
Lukisan potret Presiden RI ke-1 dikabarkan bisa berdetak persis di jantungnya. Lukisan tersebut kini dipajang di galeri yang berada satu komplek dengan makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur.
Lukisan dipasang dekat pintu masuk Galeri sehingga tampak mencolok bagi pengunjung yang masuk. Berbingkai kayu kelir emas, lukisan berukuran sekitar 1,5×1,75 meter tersebut ditopang penyangga besi sekitar setengah meter dari dinding, sehingga terlihat gagah.
Tak ada yang aneh saat melihat lukisan ini dari depan. Keganjilan baru terlihat ketika pengunjung melihat lukisan dari samping. Kanvas di dada kiri Bung Karno bergerak maju-mundur, menciptakan ilusi degup jantung. Menariknya, ritme degup jantung ini sekitar 60-70 detak per menit, mirip manusia normal.
Staf Galeri Bung Karno Friska Fauzi mengatakan, foto Bung Karno yang berdegup menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung kerap berkumpul di samping lukisan sambil menatap dalam-dalam ke arah dada Bung Karno.
Mohammad Zariul Alim dari Madura sengaja datang ke Blitar untuk membuktikan mitos tersebut. "Yang saya dengar lukisan itu bisa berdetak, jadi saya merasa penasaran," ujarnya, Jumat (6/4/2012).
Pengunjung lainnya, Nur Faizatul Maghfiroh juga ingin membuktikan langsung, tentang mitos jantung di lukisan itu bisa berdetak.
Mitos jantung di lukisan Bung Karno yang bisa berdetak itu memang tersiar luas. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Jatim, selain berkunjung ke makam juga singgah ke lokasi perpustakaan.
Lukisan itu dibawa dari Istana Bogor oleh Mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, untuk memperingati 100 tahun haul Bung Karno pada 2001 lalu.
Untuk melihat kebenaran dari mitos itu, para pengunjug harus antre lama melihat dengan mata jeli tentang kepastian dari mitos tersebut.
Mitos lukisan berdetak di jantungnya tersebut membuat pengunjung ke makam Bung Karno bertambah. Jika pada hari biasa hanya ada sekitar 400 kunjungan ke galeri, sekarang mencapai 600 kunjungan yang berasal dari seluruh Indonesia.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kota Blitar Muh Sidik mengatakan, fenomena jantung lukisan Bung Karno berdetak itu memang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu. Ia hanya mengatakan, adanya fenomena itu memang menjadikan keunikan tersendiri.
"Fenomena itu tidak bisa dijelaskan lewat ilmu pengetahuan. Kami hanya melakukan pengelolaan perpustakaan saja, dan tentang mitos ini tentunya menjadikan keunikan sendiri," kata Sidik. (surya/berbagai sumber)
Hampir 24 tahun aku pendam penyakit yang kata orang bisa menyebabkan tidak bisa mempunyai keturunan. Sering sudah aku mendengar kalimat “Tunggu apalagi, segera diobati, baik dengan cara tradisional ataupun dengan cara modern atau dengan Operasi” kalimat itu yang acapkali memenuhi pikiranku sampai sekarang.
Namun tidak ada sedikit tindakan yang aku ambil untuk menghilangkan penyakit tersebut yang sudah membenam hampir 24 tahun tersebut. Hal itu aku lakukan karena aku takut untuk operasi. Oleh karena itu, pihak keluarga dan orang-orang terdekat menyuruh aku untuk menyembuhkan penyakit tersebut dengan pengobatan tradisional. Karena sudah banyak yang mengatakan dan menyuruh aku untuk melakukan pengobatan tradisional untuk menghilangkan penyakit yang aku derita, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil cara pengobatan tradisional.
Mulai dari pengobatan tradisional yang berada di kampong aku yaitu di Batang Serangan sampai pengobatan tradisional di Kota Medan sendiri. Namun, penyakit aku tak kunjung sembuh sesuai harapan yang aku dan keluargaku inginkan. Memang penyakit yang aku derita tidak menimbulkan rasa sakit dan menghambat aktivitasku. Namun karena doktrin yang mengatakan kalau penyakit itu dipelihara tidak baik dan nantinya aku tidak mempunyai keturunan.
Oleh karena itu, setelah pengobatan tradisional tak kunjung memberikan hasil yang diinginkan, aku konsultasi ke dokter. Langsung dengan seketika dokter mengatakan penyakit itu harus dioperasi. Mendengar pernyataan dokter seperti itu, wajah aku langsung berubah menjadi pucat. Seketika dokter mengatakan kalau aku tidak boleh pucat, karena mau tidak maunya kamu itu harus segera diangkat. “Masaan anak laki-laki takut untuk dioperasi,” kata dokter itu seraya mengejekku dengan senyumannya.
Dengan seketika, dokter tersebut membuat surat pengantar agar aku bisa dirawat di rumah sakit Coloumbia Asia untuk melakukan operasi. Mau tidak mau aku harus mengambil surat itu dan dokter tersebut member aku waktu seminggu menanti keputusan dariku. Waktu terus berjalan detik demi detik, menit ke menit jam berganti jam hari berlalu berganti bulan dan tahun, aku tak kunjung memberikan jawaban apakah aku mau operasi atau tidak.
Namun apa yang aku dapatkan, penyakit tersebut masih bersarang dan duduk manis dibagian tubuhku. Tidak terasa sakit memang, namun yang namanya penyakit harus diambil. Aku berpikir, terus berpikir bahwa semua keputusan ada pada diriku sendiri. Bertahun-tahun setelah mendapat surat pengantar dari dokter tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diriku melakukan operasi.
Waktu itu tahun 2011 persisnya awal bulan Maret aku datang kembali ke RS Coloumbia Asia untuk dirawat dan keesokan harinya agar aku bisa dioperasi. Sewaktu itu, aku masih ingat, aku dan mama datang ke rumah sakit tersebut sekitar pukul 11.00 Wib. Sesampainya aku di rumah sakit tersebut, spontanitas raut wajahku langsung berubah, tangan aku tiba-tiba dingin setelah melihat mama mendaftarkan aku sebagai pasien rawat inap dirumah sakit ternama di Kota Medan tersebut.
Beberapa menit berselang setelah pendaftaran tersebut, aku masuk keruangan dimana tempat kau akan menginap. Aku berada diruangan 704. Pertama aku masuk ke ruangan tersebut, aku belum diberi infuse karena aku harus menunggu dokter yang datangnya pada keesokan harinya. Jadi untuk hari itu aku bebas melakukan apa saja dirumah sakit tersebut.
Tidak terasa bagiku, akhirnya esok hari telah tiba setelah aku merasakan malam itu terasa sangat cepat. Esok hari pun datang, aku diinfus pada jam 08.00 Wib dan langsung disuruh puasa setelah jam 05.00 Wib aku memakan roti kering dan segelas susu.
Aku melakukan puasa karena itu merupakan satu syarat untuk operasi. Aku pun mengikuti prosedur tersebut. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 Wib, suster pun datang membawa pakaian operasi dan langsung aku disuruh untuk membuka baju dan memakai baju operasi. Selang setelah aku memakai baju operasi tersebut, suster datang kembali dan membawakan aku kursi roda. Melihat kursi roda tersebut, seluruh badan aku dingin dan kulit aku dibaluti warna putih pucat. “Kok pucat bang? Biasa ajalah bang,” kata suster cantik yang membawakan kursi roda untuk diriku.
Seraya aku menjawab, siapa yang pucat mbak, jawabku kepada suster yang sepertinya usianya jauh lebih muda dari diriku. “Ya situlah, siapa lagi cobak?” tanya suster cantik itu kepadaku. Usai sedikit perbincangan dengan suster cantik bernama Rini ini aku yang sudah dibaluti dengan pakaian serba hijau akhirnya dibawa keruang serba dingin, ruang apalagi kalau tidak ruang operasi.
Sesampainya dilantai 3 RSU Coloumbia Asia yang berada di Jalan Listrik Kota Medan, gambaran pucat mewarnai tubuhku yang sudah terlanjur dingin seperti es. “Keluarganya tunggu diruang tunggu ya, operasi sepertinya berjalan selama satu jam,” kata suster yang membawaku keruang yang super dingin bernama Rini itu.
Kupikir Rini akan terus mengantarku sampai diruang yang mempunyai lampu besar dan sangat kontras, namun pikiranku meleset. Ternyata, Rini hanya mengantarku sampai kepintu operasi, selanjutnya aku ditangani dengan suster yang sedikit lebih tua dari usiaku. Ia dia bernama Juli. Suster itu langsung membawa berkas dan menyuruhku untuk bertanda tangan. Sontak kutanya dengan suster yang memakai penutup kepala serba hijau. “Untuk apa tanda tangan ini sus?” tanyaku. Oh, ini untuk menandakan kalau pasien setuju dilakukannya operasi terhadap dirinya bang. “Oo0o0o0,” jawabku menggigil karena ruangan begitu dingin.
Aku dipindahkan dari kursi roda ketempat tidur yang beralaskan seperti seng. Itu aku katakan, karena saat aku dipindahkan, terasa punggungku kaku karena dingin yang dihasilkan tempat tidur tersebut. Setelah itu selang beberapa menit datang seorang dokter yang memperkenalkan dirinya. Setelah perkenalan singkat itu, dirinya sontak mengatakan hendak membius aku sembari menjabat tangaku yang sepertinya sudah beku kaiak es batu. Disuruhnya aku berbalik kesebelah kanan, dengan kaki melipat dan tangan persis disamping kepala. “Tahan ya, sedikit terkejut dan tidak sakit,” kata dokter berkulit putih ini.
“Cenguueeetttt” bunyi dari obat bius yang disuntikkannya kepadaku. Setelah penyuntikan yang berlangsung hanya sekitar 15 detik itu, dia menginstruksikan agar aku mengangkat kedua kakiku. Imbauan pertama, kedua kakiku masih bisa terangkat namun imbauan kedua, kakiku tak bisa lagi digerakkan dan sontak aku merasa kehilangan kakiku. Setelah bius bereaksi dikakiku, kedua tanganku diikat dan penglihatanku dihalangi dengan sebuah penghalang yang bertujuan aku tidak bisa melihat mereka mempreteli bagian kemaluanku. Sudah tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan kepadaku, aku merasakan ngantuk yang sangat dalam. Akupun tertidur namun sadar. Dalam tidurku, aku bisa merasakan perut bagian bawahku dibuka dengan gunting. Aku merasakan gesekan gunting dengan kulitku, namun aku tidak merasakan sedikit sakit akibat gesekan tersebut.
Dipertengahan operasi yang aku jalani, badanku yang begitu dingin akhirnya tersadar dan membuka mataku. Langsung aku bersuara dan meminta kepada suster yang ada disana untuk menyelimuti tubuhku karena aku merasakan dingin yang sedingin-dinginnya. Mereka langsung memberiku selimut tebal yang karena itu tubuhku sedikit terasa hangat. Namun entah kenapa, aku merasa mual dan sangat mual. Aku tak berani bersuara lagi, menahan rasa mual yang melanda tubuhku, aku terus-terusan menelan air liurku sampai air liurku tak terasa lagi.
Bibir kering akibat pendingin ruangan yang begitu banyak dan sepertinya di stel dengan ukuran dingin 16 derajat celcius. Terus aku melawan rasa mual itu sampai aku tertidur pulas. Tidak mengetahui apa yang terjadi, ternyata aku sudah tidak berada diruangan yang dingin. Ruang pemulihan merupakan ruanganku setelah aku dioperasi. Tempat ini biasa digunakan bagi pasien yang baru selesai dioperasi sebelum diantar keruagan tempat dimana dia dirawat dan menginap.
Beberapa menit pasca operasi, setengah sadarku melihat sesosok wanita berseragam hijau mengantarkanku kedepan pintu operasi untuk menyerahkan aku keperawat yang ada diruangan tempat aku dirawat dan menginap. Setelah itu, akupun dibawa ke ruanganku. Belum terasa sakit saat aku batuk pasca operasi. Hal itu kemungkinan karena bius yang ada dalam tubuhku masih bereaksi.
Tidur pun menjadi pilihanku karena ngantuk menyerang. Beberapa jam aku terpulas ditempat tidurku persisnya di kamar 704 rumah sakit Coloumbia Asia yang berada di Jalan Listrik Kota Medan. “Aduh, sakit sekali kurasakan” ternyata, bius yang ada di tubuhku sudah habis. Sakitpun mulai melanda sebagian tubuhku. Terasa sakit saat batuk sedang aku laksanakan. Ntah kenapa jelang operasi, batuk melanda diriku. Padahal jauh hari, batuk belum menghampiri diriku.
Merana, bisa dikatakan begitu. Karena batuk tak bisa ditahan karena dia menggerogoti tenggorokanku sehingga rasa gatal tak mungkin dipungkiri. Namun rasa sakit itu hanya beberapa menit. Itu karena aku langsung menghubungi suster dan meminta obat penahan rasa sakit. Setelah aku meminum obat yang diberikan suster itu, rasa sakit yang aku alami perlahan menghilang.
Sehari setelah aku selesai operasi, BlackBerry aku berbunyi dan menandakan ada BlackBerry Messanger (BBM) yang masuk. Aku lihat dan rupanya, perempuan yang aku kenal dari BBM mengirim pesan sama aku. “Sakit apa? Kok gak ngabari? Sudah berapa lama dirawat disana? Dirumah sakit mana? Dan kamar nomor berapa,” BBM dari perempuan bernama Emi yang terdaftar di kontak BBM aku. Sontak akupun menjawab “Aku dirumah sakit Coloumbia Asia dikamar 704. Beberapa hari sebelum aku dioperasi, aku sudah mencoba menghubungi mu, tapi tak ada respon” jawabku membalas BBM dari Emi.
Keesokan harinya, Emi langsung membesuk aku dirumah sakit. Kali pertama aku melihat wanita berparas cantik sepadan dengan tinggi badan dan kulit putih berjilbab membuat anggun dirinya dipenglihatanku.
“Akbar ya?” sapanya ramah.
“Ia. Kamu Emi ya?” jawabku. “Silahkan duduk ditempat yang kosong,” jawabku seloro.
“Ia. Ini ada sedikit bawaanku. Dimakan ya.” Jawabnya ramah.
“Baiklah,” kata ku singkat.
“Gimana keadaan kamu sekarang? Oia, emang kamu sakit apa?” tanyanya.
(Percakapan pun dimulai)
“Alhamdulillah sudah mendingan. Aku sakit Hernia mi,” jawabku.
“Udah lama? Kok milih untuk dioperasi?” tanyanya
“Udah. Penyakit ini aku derita saat aku masih kecil. Sudah berbagai pengobata aku lakukan, namun tak kunjung sembuh. Jadi ya, cara terbaik harus dioperasi dan ya ini sekarang keputusanku, alhamdulillah sekarang penyakit yang aku derita selama 24 tahun sudah clear dalam beberapa jam saja,” uraiku kepada wanita berparas cantik ini.
“Ooohh, Alhamdulillah ya,” jawabnya singkat namun padat.
Setelah berbincang denganku, keluargaku pun datang untuk melihatku. Terkejut, baik itu orangtuaku maupun saudara kandungku. Namun keluargaku tak mau bertanya panjang lebar siapa perempuan ini. Mereka hanya melontarkan pertanyaan, siapa ini bar? Langsung ku jawab, teman ma. Kebetulan yang bertanya mamaku. O0o0o0, jawab mamaku.
Selama Emi disitu, yang merawat aku, baik itu mengambil air minum, menyulangi makanku dan membuang kotoran yang ada dimulutku, ya wanita berjilbab ini. Aku heran, kenapa dia melakukan hal ini kepadaku. Padahal ini kali pertama aku dan dia bertemu. Namun serasa sangat lama kami kenal karena perilakunya terhadapku saat itu.
Bukan aku saja yang merasa heran, seluruh keluarga intiku juga bertanya-tanya. Siapa perempuan ini. Tak terasa, wanita berkulit putih ini sudah menemanika sekitar 11 jam. Waktu itu, jam dinding dikamarku sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Aku bertanya, pulang naik apa Emi? O0o0o0, ntar bisa naik taksi. “Emang, rumah Emi dimana?” tanyaku. “Galang,” jawabnya singkat. Wew, agak jauh ya rumahnya. Gak apa-apa tu kalau naik taksi kesana? “gak papa kok. Aman-aman aja,” jawabnya penuh dengan keyakinan.
Cerita punya cerita, akhirnya aku tahu kalau dirinya diantar jemput sama supirnya. Aku mengetahui itu dari penuturan Emi sendiri. Setelah dua hari dia menghampiri ku dirumah sakit, akhirnya dia mau angkat cerita mengenai dirinya pulang menaiki dan sama siapa. Hari berganti, Emi tak lagi datang. Hanya kabar dan komunikasi dari selular. Akupun pulang kerumah karena kondisiku sudah agak baikan. Pesan dokter pada diriku, aku kudu banyak istirahat dan obatnya jangan lupa diminum. Semenjak aku pulang dari rumah sakit itu, sehari setelah dirumah, keesokannya, Emi berkunjung kerumahku. Perhatian dan kepeduliannya tak berubah dan tak ada bedanya. Aku jadi semakin bertanya kenapa dan mengapa. Setelah pertanyaanku semakin larut, wanita itu menghilang bagai ditelan bumi. Kesehatanku pulih, perempuan pun itu pulih dari hadapan dan pikiranku.
Komunikasi tak lagi terjadi, kenangan tinggal kenangan. Namun, kebaikan, perhatian dan santun dari perempuan itu, tak dapat aku lupakan. Sampai sekarang aku belum tahu apa maksud dan tujuan wanita itu memperlakukan aku sedemikian melebihi pacarku sendiri. Biarlah itu tetap menjadi kenangan yang terindah selama aku dirawat dirumah sakit. Terakhir aku mendapat kabar tentang dirinya, dirinya hendak menikah. Dalam hatiku, alhamdulillah semoga pernikahan dia berjalan lancar dan mempunyai keturunan yang baik dan bisa membina keluarga shakinah ma wahdah warohmah. Terimakasih Nuri Erika Mita.
Rehab Rumah Dinas Wali Kota Medan Rp 2,5 Miliar
created by Informasi Seputar Medan di 3/20/2012 01:02:00 AM
Rincian yakni, anggaran untuk Rehabilitasi Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan sebesar Rp750juta, Rehabilitasi Garasi dan Ruang Kerja Rumah Dinas Wali Kota Medan sebesar Rp800juta, Rehabilitasi Dapur dan Kamar Rumah Dinas Wali Kota Medan sebesar Rp1miliar.
Forum Indonesia untuk Transparansi (Fitra) Sumatera Utara menyayangkan besarnya anggaran tersebut. "Ditengah-tengah maraknya issu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengguncang setiap lapisan masyarakat, dimana masyarakat sudah mulai mengencangkan ikat pinggang menjelang kenaikan harga BBM, Pemerintah Kota Medan malah menghambur-hamburkan uang dalam anggaran untuk renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5Miliar," ungkap Rurita Ningrum selaku Sekretaris Eksekutif FITRA Sumut, Minggu (18/3).
Menurutnya, anggaran rehabilitasi rumah dinas Wali Kota Medan yang terletak di persimpangan Jalan Imam Bonjol dan Jalan Sudirman terlalu besar. Yang artinya juga bahwa Wali Kota Medan Rahudman Harahap hanya menghamburkan uang untuk kepentingan pribadi dan keluarganya tanpa memikirkan masyarakat.
"Padahal kalau kita lihat garasi dan pendopo rumah dinas Wali Kota Medan sebenarnya masih layak dipakai dan tidak perlu direnovasi sehingga anggaran renovasi ini hanya "proyek-proyekan" untuk mengambil keuntungan segelintir orang," ujarnya.
Jika digunakan untuk kebutuhan lain, tambah Rurita, anggaran renovasi sebesar Rp2,5miliar bisa menyelamatkan 417 Kepala Keuarga (KK) miskin untuk membeli rumah RSS (Rumah sangat sederhana). Harga satu unit rumah RSS kurang lebih Rp60Juta, maka anggaran renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5miliar di bagi Rp60juta maka akan bisa menyelamatkan masyarakat miskin 417 KK miskin.
Anggaran ini juga terlalu mewah dan tidak manusiawi bila dibandingkan dengan anggaran program KIBLA (Keselamatan Ibu melahirkan dan anak) tahun 2012 sebesar Rp 22.000.000. "Padahal APBD ini adalah milik rakyat dan sudah seharusnya program-program APBD ini untuk kepentingan rakyat bukan untuk merenovasi rumah Dinas Wali Kota yang hanya untuk kepentingan pribadi," ungkapnya.
Untuk Fitra Sumut meminta kepada DPRD Kota Medan untuk segera membatalkan renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5miliar karena sangat mencederai hati nurani rakyat.
"Kedua, kami meminta dan mengetuk hati nurani Wali Kota Medan agar membatalkan renovasi rumah dinas Wali Kota Medan, karena kebijakan anggaran untuk renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5miliar tidak memperlihatkan kebijakan pemerintah Kota Medan yang peka dan peduli terhadap kondisi masyarakat Kota Medan yang masih banyak dibawah garis kemiskinan," ujar Rurita.

Pabrik busa yang berada di Jalan Star Ban Lingkungan 12 Medan Polonia terbakar. Api berkobar mulai pukul 18.30 WIB sampai saat ini api belum bisa dipadamkan. Menurut pantauan www.tribun-medan.com dilapangan api kian menyebar sampai kepemukiman warga.
Pabrik yang berukuran 150x70 meter ini terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar sehingga membuat si jago merah kian membesar. Ledakan material pun terjadi pada insiden kebakaran yang melanda pabrik busa springbed dengan merek Caisar ini. Akibatnya, kedua korban yang semula ingin membantu pemadam kebakaran, tercampak dan jatuh dari tembok akibat ledakan.
Api masih sulit untuk dipadamkan karena pabrik dikelilingi tembok dan perumahan warga.(*)

Anda pernah mendengar kisah tentang seseorang yang melakukan suatu pelanggaran, tetapi ketika diprotes malah balik menggertak, "Anda tahu saya ini siapa?"
Ternyata, perilaku seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di Amerika. Penelitian baru dari University of California at Berkeley memaparkan, orang yang memiliki kelas sosial yang lebih tinggi cenderung tidak jujur dalam bernegosiasi, melanggar aturan untuk dapat memenangkan hadiah, membuat keputusan-keputusan yang tidak etis, dan perilaku-perilaku tidak beretika lainnya, daripada mereka yang datang dari kelas sosioekonomi yang lebih rendah. Orang berstatus sosial yang lebih tinggi, atau orang kaya, juga cenderung berbohong dan bersikap curang.
Menurut Karl Aquino, profesor bidang perilaku organisasi dan manajemen sumber daya di Saunders School of Business, University of British Columbia di Canada, ada bukti yang menyatakan bahwa orang kaya merasa memiliki kontrol yang lebih besar terhadap lingkungan mereka. Dengan "keuntungan" tersebut, mereka dapat mengurangi stres dan kemungkinan mendapatkan pemahaman yang lebih besar mengenai kepastian hidup.
Dalam eksperimen di jalan raya, peneliti mengamati bahwa pengemudi dengan mobil mahal cenderung untuk memotong jalan para pengendara motor di perempatan jalan yang padat, dan kurang menghargai orang yang sedang menyeberang jalan. Secara kasar, 45 persen pengemudi mobil yang dianggap memiliki status sosial yang tinggi mengabaikan pejalan kaki, dibandingkan dengan pengemudi kendaraan yang lebih sederhana (30 persen).
Eksperimen ini memang tidak membuktikan bahwa pengemudi mobil mewah melanggar peraturan lalu lintas karena kekayaan membuat mereka egois. Namun, pengemudi tampaknya mendahulukan kepentingannya lebih dulu, tanpa memedulikan hukum dan kepentingan orang lain.
"Mereka (pengemudi mobil mewah) itu memprioritaskan diri sendiri," ujar Paul Piff, mahasiswa pasca sarjana University of California, Berkeley, yang memimpin studi ini. "Mereka kurang memikirkan apa yang dilakukan orang lain, dan tampaknya menganggap hukum itu berpotensi untuk dilanggar. Semakin banyak yang mereka miliki, mereka semakin terbiasa memaksakan keinginan mereka sendiri."
Namun, hal ini tidak berarti mereka dengan sengaja melakukannya. Hal ini mungkin ada kaitannya dengan cara di bawah sadar untuk lebih berfokus pada kebutuhan diri sendiri. Selain itu, peneliti juga mengemukakan bahwa tidak semua orang kaya bertindak kurang etis, sedangkan orang miskin selalu beretika.
Aquino menambahkan, sulit mengatakan apakah karena kaya orang jadi tidak beretika, atau apakah orang bertindak tanpa etika agar menjadi kaya. Namun, "Ada bukti bahwa perilaku 'brengsek' bisa membantu orang menjadi lebih sukses secara finansial, dan kemungkinan ada beberapa karakter lain seperti agresi, kasar, dan kurang berempati menghasilkan kemampuan seseorang untuk mengumpulkan kekayaan."
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences ini, terlihat juga bahwa orang di kelas sosial yang lebih tinggi seringkali kurang menyadari orang lain, tidak mampu mengenali apa yang dirasakan orang lain, kurang ikhlas, dan menjauhkan diri secara sosial. Contohnya, kerap sibuk dengan ponselnya, atau mencoret-coret kertas, ketika berinteraksi dengan orang lain. (*)
Oleh: Ira Arindhini Sitepu
Sore itu pertemuan dengan orang tersayang akhirnya terjadi persisnya disebuah cafe ternama di daerah pelataran Ibukota. Disudut pojok café pilihanku untuk duduk menunggu seseorang yang telah kujanjikan bertemu.
Sore itu, ditengah keramaian kota, dari sudut pintu masuk café terlihat sosok lelaki yang aku nantikan. Lelaki yang aku kagumi selama bertahun-tahun karena sifat baiknya. Lelaki yang hendak aku temui ini sangat akrab dipanggil Marwan.
Perkenalan kami sudah berjalan 5 tahun, entah bagaimana tuhan menakdirkan diriku mengenal sosok lelaki berkulit putih ini. Perkenalan ini berawal dari bangku SMA persisnya kelas II. Waktu itu, sahabatku memperkenalkan aku padanya. Semenjak hari itu, kami dekat sampai saat ini.
Pertemuan hari ini dikarenakan ada yang ingin Marwan katakan kepada diriku. Seminggu sebelum pertemuan di café ini, hubungan kami dingin karena Marwan memilih untuk mendiamiku. Fine, aku berpikir bahwa ini satu diantara cara untuk sendiri. Meski aku mengetahui apa yang membuat lelaki yang aku kagumi ini dingin terhadapku.
Disepanjang aku menunggunya, pikiranku terus melayang dan bertanya-tanya. “Kira-kira apa yang hendak Marwan katakan,”tanyaku dalam hati. Apakah kalimat cinta yang memintaku menjadi pacarnya ? atau hanya mengatakan bahwa kedekatan ini hanya sebatas rasa sayang tanpa status.
"Ahh mana mungkin," pikirku. Dia terlalu sibuk untuk fokus melanjutkan study SI-nya demi cita-cita yang sering ia katakan kepadaku. "Lantass apa??," Pikiranku masih bertanya-tanya. Sampai aku menemui sosoknya yang sekarang duduk tepat dihadapanku dan telah meneguk minuman yang tadi ia pesan.
Aku masih memandangi wajahnya membayangkan seribu kata apa yang akan dia ucapkan kepadaku. Sehabis pulang kerja membuat pakaiannya yang mulai kusut. Walaupun begitu, aku terus memandang semua bagian tubuhnya, berharap menemukan sedikit ‘clue’ percakapan yang akan Marwan mulai di detik berikutnya.
"How are you today ?" Marwan membuka percakapan. "So good , meski ada beberapa hal yang membuatku bertanya-tanya untuk beberapa hari ini," sindirku.
"Hahaha okey, maaf membuatmu menunggu sedikit lama dari yang kita janjikan. Karena aku tadi dapat sedikit tambahan kerja," terang Marwan padaku.
"Fine, so apa yang akan harus aku dengar sore ini?" tanyaku sambil tersenyum simpul padanya. Setelah kulontarkan pertanyaan terakhir itu, kulihat wajahnya yang berubah menjadi sedikit kaku dan diam sejenak.
"Hmmm.. I'm not ready to talk this, tapi mungkin ini saat yang tepat sebelum semuanya menjadi lebih jauh lagi mawar" cetusnya dengan nada yang tiba-tiba merendah. "Maksudnya??" sambungku dengan cepat.
" Yahh, aku tau kita sudah saling mengenal beberapa tahun ini. Semua masalah yang pernah aku hadapi, selalu ku share dengan dirimu. Selain itu, kau selalu mengingatkan aku untuk hal-hal yang sering lalai untuk aku lakukan. Sejak SMA kita sudah mulai dekat, namun pertengkaran selalu menghiasi kedekatan kita dan biasanya pertengkaran itu bermula selalu karena diriku yang cuek banget, egois dan mungkin bukanlah orang yang cocok untuk mu saat ini, Mawar,” beber Marwan.
"Maksudnya apa? Aku benar2 gak mengerti apa yang sedang kau bicarakan ?" Sambungku dengan nada sedikit meninggi.
"Mawar, maaf saat ini aku gak bisa menjalani hubungan kita seperti biasanya, aku bakal jelasin ini kenapa dan gak mungkin bagiku. Pertama aku harus bekerja dari pagi hingga sore yang sering lupa untuk mengabarimu bahkan membalas semua sms atau mengangkat telponmu. Aku sadar itu membuatmu sakit,” ujar Warman.
Aku tertegun mendengar kata demi kata yang keluar dari bibir merahnya itu. “Aku sedang sibuk mengurus study ku saat ini. Itu semua aku lakukan demi masa depanku, dan aku ingin membahagiakan orangtuaku. Itu semua menambah waktu kesibukanku dari biasanya,” ungkap Marwan sembari meminum segelas air pesanannya Marwan kembali melontarkan kata-katanya. “Kamu melihat sangat sedikit waktu yang akan kita lalui bersama,” sambung Marwan.
Aku ingin fokus dengan karir dan study-ku Mawar, sepertinya aku tidak mungkin bisa membagi waktu lagi untuk mu.
(Masih dalam percakapan)
Aku memang egois yang gak pernah mau merubah sedikitpun sikapku untuk mengerti posisimu, dan aku sadar akan hal itu Mawar.
“Itulah yang aku takutkan. Kedekatan kita ini semakin jauh dan kamu semakin sakit dan aku gak mau itu. Karena itu aku rasa aku butuh waktu untuk focus dengan ini semua" tegas Marwan dengan segala ketegangannya.
Suasana menghening seketika, aku mencoba menarik nafas panjang menahan air mata yang hampir keluar. “Aku sangat tidak ingin air mata ini keluar saat bertemu dengan orang yang aku sayangi selama bertahun-tahun,” gumamku dalam hati. Disisi lain café itu kulihat, sepasang manusia sedang bercengkrama. Sayang, nasibku tak seperti mereka.
Untuk kedua kalinya aku menarik nafas panjang dan kuhela perlahan mencoba menjawab sekaligus menyanggah semua perkataan yang membuat aku syok sore itu.
"Hhmm, serumit itukah untukmu mnjalaninya?, bukankah dulu kau yang bilang, saat kau memulai perkuliahan ini, aku sering mengatakan bahwa kau akan semakin sibuk dan pastinya waktu untuk sekedar menyapaku akan semakin sedikit dan kau akan semakin sibuk dan kau akan semakin lupa dengan hal-hal kecil yang sering kau lupakan termasuk menjaga kesehatanmu? Lantass apa yang kau jawab saat aku berkata seperti itu? kau menjawab "bukankah aku selalu punya kamu yang akan mengingatkanku untuk hal itu" benar? Itu jawabmu kan? Lantas kenapa kamu mempermasalahkan keberadaanku yang hanya karena kemarin aku sedikit kesal dengan mu dan datang memarah2imu," kata dengan mata berkaca.
Marwan terdiam sambill melihati wajahku yang mungkin sudah sejelek makibau karena mencoba menahan tangis dan berusaha bicara dengan emosi yang tertahan.
"Aku menyayangimu dan aku tak pernah mempermasalahkan sikap cuekmu, egoismu. Aku juga gak pernah melarangmu untuk menggapai semua mimpimu, benar?" Sambungku dengan nada yang sudah mulai parau.
"Sekarang aku tanya kepadamu, benarkah tak ada lagi niat untukmu bersamaku dikemudian hari hanya karena sikapku kemarin yang kau anggap aku sama seperti waktu SMA memarahimu karena kau tak memberiku kabar? Dan apakah hanya karena masalah kemarin, semua perlakuanku slama ini kau anggap tidak nyaman??" Lanjutku sambil memandangi wajahnya.
Kulihat Marwan terdiam mencoba membuang pandangannya dariku. Ntah apa yang dia cari disekeliling pandangannya, aku masih saja melihat sosok yang kukenal lembut itu dengan segala pertanyaanku.
Kulihat dia menggossok-gosokkan hidungnya dengan perut ibu jarinya. Kemudian dia memandang kearahku lagi , kali ini dia mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi.
"Mawar, kau tau perasaanku yang sebenarnya tanpa harus aku ucapkan, aku hanya tak ingin menyakitimu lebih dari ini hanya karena keegoisanku, karena aku sedang ingin fokus mee…
"Jawab pertanyaanku Marwan dengan jelas," Tegasku memotong pembicaraannya.
"Okey okey Mawar. Ya aku menyanyangimu, aku ingin bersamamu dikemudian hari nanti, aku juga nyaman dengan semua omelan-omelanmu slama ini, tapi aku ingin fokus Mawar, aku takut menyakitimu, percuma masalahnya tuh tetap sama, selalu seperti ini kan?" Jawab Marwan mencoba menjelaskan.
"Hmm jika memang seperti itu, kau tau kenapa manusia diciptakan berpasangan?? Karena gak da satu pun yang bisa hidup sendiri, dan untuk proses menjadi pasangan yang suci dimata Tuhan itu gak mudah, selalu ada cobaan yang didatangkan-Nya lewat setiap masalah yang kita hadapi bersama, kenapa kau berpikir aku akan sakit hati dan masalah ini akan terus sama? Coba pikirkan sejenak, bukankah untuk menyatukan 2 orang yang berbeda menjadi kesatuan yang sempurna saling melengkapi itu juga bukan hal yang mudah,” terangku kepada Marwan.
Mulai dari masa penjajakan, mengenal lebih lanjut, mendapatkan masalah, memecahkannya bersama,memahami satu sama lain, sampai pada akhirnya mereka memutuskan untuk terus bersama selamanya. “Bukankah itu terlihat tak mudah?” tanyaku.
Aku tak habis pikir dengan sikapmu yang hanya karena masalah kemarin, kau mengambil kesimpulan dari caraku kemarin bahwa aku tak menerima sikapmu selama ini.. Dengan semua alasan yang kau buat, aku tak mengerti kenapa sekarang kau berpikir seperti ini.
Dear, coba sejenak pikirkan, ini semua proses dan proses ini baru dua kali kita hadapi kan, ini semua proses untuk aku dan kamu saling mengenal satu sama lain lebih dalam, biarkan aku terbiasa dengan sikapmu, agar jika Tuhan mengehendakiku untuk terus hidup bersamamu kelak.
Aku benar-benar mengenal sosok itu, melayaninya dan memahami setiap tindakannya. “Kenapa kau takut dengan proses ini?” tanyaku kepada Marwan.
Segala sesuatunya mendapati proses. Aku tahu impianmu yang menjadi prioritasmu saat ini. Aku sadar, mungkin dengan adanya masalah kemarin, membuatmu sadar kau tak bisa fokus dengan impianmu karena ada aku “aku yang membuat pikiranmu terbagi, benar?" tanyaku.
Suasana menghening seketika, aku mencoba melanjutkan berbicara dgn tenang. "Aku hanya ingin mengenalmu lebih jauh, agar aku terbiasa dengan sikapmu, tapi jika hal itu pun membuatmu keberatan untuk tetap bersamaku, aku ikhlas dear, aku ikhlas jika aku harus membiarkanmu pergi untuk menggapai mimpimu.
Kejarlah impianmu selagi masih banyak waktu untuk itu. Kejarlah mimpimu yang didalamnya juga itu sebagian dari mimpiku untuk melihatmu sukses dikemudian hari.
Tangisku mulai menetes membanjiri pipiku tanpa kusadari sejak tadi. Tak tahan membendung semua perasaan ini aku mencoba mengatakan ini sekali lagi kepadanya.
Kalau ini membuatmu bahagia dan membebaskanmu dari segala sesuatu yang memberatkanmu untuk melangkah, pergilah. Aku rela demi mimpi-mimpimu aku harus melewati hari-hariku tanpa mengomelimu, aku rela demi mimpi-mimpimu hari-hariku sunyi tanpa adanya tawa diantara kita lagi.
Aku bahagia jika semua mimpimu terwujud, aku bahagia melihat orang yang aku omelin setiap hari , suatu saat nanti hidup bersama mimpi yang slama ini ia kejar, tapi please jangan kau suruh aku untuk berhenti menyayangimu sampai disini..
Biarlah rasa sayang ini terus ada meski dia tak lagi disambut dengan kasihmu. “Ini suatu perasaan yang terlalu istimewa untuk aku buang," Sambungku dengan nada sangat parau.
Tak kuat dengan ini semua, akhirnya aku menumpahkan semua air mataku dengan berlari menuju toilet yang ada di cafe itu, aku menangis semenjadi-jadinya merasakan seperti sebagian dari tubuhku mati karena rasa sakit yang teramat dalam ketika aku harus mengetahui ini semua, tak perduli dengan orang yang akan mendengarkan tangisanku ditoilet itu, aku terus menangis mencoba melepaskan seseorang yang selama ini kusayangi demi semua mimpinya.
Aku menemukan titik ikhlasku,namun aku kuakui aku tak mampu menahan sakitnya. Setelah beberapa saat kemudian aku menyelesaikan tangisku, kupandangi wajahku dikaca toilet dengan beberapa sisa air mata yang masih menempel di ujung-ujung pelipis mataku.
Mencoba menarik nafas panjang dan siap menemui Marwan kembali disudut cafe yang sejak tadi aku tinggalkan.
Aku melangkah meninggalkan toilet, kulihat Marwan masih dengan wajah tertunduknya sambil memegangi kepalanya, kucoba untuk menenangkan hatiku sebelum menatap wajahnya. Sekarang aku duduk didepannya lagi, perlahan dia menaikkan wajahnya untuk melihatku.
Astaga seperti ada beribu tikaman di dada ini saat mata kami saling bertemu. "Maafkan aku Mawar," serunya memecah keheningan kami.
Aku tak mau perpisahan ini terlihat buruk, aku harus bisa membuatnya percaya bahwa aku orang yang bisa dia andalkan untuk hal ini. Berkali-kali aku mencoba menenangkan hatiku dan mencoba menunjukkan wajah ikhlas kepadanya dengan sesimpul senyum yang aku berikan saat dia menatapku.
Entah dia heran dengan senyuman itu atau apapun yang ada dibenaknya,aku mencoba menahan senyum ini untuk beberapa detik.
"Aku gak papa, aku akan baik-baik saja, lagi pula itu berartikan pekerjaanku untuk mengingatkanmu dan mengomel-ngomelinmu akan tidak ada lagi, dan kau membuat umurku jauh lebih panjang dari sebelumnya karena tidak melakukan hal itu lagi. Benar kan hahaha," Aku mencoba tertawa palsu menahan sakitku saat harus mengatakan itu semua, dan demi suasana yang sudah dari tadi membeku.
Tapi kulihat dia hanya tersenyum, dan itu senyuman paling ‘jelek’ yang pernah kulihat diwajahnya karena dia memaksa untuk tersenyum dihadapanku dengan hati yang juga terluka dan merasa bersalah.
"Yasudah, hari sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang agar kamu bisa beristirahat untuk bekerja esok," celotehku sambil berdiri mengisyaratkan untuk segera meninggalkan tempat ini.
Tanpa berkata apapun, dia hanya menuruti apapun yang kukatakan sore itui. Entah itu sebagai tebusan atas rasa bersalahnya, entah karena enggak ada lagi kata yang mampu dia lontarkan, aku tak tahu.
Sore itu dia menawarkan dirinya untuk mengantarkanku pulang sampai kekosan ku. Akupun tak ingin menolak niat baiknya, dan akhirnya dia mengantarku pulang. Dalam perjalanan diam menyelimuti perjalanan kami menuju kosanku.
Sampai didepan kost, kami saling bertatap untuk beberapa menit, sampai pada akhirnya aku menyuruhnya untuk segera pulang karena hari mulai gelap. Dia pun berpamitan kepadaku dan akhirnya melangkah membelakangiku. Ku pandangi punggungnya yang berjalan meninggalkanku sampai sosok itu tak terlihat lagi.
Seperti ada yang hilang ketika dia pergi dari hadapanku sejak tadi. Hari mulai gelap, kumandang adzan mulai terdengar disegala penjuru angin. Aku masuk dan berniat mandi. Selesai mandi aku mengambil waktuku sejenak untuk melaksanakan tugasku sebagai seorang hamba yang lemah menunaikan sholat.
Dibeberapa menit aku mengambil waktu khusyuk bersama-NYA, kini aku ingin bercerita kepadanya lewat doa-doaku.
"Ya Rab, Engkaulah sipemilik kasih yang Maha Mengasihi terimakasih atas setiap kasih yang Engkau berikan sampai hari ini dengan segala nikmat dan karunia yang aku miliki saat ini. Hari ini aku dan dia sudah memutuskan untuk tak menjalani hubungan istimewa ini lagi. Dan Kau tahu ini sangat begitu berat untuk kujalani. Namun peliharalah aku selalu dalam bahagia-Mu meski tanpanya. Aku tak ingin menjadi mahluk egois yang menghambatnya mengejar mimpi-mimpinya, karenanya mudahkanlah selalu langkahnya untuk meraih impiannya. Ya Rabb, Engkaulah yang Maha Mengetahui. Jika didalam hatinya masih tersimpan rasa sayang untukku, jadikan rasa itu penguat untuk hari-harinya yang sejak esok harus tanpa aku disampingnya, jangan jadikan dia lemah karena perasaan itu.
Ya Rab, aku sadar aku mahluk mu yang jauh dari kesempurnaan, dan karena ketidaksempurnaanku itu dia harus mengakhiri ini semua. Namun jangan kau jadikan aku mahluk yang tidak mau berusaha untuk mendekati kesempurnaan itu, tuntunlah aku untuk menjadi hambaMu yang berahlak jauh lebih baik dari hari kemarin yang terus berada dijalanmu. Aku ingin menebus rasa bersalahku yang telah membuat ini semua terjadi dengan berusaha untuk terus menjadi yang lebih baik dari hari kemarin. Jika usaha dan semangatku nantinya Engkau rasa sudah pantas untuk bisa bersamanya lagi dikemudian hari nanti, maka berikanlah kesempatan untuk aku mencoba mengenalnya lagi ya Rabb.
Ya Rab kupasrahkan seluruh hidupku hanya kepada-MU, ku ikhlaskan semua yang terjadi hari ini kepadaMu, hari esok masih misteri bagiku, begitu pula dengan jodohku yang ada ditangan-Mu, namun bolehkah aku berharap dan meminta kepada-Mu dikala suatu hari nanti kau ingin memberikanku pendamping hidup, pertemukan aku dengan dia kembali dalam kasihMu yang suci, aku ingin dia yang menjadi imamku kelak yang akan mengasihiku dan menuntunku untuk terus berada didalam KasihMu ..
Ya Rab,sesungguhgnya Engkaulah Maha Pelindung, Lindungilah dia selalu dari segala macam marabahaya yang ingin melukainya, dan jauhkan dia dari hal-hal buruk yang menyesatkannya.
Ya Rab, terimalah doa-doaku karena sesungguhnya Engkauulah tempat ku memohon dan meminta..
Amin," pintaku dalam doa sehabis sholatku.
Selesai ku bercerita pada-NYa ada ketenangan yang kurasakan, kutitipkan dia bersama cinta Kasih-Nya , biarlah Dia yang menentukan nasib kisah kasih kami ini, pikirku..
Sejak hari itu kujalani hari demi hari tanpa Marwan dengan semangatku untuk juga segera menyelesaikan kuliahku. “Yahh kujadikan rasa sayangku ini sebagai motivatorku untuk terus bisa semangat menjalani hari-hariku tanpanya, karena aku juga tahu, Marwan tak ingin melihat Mawarnya sedih dan tak bersemangat hanya karena perpisahan itu, karena didalam hati kami yakin, jika Tuhan menghendaki kami bersama disuatu hari nanti, maka Marwanku akan menjemputku kembali bersama mimpi yang telah ia capai,” harapku. (*)
Hanya 50 Ribu Pekerja yang Ikut Jamsostek
created by Informasi Seputar Medan di 2/28/2012 01:18:00 PM
Jumlah buruh dan pekerja di Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun yang terdaftar sebagai peserta Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek) hanya 50.774 orang. Jumlah tersebut merupakan pekerja di 682 perusahaan. Perusahaan kecil hingga menengah masih minim keikutsertaan Jamsostek.
Peserta Jamsostek tersebut, merupakan jumlah yang sedikit dan masih jauh dari jumlah sebenarnya. Dimana, lemahnya sosialisasi yang diberikan, rendahnya kesadaran pengusaha, dan lemahnya pengawasan menjadi faktor penyebabnya. Saat ini, PT Jamsostek (Persero) Kantor Cabang Pematangsiantar yang melingkupi sembilan kabupaten kota sebagai cakupan wilayah kerja tetap berupaya memberikan sosialisasi bagi pengusaha.
Seperti disampaikan oleh Kepala Kantor Cabang PT Jamsostek (Persero) Pematangsiantar, Rasidin SH, Selasa (28/2) dalam "GSS Gathering dan sosialisasi manfaat tambahan program Jamsostek bagi tenaga kerja dan perusahaan" di kantor cabang, Jalan Sakti Lubis Pematangsiantar. "Jumlah ini masih sangat sedikit, masih perlu upaya dan kerja keras dalam upaya sosialisasi bagi perusahaan," katanya. (*)

Mengaku prihatin, Aliansi Masyarakat Peduli Hutang Pejabat menggelar Aksi Solidaritas Pengumpulan Koin untuk Membayar Hutang Rahudman Harahap, Senin (27/2).
Aksi yang dilakukan di Pengadilan Negeri Medan ini mendapat perhatian para pengunjung pengadilan. Mereka melihat poster dan kotak berisi uang receh. Koordinator aksi, Ilham Hutabarat mengatakan Aliansi Masyarakat Peduli Hutang Pejabat prihatin Rahudman Harahap punya hutang.
"Kita melihat akhir-akhir ini di media bahwa Pak Rahudman tersandung utang. Kita prihatin masa orang sekelas beliau berhutang?" katanya.
Menurut Hutabarat, saat ini Rahudman punya utang Rp 2 miliar ke seorang anggota DPRD Sumut yang merupakan fungsionaris Partai Golkar. "Kami dengar ini untuk ongkos politiknya. Bagaimana ini? Saya dengar juga anaknya mau mencalonkan diri menjadi Bupati di Tapsel. Nanti bayar perahu politik bisa. Tapi bayar utang ga bisa. Gimana itu?" tambahnya lagi.
Ilham memastikan uang yang terkumpul satu hari ini akan diberikan kepada Rahudman. "Kita belum hitung jumlah yang terkumpul. Tapi ini pasti diserahkan ke Pak Rahudman," ujarnya. (*)

Becak berasal dari bahasa Hokkien, be chia yang artinya "kereta kuda" adalah suatu alat transportasi beroda tiga yang umum ditemukan di Indonesia dan juga di sebagian Asia. Kapasitas normal becak adalah dua orang penumpang dan seorang pengemudi. Di Indonesia ada dua jenis becak yang lazim digunakan:
* Becak dengan pengemudi di belakang. Jenis ini biasanya ada di Jawa.
* Becak dengan pengemudi di samping. Jenis ini biasanya ditemukan di Sumatra.
Becak merupakan alat angkutan yang ramah lingkungan karena tidak menyebabkan polusi udara (kecuali becak bermotor tentunya). Selain itu, becak tidak menyebabkan kebisingan dan juga dapat dijadikan sebagai obyek wisata bagi turis-turis mancanegara. Meskipun begitu, kehadiran becak di perkotaan dapat mengganggu lalu lintas karena kecepatannya yang lamban dibandingkan dengan mobil maupun sepeda motor. Selain itu, ada yang menganggap bahwa becak tidak nyaman dilihat, mungkin karena bentuknya yang kurang modern. Satu-satunya kota di Indonesia yang secara resmi melarang keberadaan becak adalah Jakarta. Becak dilarang di Jakarta sekitar akhir dasawarsa 1980-an. Alasan resminya antara lain kala itu ialah bahwa becak adalah "eksploitasi manusia atas manusia". Penggantinya adalah, ojek, bajaj dan Kancil. Selain di Indonesia, becak juga masih dapat ditemukan di negara lainnya seperti Malaysia, Singapura, Vietnam dan Kuba. Di Singapura, becak kini hanyalah sebuah alat transportasi wisata saja.
Untuk meningkatkan kemampuan becak dan mendorong penggunaan kendaraan tidak bermotor dibeberapa negara maju dikembangkan becak yang menggunaan gigi percepatan/transmisi seperti yang digunakan dalam sepeda modern sehingga bisa melewati tanjakan dengan lebih mudah, desain dibuat aerodinamis serta pengemudinya berada di depan ruang penumpang.
ASAL USUL BECAK
Tahukah Readers, becak ternyata berasal dari Jepang? Kemunculan kendaraan beroda tiga yang ditarik dengan tenaga manusia itu pertama kalinya hanya kebetulan. Tahun 1869, seorang pria Amerika yang menjabat pembantu di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jepang berjalan-jalan menikmati pemandangan Kota Yokohama. Suatu saat dia berpikir bagaimana cara istrinya yang kakinya cacat bisa ikut berjalan-jalan? Tentu diperlukan sebuah kendaraan. Kendaraan itu, pikirnya, tidak usah ditarik kuda karena hanya untuk satu penumpang saja. Kemudian ia mulai menggambar kereta kecil tanpa atap di atas secarik kertas. Orang-orang Jepang yang melihat kendaraan pribadi ditarik manusia itu menamakannya jinrikisha. Penarik jinrikisha biasanya diberi upah tiap minggu. Lama-lama, jinrikisha menarik perhatian masyarakat Jepang, khususnya para bangsawan.
Pada tahun 1800-an jinrikisha akhirnya sampai ke telinga masyarakat di China. Hingga dalam waktu singkat, jinrikisha dikenal sebagai kendaraan pribadi kaum bangsawan dan kendaraan umum. Kendaraan ini diberi nama rickshaw. Sementara penghelanya disebut hiki. Tapi, lama-lama para pemerhati kemanusiaan di China iba melihat para hiki yang kerja bagaikan kuda itu. Mulai 1870 rickshaw dilarang beroperasi di seluruh jalan-jalan negeri China. Sedangkan inrikisha di Jepang sebelumnya sudah lama dilarang. Diilhami jinrikisha dan rickshaw, tiba-tiba saja sekitar tahun 1941 untuk pertama kalinya di kota-kota besar di Indonesia muncul becak. Berbeda dengan jinrikisha dan rickshaw yang beroda dua dengan ban mati, becak sudah lebih modern. Rodanya tiga dan menggunakan ban angin, mengemudikannya dikayuh dengan dua kaki. (*)

