakukan serentak di Sumatera Utara seperti Medan, Padang, Pekan Baru, Palembang dan Lampung. Dimana, sambungnya dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakukan tergantung dari daerah masing-masing.

"Acara ini bertujuan untuk membagi kegembiraan kita kepada masyarakat dengan berbagi kesehatan dan pasti acara donor darah yang bekerjasama dengan PMI akan berkelanjutan dan setiap tahun akan kita lakukan," paparnya.

Menurut dokter dari PMI, dr Indah mengatakan dalam donor darah di Esia Jalan Monginsidi menghasilkan 21 kantong darah dimana satu kantong terdapat 300 cc dari 350 cc. "50 cc itu merupakan anti pembeku darah," ujarnya.

Terpisah, Sekretaris PMI Kota Medan, Susyanto mengatakan sampai saat ini stok darah untuk Kota Medan masih aman. Hal ini dikarenakan karena setiap minggunya kita sudah membuat program safari setiap hari jumat untuk melakukan donor darah.

Dikatakannya, kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini dalam bentuk kepedulian dan atas dasar kemanusiaan. "Hal ini sangat membantu Unit Donor Darah (UDD) karena Kota Medan sangat membutuhkan darah," katanya.

Masih dikatakan Susyanto, dalam kegiatan ini, semua staf Esia yang bekerja di Kantor Esia Jalan Monginsidi turut adil dalam kegiatan donor darah ini. Setiap Jumat, sambungnya, PMI sudah membuat safari untuk donor darah dimana itu dilakukan secara rutin. "Safari donor darah ini, bertujuan untuk mengantisipasi kekurangan darah di Kota Medan dimana untuk Medan sendiri, perharinya membutuhkan 100 kantong darah," katanya lagi. (Akb)

Esia Melakukan Kegiatan Donor Darah

Medan - Dalam merayakan Ulang tahun Bakrie yang ke 69, Esia membuat kegiatan donor darah dimana ini bertujuan untuk berbagi kesehatan kepada masyarakat. "Acara donor darah ini sudah kita lakukan dua kali selama dua tahun dan ini kita lakukan untuk merayakan hari lahirnya Bakrie," kata Ketua Panitia sekaligus Tim Marketing Esia, Noval Helmy. Kamis (17/2)

Dikatakannya, acara ini dilakukan serentak di Sumatera Utara seperti Medan, Padang, Pekan Baru, Palembang dan Lampung. Dimana, sambungnya dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakukan tergantung dari daerah masing-masing.

"Acara ini bertujuan untuk membagi kegembiraan kita kepada masyarakat dengan berbagi kesehatan dan pasti acara donor darah yang bekerjasama dengan PMI akan berkelanjutan dan setiap tahun akan kita lakukan," paparnya.

Menurut dokter dari PMI, dr Indah mengatakan dalam donor darah di Esia Jalan Monginsidi menghasilkan 21 kantong darah dimana satu kantong terdapat 300 cc dari 350 cc. "50 cc itu merupakan anti pembeku darah," ujarnya.

Terpisah, Sekretaris PMI Kota Medan, Susyanto mengatakan sampai saat ini stok darah untuk Kota Medan masih aman. Hal ini dikarenakan karena setiap minggunya kita sudah membuat program safari setiap hari jumat untuk melakukan donor darah.

Dikatakannya, kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini dalam bentuk kepedulian dan atas dasar kemanusiaan. "Hal ini sangat membantu Unit Donor Darah (UDD) karena Kota Medan sangat membutuhkan darah," katanya.

Masih dikatakan Susyanto, dalam kegiatan ini, semua staf Esia yang bekerja di Kantor Esia Jalan Monginsidi turut adil dalam kegiatan donor darah ini. Setiap Jumat, sambungnya, PMI sudah membuat safari untuk donor darah dimana itu dilakukan secara rutin. "Safari donor darah ini, bertujuan untuk mengantisipasi kekurangan darah di Kota Medan dimana untuk Medan sendiri, perharinya membutuhkan 100 kantong darah," katanya lagi. (Akb)

Motor CB, Iconnya Kota Pakam


Lubuk Pakam - Pendiri HONDA CB Bikers Club (HCBC) Deli Serdang, Rakhmadin Zulfikar, Bermarkas di Jalan Perintis Kemerdekaan (Ahmad Yani), Kelurahan Paluh Kemiri, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, bertekad untuk menciptakan klub Honda CB ini bermasyarakat dan memiliki nilai tersendiri. Hal ini terbukti, sejak terbentuknya komunitas HCBC pada 30 Juni 2004 sampai sekarang, Kota Lubuk Pakam dikenal dengan ikon Honda CB.

Madin Mendai sapaan pria pendiri HCBC ini menyambut hangat dan menceritakan kisah berdirinya komunitas ini. “Awalnya, tersirat dari hati saya untuk menciptakan motor sekelas Eropa. Namun, untuk masyarakat di Sumatera Utara (Sumut), secara kemauan dan keinginan itu ada. Akan tetapi, dilihat dari segi financial tidak ternyata tidak mendukung. Akhirnya, saya mengalihkannya ke Honda CB yang mirip dengan motor keluaran Eropa. Dimana saya menilai Honda CB ada nilai klasik tersendiri,” kata pendiri HCBC Deli Serdang sekaligus menjabat sebagai ketua. Selasa (15/2)

Diterangkannya, di usia tua, sepedamotor ini tetap nyaman untuk dikendarai dan terlihat tangguh di jalanan. Honda CB 125 atau atau Honda CB 100 K1 produksi tahun 70-an, ternyata masih banyak digemari oleh anak-anak muda dimana saat sekarang ini banyak disodori produk-produk sepedamotor mutakhir.

“Sejak tahun 2001, komunitas ini sudah ada dan hanya beranggotakan empat orang saja. Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas ini semakin bertambah banyak dan ada sekitar 15 anggota waktu itu. Tepat tanggal 30 Juni 2004, kita meresmikan komunitas ini hingga sekarang tetap eksis,” terangnya.

Bahkan, sambung Madin, dengan adanya komunitas ini, Lubuk Pakam yang dulunya tidak tahu menahu soal sepedamotor, kini sudah mengetahui apa arti dan nilai klasik dan dari sebuah motor tua. Hal ini terbukti dengan banyaknya ditemukkan pengguna sepedamotor tua ini di Kota Pakam.

“Sekarang ini anggota kita sudah mencapai 65 orang. Di luar dari pada komunitas kita ini, masih banyak pengguna sepedamotor Honda CB lainnya. Kira-kira, sama persis dengan jumlah komunitas kita saat ini,” tandasnya.

Tidak hanya itu, Honda CB yang dulunya dapat dibeli dengan harga Rp 350ribu - 500ribu, kini sudah tinggi. “Kita sering melakukan touring ke luar kota. Pokoknya, seluruh Sumatera Utara sudah habis kita jelajahi. Kalau biasanya, orang touring melalui jalan lintas, kalau kita memilih melewati perkampungan dan jalan yang terjal. Suatu hari, saat kita menjalani perkampungan, kita melihat ada Honda CB milik warga yang dipakai untuk menggalas pisang. Saat keesokannya kita balik lagi dan menawar Honda tersebut, pemiliknya menjelaskan, sepedamotor dijual dengan harga Rp 2 juta dan tidak bisa kurang,” paparnya.

Dikatakan Madin, selain usianya yang sudah tua, tampilan Honda CB ini memang terbilang sangat klasik dibandingkan dengan Honda tua lainnya. “ Saat ini juga sudah banyak yang mengincar Honda CB, mereka mencarinya karena ingin mengenang kembali ketika masih muda dengan mengendarai motor ini di jalanan. Motor ini tetap tangguh dibandingkan dengan motor tua lainnya, karena saat dikendarai sangat enak baik di jalan datar maupun terjal,” bebernya.

Setelah berdirinya HCBC ini, Madin dan kawan-kawan pun punya kegiatan lain selain sekadar jalan-jalan. Klub ini didirikan juga bertujuan membina persaudaraan yang erat serta menjalin kebersamaan satu dengan yang lain. Juga untuk membentuk kepribadian yang mandiri dan saling tolong menolong terhadap teman satu klub maupun orang lain yang membutuhkan pertolongan.

“Ini jelas terbukti, suka duka pasti kita jumpai saat melakukan touring ke pelosok-pelosok. Misal, terperangkap banjir, mogok dan kondisi lainnya pernah kita alami. Namun dengan adanya komunitas ini, rasanya suka duka itu hilang. Ada saja yang membantu. Disitulah terlihat rasa kekeluargaan. Bahkan saat ngumpul seperti biasa, kalau ada anggota yang tidak hadir, kita pasti kecarian. Begitulah rasa kekeluargaan di komunitas kita ini,” ungkapnya.

Ditanya mengenai apa saja kegiatan dari HCBC, Madin memaparkan, kegiatan klub GCBC ini, Tidak hanya touring, melainkan berbagai kegiatan positif pun dilakukan oleh HCBC Deli Serdang ini, misalnya, dimulai dari bakti sosial dan kegiatan lainnya, Menyantuni anak yatim dalam rangka HUT ke-5 HCBC. Tanggal 20 dan 21 Juni 2009 lalu. Dimana pihaknya melakukan touring ke Tugu perjuangan di daerah Tiga Juhar, Kelurahan STM Hulu, Desa Rumah Liang, Kabupaten Deli Serdang. Di sana kita melakukan renovasi, karena Tugu Perjuangan tersebut merupakan tempat sejarah yang terlupakan,”ungkapnya.

Dijelaskannya, April 2011 mendatang, HCBC Deli Serdang akan melakukan kegiatan bakti social lainnya dengan melakukan fogging (pengasapan) yang bertujuan untuk pemberantasan sarang nyamuk di Labuhan Batu. “17 Agustus mendatang, kita juga merencanakan melakukan touring di tiik O Indonesia yakni di Sabang. Komunitas lainnya yang berada di luar pulau Sumatera sudah melakukan hal ini. Kita yang di Pulau Sumatera saja belum melakukannya, jadi kita pun merencanakan touring ini ke Sabang,” ujarnya.

Harapan Madin mengajak seluruh masyarakat di Sumatera Utara (Sumut) pecinta Honda CB untuk menyatukan diri dan bergabung dalam komunitas Honda klasik ini. “Saat ini HCBC tidak hanya bisa dijumpai di Lubuk Pakam saja, melainkan bisa dijumpai seperti Tanjung Morawa, Galang, Marelan dan Perbaungan, kita sudah membuka cabang di daerah tersebut. Siapa pun yang mengaku sebagai pecinta Honda CB, bisa bergabung dan mendaftarkan diri di tempat yang sudah kita terangkan di awal tadi,” katanya lagi. (Akb)

Belum Ada Laporan Khusus Penyakit yang ditimbulkan dari Sarang Walet


Medan - Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi mengatakan tidak ada laporan penyakit khusus yang diterima Dinkes diakibatkan dari sarang walet. "Kita tidak ada menerima laporan khusus terhadap penyakit yang ditimbulkan oleh sarang burung walet," katanya saat dihubungi melalui selularnya. Selasa (15/2)

Dikatakannya, tidak ada penyakit yang ditimbulkan akibat berdirinya sarang burung walet, dimana sampai saat ini tidak adanya laporan khusus untuk penyakit yang diakibatkan sarang walet. "Artinya, dalam laporan, tidak ada kita temukan penyakit yang diakibatkan sarang walet. Misal, kalau penyakit DBD dikarenakan ada air tergenang setelah beberapa minggu sehingga bisa menimbulkan jentik nyamuk," terangnya.

Dampak penyakit dari sarang walet yang berada di Kota Medan, Edwin memaparkan belum ada laporan, kalaupun ada laporan penyakit yang diakibatkan sarang burung walet, pihaknya akan langsung mendatangi dan mencari tahu penyebab penyakit yang timbul diakibatkan sarang walet ini. "Kalau ada kita temukan dan laporan khusus terhadap penyakit yang ditimbulkan sarang walet, kita akan langsung turun dan akan kita cari penyakit itu tersebar dari mana," ujar Edwin.

Ditanya mengenai berpotensi penyakit apa yang diakibatkan sarang walet, Edwin memaparkan, kalau berpotensi dirinya belum mengetahui penyakit apa yang berpotensi yang diakibatkan sarang walet, namun sambungnya, kalau kemungkinan penyakit yang ditimbulkan pasti ada, tapi sampai sekarang belum ada laporan khusus yang datang ke Dinkes. "Belum ada laporan dari rumah sakit dan balai kesehatan tentang penyakit yang diakibatkan sarang walet," paparnya.

Sementara itu menurut penjaga sarang walet di Jalan Mandala By Pass, Yuni mengatakan tidak pernah dirinya dan keluarganya sakit diakibatkan sarang burung walet. "Kami tidak pernah sakit dikarenakan kami tinggal dan menjaga sarang walet, kalaupun sakit, paling cuma sakit biasa seperti demam dan itu diakibatkan perubahan cuaca yang tidak menentu bukan dikarenakan sarang walet," katanya seraya mengatakan dirinya tidak pernah masuk ke sarang walet tersebut. (Akb)

Ranperda HIV Belum Jelas

Medan - Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) inisiatif DPRD Kota Medan tentang HIV/AIDS belum jelas. Pasalnya belum juga masuk dalam pembahasan, meski sudah mendapat dukungan dari sejumlah kalangan.

Menurut Anggota Komisi B DPRD Medan, Salman Al Farisi mengatakan, Ranperda tentang HIV/AIDS hingga kini masih dalam pengajuan. Dijadwalkan, tanggal 21-22 Februari 2011 mendatang akan dibentuk Tim Pansus.

“Semoga berjalan sesuai jadwal. Kalau pun meleset, ya kita harapkan tidak terlalu jauh, sebisa mungkin secepatnya kita menetapkan Perda tentang HIV/AIDS,” katanya saat dihubungi melalui selularnya. Selasa (15/2)

Dikatakan Salman, saat ini, Ranperda tersebut sedang dalam proses pegajuan, dimana DPRD Medan belum membahasnya karena masih terganjal beberapa Ranperda lain yang dinilai lebih prioritas. "Dalam hal penetapan Ranperda, DPRD Medan lebih kearah Perda yang diprioritaskan," katanya seraya mengatakan Ranperda yang diprioritaskan Seperti Ranperda Pajak Daerah dan Ranperda RTRW.

“Memang Ranperda masalah HIV/AIDS sangat mendesak, tapi Ranperda lain seperti Pajak Daerah lebih kita prioritaskan karena berkaitan dengan PAD dan agar lebih memudahkan masyarakat,” bebernya.

Salman menjelaskan, Ranperda yang merupakan inisiatif anggota dewan, termasuk dirinya, akan fokus pada dua hal yakni, penanggulangan dan pencegahan. Terutama pencegahan terhadap seks bebas dan jarum suntik yang merupakan dua penyebab terbesar penyebaran virus yang mematikan ini.

“Sosialisasi kita serahkan pada pemko. Nantinya dalam Ranperda akan dibahas diantaranya bagaimana mempersempit ruang lingkup seks bebas, dimana nantinya Akan dilakukan pembahasan lebih dalam agar ada perubahan yang signifikan dalam pencegahan HIV/AIDS ini,” ungkapnya

Terkait masalah ini, Ketua LSM Medan Plus, Eban Tontota Kaban berpendapat, seharusnya didalam Perda itu nantinya bisa mengakomodir semua, tidak hanya pencegahannya saja melainkan harus ada aturan bagi yang sudah terinfeksi dimana mereka harus dilindungi, sehingga tidak berat sebelah. Selain itu, perlu ada penanganan khusus untuk tempat-tempat lokalisasi yang legal.

“Kalau Medan mau jadi pioneer perlu pembahasan lintas sektor, karena dibalik legalitas saya pikir perlu dkaji ulang. Harus dilihat, siapa yang paling diuntungkan. Kalau itu berdampak pada masyarakat luas, itu perlu dikaji ulang. Tapi kalau yang dirugikan PSK, pemerintah harus punya kebijakan, tidak hanya berpihak pada segelintir orang. Kalau porstitusi dibiarkan seperti ini sebenarnya yang paling dirugikan PSK,”katanya.

Eban menilai, pada prinsipnya perlu ada aturan tertulis sebagai acuan untuk program penanggulangan dan pencegahan HIV/AIDS, terutama masyarakat yang terinfeksi juga harus dilindungi. Namun yang terpenting adalah perhatian dari pemerintah.

“Kalau ada aturan, tapi tak ada perhatian dari pemerintah itu sama saja. Masalah yang kecil saja misalnya, kantor tidak diperhatikan. Seperti yang kita ketahui, KPA saja belum punya kantor. Belum lagi kalau ada pertemuan-pertemuan, jarang pimpinan instansi yang menghadiri undangan. Jadi, yang terpenting adalah perhatian pemerintah walau Perda itu ada,” terangnya.

Hal yang sama dikatakan oleh Sekretaris yang juga Ketua Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Ahmad Raja Nasution mengatakan, memang dalam hal ini diperlukan sebuah aturan yang lebih mengarah dan mengutamakan pencegahan disamping pengobatan.

“Kita harapkan Ranperda HIV yang dibahas oleh DPRD Medan di Komisi B lebih kepada pencegahan disamping pengobatan,” katanya.

Dijelaskannya, direncanakan setelah pembahasan Ranperda HIV oleh Komisi B nantinya, KPA Medan selanjutnya akan melaksanakan workshop dengan mengundang stakeholder, LSM dan pemerhati HIV/AIDS lainnya yang berkompeten dalam membahas masalah tersebut.

Masih Ahmad, kasus HIV bila dilihat dari satu sisi mengalami peningkatan dimana dari kasus tersebut bisa diibaratkan fenomena gunung es yang sedikit kelihatan namun sudah banyak terdapat kasus HIV/AIDS, dimana itu dikarenakan masyarakat tidak mau memeriksakan dirinya.

Sebelumnya, dari estimasi Orang Dengan HIV/AIDS ( ODHA) di Sumut sebesar 7059 orang dan yang sudah ditemukan hingga Desember 2010 sebanyak 2616. Dengan faktor resiko terbesar Heteroseksual (seks bebas) dan Narkoba Suntik (IDUs/Intra Drugs User). (Akb)

Dinkes Medan dan BBPOM Membentuk 3 Tim Untuk Memeriksa Makanan dan Minuman Berbahaya

Medan - Minuman Ringan yang dijual di pasaran dengan harga Rp500, menewaskan Safeli Natalia Dachi yang berusia 7 tahun warga Jalan Menteng Medan setelah mengkonsumsi minuman tersebut, sedangkan Dea Indri (7) dan Andre (7) yang juga ikut menjadi korban minuman tersebut. Mengenai keracunan diakibat minuman ringan ini yang menelan korban." Oleh karena itu, Dinas Kesahatan Kota Medan menurunkan tim yang berkordinasi dengan BBPOM kota Medan untuk menelusuri sekaligus menyelediki komposisi minum ringan yang dikonsumsi Safeli," kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi.

Ditanya mengenai apakah minuman ringan terdaftar di DEPKES, Edwin Mengatakan minuman tersebut terdaftar DEPKES tetapi dirinya tidak tahu apa nama minuman ringan ini dikarenakan produk minuman ringgan banyak terdaftar di DEPKES.

"Jadi Kita lihat hasil dari tim yang sudah saya bentuk dalam menangani peristiwa ini, dimana nantinya dari tim yang dibentuk akan berkordinasi langsung dengan BBPOM dan BBPOM akan menguji komposisi minuman ringan ini diLabotorium BBPOM,” terangnya. Rabu (16/2)

Ditanya mengenai peristiwa minuman ringan yang sudah menelan korban adanya pengawasan dan razia yang dilakukan yang tidak terdaftar DEP KES, Edwin menjelaskan dengan adanya kejadian seperti ini, pihaknya terus mengawasi peredaran minuman yang terdapat dipasaran dengan jangka berskala dan pihaknya mengharapkan kepada penjual minuman ringan akan lebih cerdik untuk menjual minuman ringan yang mereka ambil dari produsen, mungkin terjadi pada kemasan yang rusak atau kemasan yang bocor sehingga membuat bakteri mudah masuk kedalam minuman ringan dan pihaknya juga berharap kepada produsen minuman ringgan agar lebih menjaga kebersihan serta kemasan minuman ringgan dari yang dijual dipasaran.

Menurut informasi yang dihimpun Tribun, minuman Ringan yang menewaskan Dachi masih dijual bebas dipasar dan di toko-toko yang menjual makanan dan minuman ringan dimana menjadi konsumsi terfavorit bagi kalangan anak-anak.

Minuman ringan yang bermerek Buavanta Merah yang diproduksi Omama Opapa Food, terlihat dari kemasannya tertutup rapi serta dikemasan minuman ringan tersebut tercantum DEPKES dengan komposisi minuman, tetapi yang mengherankan tidak adanya tercantun masa kadarluasa dari minuman ringan keluaran produksi Omama Opapa Food.

Terkait masalah ini, Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi Konsumen BBPOM, Sacramento mengatakan, mengetahui adanya korban yang diakibatkan minuman ringan, BBPOM langsung menurunkan 6 orang terbagi dalam 3 tim kelapangan untuk mengambil sample dan langsung meneliti kelaboratorium.
Ditanya mengenai kemungkinan penyebab meninggalnya korban diduga setelah minuman ringan, Sacramento mengatakan belum dapat dipastikan apa penyebab meninggalnya bocah usia 7 tahun ini. "Untuk mengetahui penyebab kematian Dachi, saya sudah berkordinasi dengan dokter yang memeriksa korban (Dachi),“ katanya seraya menjelaskan apakah ada penyakit koban yang sudah lama diderita. Kalaupun ada, sambungnya, kemungkinan ada pengaruh dengan bahan-bahan yang termasuk didalam produksi yang dikonsumsi atau karena keracunan produk itu sendiri.

Dijelaskannya ada dua penyebab orang keracunan makanan dan minuman, yaitu pertama dari bahan kimia dan mikrobiologi patogen dimana itu dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh dan yang kedua Zat kimia berbahaya bisa mematikan semisal logam berat dan anti serangga.

“kalau benar bocah tersebut meninggal karena minuman yang dikonsumsin, dirinya akan menyelusuri pada kemasan produksi atau kemasan ulang (oplosan) yang dilakukan orang-orang tertentu dan atau bahan kemasan yang tidak bersih.

Disinggung mengenai masih banyak ditemukannya kasus keracunan yang umumnya menimpah anak SD, Sacramento menilai perlunya ditingkatkan pembina dan pemberdayaan masyarakat produsen yang kecil terutama atau industri rumah tangga (IRT) oleh dinas kesehatan kota Medan.

Terpisah, Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) Sumut, Farid Wajdi mengatakan dirinya melihat secara mata hukum anak keracunan dari hasil medis, baru bisa diketahui anak itu keracunan atau tidak. "Kita harus mengetahui apa diagnosa dokter, apa benar bocah tersebut keracunan makanan atau tidak, kalau memang benar, kita bisa mengambil langkah," katanya.

Saat ditanya apa yang harus dilakukan terhadap pelaku usaha yang nakal terhadap produksi yang dihasilkan ternyata membahayakan konsumen, Farid menjelaskan terkait masalah ini seharusnya Dinkes dengan harius mempunyai tiga sistem pengawasan. "Pertama itu pengawasan secara Regulasi berarti pengawasan secara peraturan secara efektif dari produksi, distribusi sampai pengawasan ditangan Konsumen. Kedua pengawasan Adiministrasi seharusnya dilakukan kembali pengecekkan terhadap produk dari produsen jangan penegecekan dilakukan waktu hari besar keagamaan. Apa masayarakat mengkomsumsi diwaktu hari besar keagamaan saja atau tidak. Maunya dinkes berkordinasi dengan BBPOM setiap bulan untuk mengecek sempel makan dan minuman secara administrasi dan yang ketiga Sanksi Adiministari yang dimaksud adalah tidak ada kasus dugaan keracunan dikarenakan makanan dan minum yang terjadi, dimana selama ini belum ada kasus sampai diranah hukum yang dilakukan Dinkes Kota Medan dan BBPOM," bebernya seraya menambahkan semua permasalahan ini belum semuanya sampai penyelesaian.

Untuk itu, sambungnya, masyarakat harus lebih cerdik dan waspada terhadap makan dan minuman sebelum mengkomsumsinya. Selama ini masyarakat sangat minim pengetahuannya terhadap kesehatan, dimana masyarakat hanya tahu tentang kesehatan cuci tangan sebelum makan.

"Masyarakat tidak tahu makanan apa yang layak dikonsumsi atau tidak layak dikonsumsi terutama bagi anak-anak. Seharusnya Dinkes, BBPOM harus berkordinasi dengan dinas Pendidikan untuk memberi pengetahuan kesehatan dari tingkat TK dan SD sehingga keracunan bagi anak-anak bisa ditekan,” katanya lagi. (Akb)

Bocah 7 Tahun Meninggal Karena Keracunan

Medan - Bocah berusia 7 tahun bernama Salefina Natalia Dachi akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit Deli Jl Merbabu sekitar pukul 17.20 Wib.

Menurut informasi yang dihimpun Tribun, Dachi sebelum mendapat perawatan di rumah sakit Deli, sebelumnya dilarikan keluarga kerumah sakit Mitra Husada, rumah sakit Elisabeth. Namun karena kedua rumah sakit tersebut tidak mampu menampung Dachi karena ruang ICU dikedua rumah sakit tersebut penuh, Dachi dibawah keluarganya kerumah sakit Deli Senin (14/2) sekitar pukul 01.25 Wib dini hari.

Sesampainya Dachi dirumah sakit Deli, Dachi langsung mendapat perawatan intensif di ICU. Namun selang beberapa jam yaitu sekitar pukul 17.20 Wib, Dachi menghembuskan nafas terakhir.

Menurut bagian informasi, David mengatakan memang benar pasien bernama Salefina Natalia Dachi pernah dirawat di rumah sakit Deli. "Ia benar, pasien Natalia Dachi pernah dirawat disini. Dia masuk hari Senin (14/2) sekitar pukul 01.25 dini hari," katanya seraya mengatakan pasien bernama Dachi sudah exit hari itu juga Senin (14/2) sekitar pukul 17.20 Wib.

Pria berkulit sawo matang berambut lurus ini menerangkan kalau pasien tersebut ditangani oleh dokter Heni Sutanto dan pihaknya tidak mau memberitahu nomor kontak dokter yang menangani Dachi. "Kami tidak bisa memberi nomor kontak dokter kepada orang lain. Sama pasien saja kami tidak boleh memberitahu apalagi sama oranglain," terangnya seraya memaparkan kalau dirinya juga tidak mau memberi tahu nomor kontak dokter Dora, Humas rumah sakit Deli ini.

Sebelumnya, Dachi meninggal karena keracunan minumam instant omama opapa. (Akb)

Angkot Rahayu Terbakar


Medan - Angkot Rahayu 53 BK 7312 DN rute Amplas-Belawan terbakar di kawasan Jalan HM Yamin, Kamis (16/2) sekitar pukul 12.00 Wib, dimana akibat kejadian tersebut, seorang penumpang bernama Suyatni (45), warga Jalan Jermal V Kecamatan Medan Johor mengalami luka bakar 50 persen di sekujur tubuhnya.

Terkait masalah ini, supir angkot 53, Sabaruddin (50) warga Jalan Bajak V Kelurahan Harjo Sari Kecamatan Medan Amplas, juga mengalami luka bakar di bagian tangan bagian tangan kirinya. Akibat kejadian tersebut, Sabaruddin, mengalami luka ringan, hanya 5 persen saja dimana hanya bagian tubuhnya yang terbakar. Rabu (16/2)

Dikatakan Sabaruddin, kejadian tersebut tidak diketahui dari mana asal mulanya. Namun tiba-tiba angkot yang dibawanya untuk trip kedua dari Amplas ini, menyemburkan api dan melalap angkut yang dibawanya itu. Sehingga hampir seluruh bagian badan dari angkot ini, habis dilalap api.

Disebutkannya, penumpang yang dibawanya tersebut adalah satu-satunya penumpang yang ada diangkotnya dan naik dari Aksara. Penumpang ini, duduk dibagian depan. "Hanya satu penumpang yang ada saat terjadi peristiwa ini dan itupun naik dari aksara," katanya seraya menerangkan korban ini tidak sempat menyelamatkan diri, sedangkan dirinya masih sempat menyelamatkan diri.

Masih dikatakan Sabaruddin, diduga, api berasal dari mesin persis dibawah tempat duduk supir dan penumpang dibagian depan.

Sementara itu, menurut salah seorang saksi mata, Soleh Ahmad (30), mengatakan kejadian tersebut saat penumpang sebanyak empat orang. Namun tiga lainnya sempat melarikan diri dan keluar dari angkotnya.

Sementara itu menurut Humas RSU Pirngadi Medan, Edison mengatakan akibat kebakaran ini yang menimpa angkot ini menyebabkan 50 persen bagian tubuh korban ini mengalami luka bakar pada bagian wajah hingga dada, lutut sampai kaki. Pasien ini harus menjalani perawatan dan direncanakan akan menjalani operasi pembersihan luka bakar.

Selain itu menurut informasi yang dihimpun Tribun, Suyatni merupakan calon peserta Jamkesmas, namun saat ini masih dalam tahap pengurusan.

Menurut informasi yang dihimpun di IGD, ada enam orang kelurga korban yang menunggu Suyatni. Diantaranya ada empat pria dan dua orang wanita. Dalam penungguan keenam anggota keluarga tersebut, terjadi perincangan kecil dengan tema menceritakan kejadian terbakarnya angkutan yang ditumpangi korban.

Lelaki pertama menggunakan baju kemeja coklat kotak-kotak memakai jaket hitam dan celana keper warna abu-abu kehijauan mengatakan dirinya seakan tidak percaya kalau korban tidak bisa keluar saat kejadian berlangsung dikarenakan pintunya terkunci.

Lelaki kedua memakai jaket hitam kulit dan celana lie biru asyik mendengarkan perbincangan yang timbul dikerumunan enam keluarga korban. Sama halnya dengan lelaki yang mengenakan kaos berwarna hiotam dan celana ponggol juga asyik mendengarkan sambil bernyanyi. Lain halnya dengan keluarga korban yang keempat yaitu lelaki yang menggunakan kaos berkerah warna hijau lumut dan celana keper hitam hanya duduk sambil melihat wajah saudara yang lain bercerita.

Sementara itu wanita yang memakai baju kaos warna biru dan celana lie hitam kebiru-biruan hanya diam dan duduk termenung dengan wajah ketat menunggu korban seraya membisu ketika mengetahui ada orang yang hendak mencari informasi tentang kejadian tersebut. Saat ditanya Tribun, apakah anda saudara Suyatni, wanita yang mempunyai kulit putih dan rambut diikat dan sedikit gemuk ini mengatakan ia. Kemudian saat ditanya kelanjutan tentang korban, wanita tersebut tidak mau angkat bicara seraya mengatakan kepada saudaranya yang memakai baju kaos diselimuti blazer ini untuk tidak meneruskan pembicaraan.

Sementara itu, menurut Kapolsek Medan Timur, Kompol Patar saat dihubungi melalui selulernya membenarkan adanya peristiwa angkutan kota yang terbakar. Dikatakannya, perisitiwa ini sedang kita tangani dan sedang dilakukan penyelidikan.

Ditanya mengenai kronologisnya, Patar menjelaskan angkutan tersebut terbakar saat sedang melaju dimana pada saat itu hanya terdapat dua orang didalam angkutan dimana satu penumpang dan satu sopir.

"Kita sedang mencari informasi dari saksi dan kita sudah mendapatkan saksi dalam peristiwa ini," katanya. (Akb)

Tegarnya Negeri Ku

Medan - Banyaknya aset negara kita yang bisa dikelola dan mampu menghasilkan pendapatan yang besar bagi bangsa kita,Ini bisa dibuktikan dan dilihat dari perkembangan dan kemajuan zaman dimana semakin hari semakin berkembang, dimana informasi dan tekhnologi sangat membantu. Namun sayangnya, dibalik kemajuan dan perkembangan zaman, banyak terjadi konflik,kepentingan golongan dan pribadi dimana semua itu dapat merugikan negara dan masyarakat kita. Rabu (16/2)

Bisa kita lihat, khususnya di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) banyak manusia yang mempunyai kemampuan dan semangat untuk memajukan NKRI, namun sangat disayangkan karena mereka yang termasuk kedalam golongan mampu untuk membangun dan memajukan Negara, hanyut dan masuk kedalam lingkungan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompok. Karena faktanya yang kita lihat, seseorang yang mampu untuk membangun bangsa dan negara, selalu mengandalkan kelompok dimana itu dilakukan agar mereka bisa memimpin dan mengatur NKRI yang kita cintai ini.Hal ini dapat kita lihat contoh kasus,dimana ketika pemilihan untuk duduk di suatu jabatan yang di pilih oleh masyarakat selalu menyampaikan, bahwa semua akan dilakukan untuk kepentingan masyarakat jika ia dipilih ternyata....

Faktanya, setelah mereka terpilih dan menduduki kursi yang mereka inginkan selama ini, sangat-sangat bertolak belakang dengan apa yang mereka lakukan. jauh hari sebelum mereka menduduki kursi yang sekarang mereka miliki selalu mengumbar janji. Hal ini bisa dikarenakan mereka sudah masuk kedalam sistem. Dimana sistem yang ada di NKRI sudah dikuasai oleh golongan dan kelompok tertentu, karena memang dari dulu sampai sekarang, sistem tersebut dirusak oleh mereka yang berada diatas dan membuat peraturan sendiri sehingga hanya mereka yang bisa melanggar peraturan yang dibuat mereka tanpa diketahui masyarakat banyak. Padahal, duduknya mereka dikursi itu atas dasar masyarakat yang memilih, dan berjanji akan memperhatikan masyarakat. Tapi apa yang kita lihat? Mereka hanya senang dan berbuat sesuka hati dengan tujuan untuk memperkaya diri dan golongan mereka.

Birokrasi di NKRI sudah tidak bisa dirubah lagi, karena orang-orang yang berada di birokrasi tersebut merupakan orang-orang yang dulunya naik secara kelompok. Atas dasar itulah mereka yang sekarang duduk dan menjabat, akan mensejahterakan kelompok dan diri mereka masing-masing tanpa memikirkan masyarakat yang memilih mereka dan negara sebagai tempat mereka bermukim didunia politik.

Untuk menjadi seorang pemimpin di era globalisasi saat sekarang ini, tidak bisa dan bahkan tidak mungkin untuk naik dan menjabat secara independen, itu kembali kepada birokrasi yang berlandaskan kelompok dimana yang tergolong dalam kelompok tersebut merupakan orang-orang yang mampu membangun negara tapi harus menjalankan amanah dimana amanah tersebut bertolak belakang dengan hati nurani mereka.

Ini harus mereka jalankan dan kalau tidak dijalankan menurut sistem yang ada didalam, mereka akan tersingkir seiring berjalannya waktu. Sampai sekarang, itulah yang menjadi masalah dan penghalang kemajuan dan perkembangan negara yang kita cintai.

Keinginan untuk membangun negeri ini dengan bersih hanya sebatas impian karena mereka secara individu tidak mampu menghapus birokrasi yang sudah dimiliki kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan. Sepengetahuan saya, mereka-mereka yang ingin membangun negeri ini bebas dari masalah politik dan korupsi, tidak akan bisa sebelum ada kesadaran dari masing-masing individu atas arti pentingnya kebersamaan untuk membangun negeri ini bebas dari masalah yang selama ini menyelimuti negeri kita.

Pantaslah kita acungkan jempol untuk negeri ini karena, walaupun hati kita tersentak dan seakan tidak percaya, negeri ini tumbuh dan berkembang diatas mereka yang mempunyai keinginan dan kebutuhan masing-masing dimana itu semua akan menghancurkan negeri ini. Negeriku tegar walau diisi dan dihuni oleh mereka yang memikirkan untuk kepentingan masing-masing.

Pernahkah kita berpikir kalau burungpun ingin membangun sarang yang terindah dimana itu dilakukan burung sebagai tanda kebanggaan. Oleh karena itu,sadarlah kawanku bangkit dan tetaplah berdiri, singkirkan aral bersihkan debumu. Janganlah ragu kawan, kami disini semua bersamamu dan mari kita tunjukkan kita mampu bersihkan negeri ini dari semua masalah dan tetap bersatu. Dimana hal itu semua harus kita lakukan dengan membangun semangat juang, hadapi tantangan sekaligus teguhkan hati dan tetap bersatu sesuai kalimat yang tertera dilambang negara kita "Bhinneka Tunggal Ika".Janjikan kuberikan bhakti terbaik bagi negeriku.

Created By : M. Sofyan Akbar, ST dan Sekretaris Fraksi Golkar DPRD Kota Medan, Ilhamsyah

DPRD Medan Minta Dinas TRTB Tertibkan Sarang Walet


Dia mengatakan, keberadaan walet tidak refresentatif lagi di inti kota. Selain mencemari udara juga merusak tata ruang dan peruntukan kawasan kota. “Kita minta Dinas TRTB segera menertibkan bangunan walet di kota Medan, termasuk pendataan. Kepada pengusaha walet supaya diberikan peringatan bongkar sendiri terhadap bangunan yang melanggar izin peruntukan. Jika tidak diindahkan, supaya diambil tindakan tegas”, beber Ahmad Parlindungan. Minggu (13/2).

Dikatakannya, Dinas TRTB harus menjalankan hal tersebut dengan segera, menyusul amanah UU No 28 tahun 2009 tentang pajak daerah dan retribusi daerah diantaranya pajak sarang walet.

Apalagi saat ini, sambungnya Pemko Medan sedang mengajukan ranperda tentang pajak wallet ke DPRD Medan. Untuk itu keberadaan penangkaran walet di kota Medan patut dipertimbangkan.

“Di kawasan mana yang masih dimungkinkan atau tidak tempat penangkaran walet. Perlu data yang akurat untuk dikaji dengan melibatkan berbagai unsur elemen masyarakat.”, terang Lindung.

Masih dikatakan Ahmad Parlindungan yang juga Ketua Panitia Khusus (Pansus) ranperda pajak daerah didampingi sekretaris pansus, Muslim Maksum memaparkan ranperda sarang walet ditolak sementara dan penangkarannya supaya ditertibkan karena memang tidak memiliki izin.

“Bagaimana mungkin kita kenakan pajak terhadap usaha yang tidak memiliki izin/illegal. Jika raperda ini diterima sama halnya melegalkan penangkarang walet, pada hal sarang walet tidak dimungkinkan lagi di kota Medan karena sudah dikeluhkan banyak orang selama ini. Maka dari itu kita minta kepada Dinas TRTB segera menertibkan maupun merelokasi penangkarang walet”, tegas Ahmad Parlindungan.

Terkait masalah ini, Kepala Dinas Pendapatan melalui Kasi Pertimbangan Keberatan, Drs Nawawi mengatakan, dasar pengajuan ranperda sarang walet sesuai amanah UU No 28 tahun 2009.

Sedangkan pihaknya sudah melakukan pendataan awal terkait keberadaan penangkaran sarang walet di kota Medan, yakni sekitar 180 Wajib Pajak. Sedangkan tujuan perda dimaksud adalah untuk payung hukum mengenakan pajak 10 % dari nilai penjualan Wajib Pajak pengusaha sarang wallet. Sedangkan untuk masalah teknis lainnya akan dituangkan di Perwal.

Diakuinya, perolehan PAD dari sarang wallet cukup besar. Terpisah, Sekda Kota Medan, Ir Syaiful Bahri terkait rencana penolakan pansus ranperda pajak daerah DPRD Medan, mengatakan masalah itu sepenuhnya diserahkan kepada DPRD Medan.

Dikatakan Syaiful, memang bangunan penangkaran wallet di Medan tidak ada izin dan selama ini sudah sering diresahkan dan melanggar tatanan kota. “Kita setuju, kota Medan bebas dari polusi dan kebisingan yang ditimbulkan wallet. Persoalannya, mari kita dengan DPRD mencari solusi. Sedangkan ranperda itu hanya memanfaatkan yang sudah ada. Kalau memang harus ditertibkan, kita setuju aja”, katanya lagi.(Akb)

Beri bendera pesan ini ASI Tidak Berpengaruh Pada Kecantikan Ibu


Medan - Air Susu Ibu (ASI) sangat penting bagi seorang bayi, karena memberikan ASI eksklusif sampai usia bayi 6 bulan sangat baik untuk pertahanan tubuh si bayi.

"ASI tidak akan mempengaruhi kecantikan atau estetika seorang Ibu. ASI sangat baik buat seorang anak apalagi ASI yang pertama kali keluar setelah seorang Ibu melahirkan sampai usia bayi enam bulan," kata ‎​Ketua Kaukus Perempuan Parlemen Kota Medan Damai Yona Nainggolan, menanggapi arti pentingnya pemberian ASI pada bayi dibandingkan dengan susu formula. Minggu (13/2)

Dia mengatakan, secara alamiah seorang ibu harusnya menyusui anaknya dan tidak bisa dipaksakan. "Jangan takut hanya karena alasan kecantikan, para ibu dan tidak memberikan ASI kepada bayi. Ini tidak beralasan karena pemberian ASI merupakan kasih sayang dan tubuh seorang ibu tidak akan rusak karena pemberian ASI," katanya.

Ditanya mengenai seorang wanita karir yang memiliki anak bayi dan bagaimana dengan pemberian ASI, Anggota Komisi A DPRD Medan ini mengatakan untuk hal itu seorang ibu harus bangun pagi dan memompa ASI lalu dimasukkan kedalam lemari pendingin atau kulkas. "ASI ini dapat bertahan lama buat diberikan pada bayinya," katanya.

Untuk itu, dirinya berharap agar seorang Ibu tidak memberikan susu formula bila mampu memberikan ASI. "Berilah ASI, apalagi pada saat pertama sekali ASI keluar . Seorang ibu juga tidak akan merasa sakit dan repot kalau memberi ASI walau sesibuk apapun Ibu tersebut," terangnya seraya menambahkan seorang suami juga harus memberikan dukungan pada istrinya untuk memberikan ASI pada bayi mereka.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Edwin Effendi MSc mengatakan pihaknya gencar melakukan kampanye tentang pentingnya pemberian ASI eksklusif pada bayi. Termasuk melalui Posyandu, Puskesmas, Rumah Sakit dan lini kesehatan.

Kota Medan sendiri, jelas, pemahaman masyarakatnya sudah lebih bagus mengenai pentingnya ASI pada bayi, dan berharap kesadaran tersebut semakin bertambah. Walaupun saat ini di Medan masih sekitar 15 sampai 20 persen Ibu belum memberikan ASI pada bayi, yang disebabkan ketidaktahuan tentang arti pentingnya ASI bagi bayi dan sebagian kecil beralasan kecantikan.

"Sekalipun mereka menyusui juga tetapi ASI ekslusif itu diberikan selama enam bulan dan tidak perlu ditambah dengan yang lain," katanya lagi. (Akb)

Warga Sudirejo I dipungut Biaya Untuk Mengurus Surat Kematian Oleh Oknum Lurah

Medan - Beberapa warga Kelurahan Sudirejo I Lingkungan IV mengaku dikenakan pungutan liar biaya pengurusan surat kematian keluarganya sebesar Rp 300-400 ribu dan pengutipan ini dilakukan oleh oknum Lurah Sudirejo I Kecamatan Medan Kota, Ubudiah SH secara terang-terangan terhadap warga tersebut. Sabtu (12/2).

Menurut informasi yang diterima, hal ini muncul kepermukaan saat salah seorang warga diketahui bernama Firdaus hendak melakukan pengurusan surat kematian keluarganya bernama H Sulaiman Husein yang meninggal Selasa (8/2) malam.

“Karena surat kematian ini diperlukan untuk mengurusi pensiunan Taspen, saya pun langsung mengurusnya. Tapi, sampai disana, saya dipungut biaya oleh oknum lurah itu sebesar Rp 350 ribu,” terangnya.

Dikatakannya, dalam pungli tersebut, oknum lurah itu mengaku uang tersebut untuk diberikan kepada Camat, lurah dan staf yang ada di kelurahannya. “Terang-terangan dia meminta uang itu. Katanya Rp100ribu dikasihnya ke Camat, Rp100ribu untuk dirinya dan sisanya dibagi-bagi ke stafnya. Kami pun tidak mau, masak mau mengurus surat kematian itu dibayar. Dari mana jalannya itu,” katanya dengan nada kecewa.

Terkait masalah ini, Lurah Sudirejo I, Ubudiah SH ketika dikonfirmasi kebenaran hal ini dirinya membantah keras. “Tidak ada itu. Kita tidak pernah melakukan pengutipan pengurusan surat kematian. Siapa yang bilang, hadapkan dengan saya siapa orangnya,” katanya.

Terpisah, ketika dikonfirmasi kepada Humas Pemko Medan, Hanas Hasibuan tentang adanya pembayaran dalam mengurus surat kematian, Hanas mengatakan, dirinya tidak tahu akan adanya peraturan daerah (Perda) yang mengharuskan pembayaran pengurusan surat kematian. “Soal itu saya tidak tahu, coba saja bilang sama warga minta perdanya dan langsung membuat laporan ke Camat. Nomor berapa perda itu, kalau tidak ada, tidak usah bayar,” katanya sembari menjelaskan dirinya sedang tidak sehat karena mengalami gejala types. (Akb)

Soal Klaim JPKMS, Dinkes Medan Tidak Transparan

Medan - Dinas Kesehatan Kota Medan terkesan menutupi biaya klaim Jaminan pemeliharaan Kesehatan Medan Sehat (JPKMS) disejumlah Rumah Sakit provider. Bahkan saat ditanya oleh Kepala Dinas Kesehatan Medan, dr. Edwin Effendi, dirinya menganggap tidak penting diketahui publik.

"Hal tersebut tidak penting diketahui masyarakat, yang penting, tiap Rumah Sakit berbeda dan klaimnya tergantung besaran Rumah Sakit. Saya juga tidak ingat soal besaran klaimnya," terang Edwin Effendi saat ditanyai rincian klaim JPKMS 2010.

Dia mengatakan, yang pasti biaya JPKMS 2010 sebesar Rp25Miliar sudah habis terpakai. Bahkan, menurutnya biaya tersebut kurang untuk membayar klaim akhir Desember 2010. Sabtu (12/2)

"Biaya tersebut kurang, ada yang ditangani dan masih belum terbayar. Nanti akan kita bayarkan menggunakan biaya tahun 2011, karena biaya untuk tahun 2010 sudah habis terpakai," ungkapnya.

Tahun ini sambung Edwin, biaya klaim JPKMS yang diusulkan besarannya sama yakni Rp25Miliar dengan jumlah Rumah Sakit rujukan yang sama juga yaitu 16 rumah sakit rujukan. Namun, apabila kurang akan diusulkan lagi pada P-APBD 2011.

"Bisa saja kurang, tergantung pelayanannya. Makanya, tidak semua jenis penyakit diyalani, karena kemampuannya terbatas. Tapi, kalau kurang akan kita usulkan lagi di P-APBD Tahun 2011," bebernya.

Soal kepesertaan JPKMS dikatakannya, dia mengklaimnya sudah sinkron dan tidak tumpang tindih dengan kepesertaan Jamkesmas. Menurutnya, peserta Jamkesmas mengacu pada data Badan Pusat Statistik Tahun 2008, sedangkan peserta JPKMS didata oleh perangkatnya ditingkat bawah atau kepling.

"Sudah kita kroscek, makanya proses pendataan peserta JPKMS lama, karena kita ingin mencocokkan data Jamkesmas dan JPKMS. Memang ada juga peserta Jamkesmas yang masuk ke JPKMS, tapi sudah kita coret, supaya tidak tumpang tindih," pungkasnya seraya menjelaskan setelah dimuktahirkan sebanyak 354.855 warga miskin kota Medan yang masuk dalam kepesertaan JPKMS. Dalam waktu dekat, kartunya akan dicetak dan didistribusikan kepada yang berhak.

Dikatakannya, untuk data pemutahiran kepesertaan yang telah menyedot anggaran sebesar Rp1miliar, diyakini tidak akan akan seratus persen tepat sasaran. “Pendataan yang dilakukan tidak mungkin seratus persen, Minimal delapan puluh hingga Sembilan puluh persen saja,” katanya seraya menambahkan jika penetapan kepesertaan JPKMS ini ditunda-tunda akan berdampak pada tidak kelar masalah kepesertaan.

Menanggapi itu, Sekretaris Eksekutif FITRA, Elfenda Ananda menilai, ketidaktransfaran Dinas Kesehatan Medan bertentangan dengan Undang-undang no 17 tahun 2003 tentang pengelolaan keuangan. Dalam UU tersebut dijelaskan pengelolaan keuangan dengan menggunakan prinsip efesiensi, efektifitas dan transfransi.

Untuk itu katanya, Dinas Kesehatan Kota Medan harus mempublikasikan anggaran tersebut ke publik tentang sejauh mana manfaat dari program tersebut bagi masyarakat.

“Akuntabilitas harus benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Jika ditutup-tutupi seperti ini dan tidak transfaran, pasti menimbulkan pertanyaan. Ini harus disampaikan ke publik. Tidak perlu ada yang ditutup-tutupi,” katanya lagi.(Akb)

Sekretaris PMI Kota Medan, Drg Susyanto mengatakan stok darah di Kota Medan selalu Kurang


Medan - Sekretaris PMI Kota Medan, Drg Susyanto mengatakan stok darah di Kota Medan selalu kurang, maka dari itu, PMI Kota Medan bekerjasama dengan Korpri untuk mengadakan donor darah. "Kita mengadakan donor darah setiap jumat dan itu dilakukan sesumut, dimana dengan diadakannya setiap Jumat, Korpri sudah membuat Schedule dimana diadakan untuk setiap jumatnya," katanya.

Dikatakannya, selama dua hari dilakukannya donor darah di Dispenda dan Binamarga, PMI Kota Medan telah mengantongi sebanyak 170 kantong darah. "170 kantong darah itu perkantongnya sebanyak 350 cc," ujarnya seraya menambahkan, nantinya darah yang sudah terkumpul diproses di Unit Donor Darah (UDD) PMI Kota Medan, selanjutnya akan disalurkan kepada orang yang membutuhkan darah melalui rumah sakit. Jumat (11/2)

"PMI sebagai UDD dan akan memberikan kemasyarakat yang membutuhkan melalui rumah sakit dimana rumah sakit sebagai Unit Transfusi Darah (UTD)," bebernya.

Ditanya mengenai masyarakat yang dikenakan biaya untuk transfusi darah, pria berkulit putih dan berkacamata ini menjelaskan, memang setiap masyarakat yang mentransfusi darah akan dikenakan biaya sebesar Rp200ribu, dimana sampai saat ini untuk masyarakat yang terdaftar di Jamkesmas dan Jamkesda itu ditanggung sebesar Rp120Ribu. "Jadi PMI mensubsidi Rp80Ribu perkantong untuk masyarakat yang membutuhkan darah," terangnya seraya menyatakan PMI sudah menganggarkan ke Pemko Medan untuk meminta dana sebesar Rp3Milyar dari APBD Tahun 2011 untuk menutupi subsidi yang diberikan kepada masyarakat yang terdaftar sebagai pasien Jamkesmas dan Jamkesda.

Diterangkannya, biaya Rp 200Ribu itu diperuntukkan pada pemeriksaan penyakit dan pembeliat kantong darahnya seharga Rp200Ribu. "Dengan adanya dana ini, PMI bisa mengalokasikan dana Jamkesmas dan Jamkesda yang menjadi subsidi PMI Kota Medan dimana diperuntukka bagi masyarakat miskin yang memerlukan darah. (Akb)

Iskandar Enggan Berkomentar Masalah Papan Reklame



Medan - Pemilik perusahaan periklanan PT. Star Indonesia, Iskandar ST enggan berkomentar saat ditanya mengenai statement Walikota Medan, Rahudman Harahap akan memusnahkan reklame liar yang berada di Kota Medan.

"Saya tidak mau memberi statement tentang hal tersebut," kata Pemilik perusahaan periklanan PT. Star Indonesia, Iskandar ST saat dihubungi melalui selularnya. Jumat (11/2)

Dikatakannya, pemberitaan Tribun tendensius, artinya pemberitaan tersebut tanpa konfirmasi. Atas dasar itu akan memungut hak jawab. "Pemberitaan itu tidak ada konfirmasi, saya akan menggugat hak jawab atas pemberitaan tersebut," terangnya seraya mengatakan pemberitaan yang dibuat Tribun mencemarkan nama baik, karena didalam berita tersebut terdapat unsur pitnah.

Ditanya mengenai seperti apa MoU tentang papan reklame dengan mantan Walikota Medan, Abdillah, Iskandar tetap bersih keras tidak mau bercerita. "Saya tidak akan bercerita sebelum hak jawab saya dimuat ditempat dan halaman yang sama," ujarnya.

Iskandar mengatakan, dirinya merasa dirugikan. Pihaknya akan membuat hak jawab dan menunggu pengacaranya untuk hak jawab yang akan dimuat di Harian Tribun. "Gini bang, saya tidak mau bercerita tentang itu sebelum hak jawab saya dimuat di Tribun, paling lama hari senin (14/2)" katanya seraya mengatakan sesuai kode etik jurnalistik pihaknya akan bercerita setelah dimuat hak jawabnya.

Ditanya mengenai, apa yang dilakukan apabila hak jawabnya tidak dimuat, pemilik perusahaan periklanan di Kota Medan ini menjelaskan pihaknya akan menggugat kejalur hukum. "Kalau masalah menjawab, saya seperti abang menjawab saat ditanya orang," katanya lagi.

Sebelumnya, Walikota Medan, Rahudman Harahap berjanji akan merobohkan semua papan reklame ilegal yang ada di Kota Medan. (Akb)

Tahun 2010, Sebanyak 3693 Kasus Gigitan Anjing Melanda Sumut


Medan - Sepanjang tahun 2010, kasus gigitan anjing yang melanda Sumatera Utara
sebanyak 3.693 kasus dengan jumlah kematian mencapai 36 jiwa positif terserang virus mematikan dari anjing gila atau disebut rabies.

“Untuk pemberian vaksin terhadap manusia sepanjang tahun 2010, sudah dilakukan sebanyak 2.796 jiwa dan pemeriksaan sample sebanyak 33 sampel,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, dr Chandra Syafei SpOG, Kamis (10/2) di Medan.

Dikatakannya, Kota Gunung Sitoli merupakan daerah terbanyak kasus gigitan anjing selama tahun 2010, yakni mencapai 737 gigitan dengan pemberian VAR sebanyak 732 kuur dan dengan kematian sebanyak 20 jiwa kasus rabies.

Sementara itu, Samosir merupakan daerah kedua terbanyak kasus gigitan yakni mencapai 469 kasus, dimana pemberian VAR sebanyak 268 kuur dan dengan kematian sebanyak 3 jiwa.

“Untuk Medan diketahui sebanyak temuan 444 kasus gigitan, 309 pemberian VAR dan kematian nihil,” ujarnya.

Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan Penyakit Menular Langsung (P2ML) Dinkes Sumut, Sukarni menambahkan, untuk Januari tahun 2011, berdasarkan laporan yang diterima, diketahui Gunung Sitoli terdapat 1 kematian akibat rabies dan Nias 1 korban rabies dilaporkan. “Kalau di Gunung Sitoli, korban yang meninggal pernah digigit oleh anjing setahun yang lalu dan tidak mendapatkan VAR.

Berdasarkan laporan, istri korban yang bertugas di rumahsakit daerah setempat sudah menyarankan agar korban diobati. Akan tetapi, korban sendiri tidak mau dengan alasan hanya sedikit saja. Sedangkan yang di Nias, korban mendapatkan gigitan di bulan Desember 2010 dan kematiannya diketahui Januari 2011,” terangnya.

Ditanya mengenai stok VAR di Dinkes Sumut, Sukarni mengaku mendapatkan bantuan dari Kemenkes RI sebanyak 835 kuur. “Kalau estimasi tahun 2011 ini, kita samakan dengan kasus yang terjadi di tahun 2010 lalu yakni sekitar 3.000-4.000 kasus gigitan.

Namun, ketersediaan vaksin kita hanya sebanyak 835 kuur saja. Dengan kondisi seperti ini sambung Sukarni, pihaknya menghimbau kepada seluruh kabupaten/Kota di Sumut agar mengalokasikan dananya untuk pembelian VAR sesuai dengan angka kejadian di daerahnya
masing-masing,” jelasnya.

Guna meminimalisir rabies di Sumut, dia menerangkan agar seluruh masyarakat menghindari dari gigitan anjing. Kalau sudah terkena gigitan, diharapkan masyarakat melakukan pencucian daerah yang digigit dengan detergen selama 10-15 menit dan kemudian melaporkan hal ini kepada Dinkes setempat.

“Kita harapkan kepada seluruh masyarakat agar tidak menganggap enteng permasalahan ini. Harus disikapi dengan baik agar kedepan, kasus ini dapat diminimalisir. Kalau masa inkubasi virus ini selama 2-3 minggu dan maksimal 1 tahun,” papar Sukarni.

Sementara itu, terkait masalah ini, Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Sumatera Utara, Mulkan mengatakan, sejak Pulau Nias KLB rabies, Gubernur Sumatera Utara, H Syamsul Arifin SE mengeluarkan surat edaran Peraturan Gubsu No 39 Tahun 2010 yang isinya tentang penutupan sementara pemasukan/pengeluaran anjing, kucing, kera dari kepulauan Nias.

“Populasi anjing di Sumut sebanyak 290.000 ekor. Nias dengan populasi 61.756 ekor dan sudah dieliminasi sebanyak 28.243 ekor,” ujarnya.

Untuk kasus rabies di Sumut, sambungnya, seluruh Kabupaten/Kota di Sumut sudah terserang. “Hingga saat ini, Nias diketahui masih endemis dan kita sudah memberikan pelatihan tentang rabies ini dimana Nias juga dinyatakan masih KLB,” terangnya sembari mengatakan tahun 2010 sebanyak 45.500 vaksin sudah disebar.

Untuk ketersedian VAR di Disnak Sumut, Mulkan menambahkan, sekitar 45,5 persen ketersediaan vaksin ini dan diketahui, kasus kematian di Nias dari tahun 2010-2011 sebanyak 26 kasus dilaporkan.

“Kita berharap ditahun 2014 mendatang, Sumatera Utara dapat bebas dari rabies dan hal ini juga harus didukung oleh seluruh stakeholder dan masyarakat. Sehingga apa yang menjadi target kita dapat tercapai,” harapnya.

Terpisah, anggota DPD RI asal Sumut dan sekaligus Dewan Kesehatan Rakyat (DKR) Parlindungan Purba mengatakan, kasus rabies ini diakibatkan oleh gigitan anjing dan merupakan suatu penyakit yang mematikan dimana dalam hal ini harus disikapi dengan baik.

Masih dikatakannya, dirinya meminta kepada seluruh Kabupaten/Kota agar berkoordinasi dengan Disnak dan Dinkes akan hal ini. “Pemkab/Pemko harus mulai mendeteksi kembali anjing-anjing dimana harus diberikan vaksin dan jangan dibiarkan anjing berkeliaran dengan bebas,” ujarnya.

Masih, Parlindungan, Disnak Sumut juga harus memantau kasus rabies ini di seluruh Kabupaten/Kota dan khususnya Nias. Sebab nias hingga kini masih KLB.

“Dalam beberapa waktu kedepan, Dirjen akan turun ke Nias dan saat ini mereka sedang membahas hal ini, baik pembentukan tim maupun anggarannya," bebernya seraya memaparkan, meski Nias KLB, namun daerah tersebut sudah terisolasi dan diharapkan seluruh Pemkab/Pemko dan masyarakat harus pro aktif dalam hal ini. (Akb)

Tahun 2010, 73,8 Persen Penderita TB Paru di Sumut

Medan - Sepanjang tahun 2010 sebanyak 73,8 persen penderita Tuberculosis (TB) paru BTA (+) di Sumatera Utara (Sumut) atau sebesar 15.614 orang dari estimasi berjumlah 21.148 orang. Berdasarkan survey, dari jumlah tersebut, Kota Medan merupakan yang terbesar pendritanya bila dibandingkan dengan jumlah penduduk dari tiap kab/kota.

“Target nasional sebesar 70 persen. Tahun 2011 diupayakan pencapaiannya diatas tahun 2010,” kata Kadis Kesehatan Sumut dr Candra Syafei SpOG melalui Kasi Penanggulangan dan Pemberantasan Penyakit(P2P) Sukarni, Jumat (11/2) di ruang kerjanya.

Dikatakannya, secara epidemiologi dari sebesar 70 persen tersebut, sembuh 85 persen dengan jangka waktu 5 tahun. "Diharapkan insiden rate turun setengah, kalau sekarang dengan 160/100.000 penduduk maka berkurang menjadi 80/100.000 penduduk," katanya.

Dikatakannya, Sebenarnya sudah ditemukan kasus TB tapi tidak dengan strategi DOTS. Jadi pihaknya takut hal itu akan menjadi Multi Drag Resisten (MDR) atau kuman TB akan resisten dan tidak bisa dengan obat lini pertama. "Jadi pengobatannya semakin lama yaitu berkisar 18 bulan dan obatnya mahal," ungkap Sukarni.

Diterangkannya, kasus MDR ini sudah ada dan banyak di kota yang didapat dari klinik dan praktek dokter. Makanya, untuk menanggulangi kasus MDR ini RSUP H Adam Malik dijadikan sebagai rumah sakit rujukan.

Kedepannya, diharapkan semua kabupaten/kota di Sumut mempunyai rumah sakit untuk program MDR. Dalam penanggulangan permasalahan kasus TB ini, Dinkes Sumut, mengharapkan semua pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, balai pengobatan dan praktek dokter swasta ikut menurunkan penderita TB dengan strategi DOTS. "Sekarang yang jalan baru seluruh puskesmas, sedangkan rumah sakit baru 35 persen, balai pengobatan dibawah 10 persen, dan 30 persen lapas rutan yang baru menjalankan program tersebut," terangnya seraya mengatakan upaya lain yang dilakukan yaitu dengan mendatangi sekolah yang bersifat asrama seperti pesantren. Bila ditemukan kasus dengan gejala TB diharapkan untuk dibawa ke puskesmas supaya mengikuti program DOTS.

"Bagi desa yang daerahnya sulit dijangkau, akan dilaksanakan workshop dan selanjutnya petugas puskesmas datang satu kali sebulan untuk mengambil datanya kemudian bidan desa yang akan memberikan obatnya," ujar Sukarni.

Begitupun, sambung Sukarni, masih ada ditemukan kendala baik dalam pengaplikasian program ini, baik dari petugas pelayanan kesehatan dan petugas yang telah mengikuti program strategi DOTS, dimana secara bertahap akan diintervensi serta memerlukan komitmen.

"Tahun 2011 kita sudah melatih dokter swasta seperti melalui dokter keluarga untuk program DOTS. Sementara kendala dari masyarakat, belum menyadari untuk berobat TB secara teratur selama 6 bulan," ujarnya seraya menyatakan Ada alasan pasien tidak lagi berobat secara teratur karena merasa sudah sembuh dengan tidak ada lagi batuk yang dialami.

Lima kabupaten kota dengan penderita terbanyak dari triwulan I hingga III yaitu Kota Medan sebanyak 2152 orang, P.Siantar 288 orang, Binjai sebanyak 260 orang dan TanjUng Balai sebanyak 150 orang dan Tebing Tinggi sebanyak 145 orang. (Akb)

Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kota Medan, Herri Zulkarnain Menyesalkan Atas Terjadinya Keributan Antara Club Motor dan Club Mobil


Medan - Ketua Fraksi Demokrat DPRD Kota Medan, Herri Zulkarnain menyesalkan atas terjadinya keributan antara Club Motor dan Club Mobil beberapa waktu lalu. Hal ini dikatakannya karena keributan tersebut dipicu karena masalah perempuan. Kamis (10/2)

Dia mengatakan dirinya sangat menyesalkan terhadap kejadian yang sampai terjadi pertumpahan darah."Saya sangat kesal karena mereka sesama pelajar SMA sudah saling baku hantam karena masalah sepele," ujarnya.

Sangkin kesalnya, dirinya beberapa hari lalu langsung menjumpai Kapolda Sumut untuk langsung mengetahui seperti apa kronologis keributan ini. "Beberapa hari lalu, saya jumpa dengan Oegroseno dan menanyakan hal ini, dan Kapolda mengatakan di Medan tidak terdapa geng motor maupun geng mobil, melainkan itu adalah Club," katanya menirukan ucapan Oegroseno.

Dikatakannya, Seharusnya sesama club jangan langsung ricuh hanya karena masalah kecil, karena ini bisa mengecilkan citra club motor atau mobil yang selama ini positif dimasyarakat.

Terhadap kejadian ini, dirinya memaparkan perlunya tanggung jawab orangtua dalam hal mengawasi anak mereka agar kedepannya tidak terjadi hal seperti ini.

"Kepada orangtua harus membina anknya supaya mempunyai moral dan akhlak," harapnya seraya mengatakan Kapolda dan kapotabes harus bener-benar memperhatikan kinejanya. Kalau ada club motor sudah ngumpul, pihak kepolisian harus mengetahui hal tersebut. "Pihak kepolisian harus mengetahui dimana para club motor maupun mobil yang sedang berkumpul, ini bertujuan untuk mengantisipasi terjadi keributan antar dua club ini," ungkapnya seraya mengatakan disini terlihat kelalaian dari Kapolda dan Kapolresta.

Dikatakan Herri, sangat perlu pihak kepolisian berada di wilayah-wilayah yang rawan seperti seputaran Jalan Gagak Hitam dan daerah-daerah yang dianggap rawan terjadinya bentrok antar sesama club motor dan mobil.

Ditanya mengenai antisipasi apa yang harus diambil pihak kepolisian kalau tersangka keributan club motor akan mengikuiti ujian, Herri menjelaskan, Hukum tetap ditegakkan, namun kepada mereka yang mau menghadapi ujian, silahkan mereka dikasih izin untuk mengikuti ujian.

"Bagaimanapun mereka masih pelajar dan diharapkan kepada guru harus tetap menyarankan agar para muridnya tidak melakukan perbuatan anarkis," bebernya.

Sebelumnya, kericuhan antara Club motor dan Club mobil hanya dikarenakan masalah sepele yaitu masalah perempuan. (Akb)