Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

27 Orang Meninggal Karena Rabies

Sepanjang tahun 2010 mulai dari Januari hingga Juni, sebanyak 27 orang meninggal karena Rabies dan yang paling banyak meninggal dunia terdapat di Kabupaten Gunung Sitoli dengan korban mencapai 17 orang. Senin (21/6) Siang.


Kepala seksi Pengendalian Pencegahan Penyakit Bersumber dari Binatang (P3B2), Suhardiono, mengatakan, diantara beberapa Kabupaten Kota di Sumatera Utara , yang paling banyak kasus rabies dari tahun 2009 hingga 2010 ini terjadi di Kabupaten Gunung Sitoli, dengan jumlah gigitan mencapai 1530 gigitan, sedangkan yang sudah diberikan Vaksin Anti Rabies (VAR) sebanyak 675 gigitan.

Suhardiono menambahkan, dari jumlah 1530 kasus gigitan tersebut 17 orang diantaranya meninggal dunia.

Sedangkan pada Kabupaten Kota yang juga banyak kasus rabiesnya terjadi di Kabupaten Nias, dengan kasus gigitan sektiar 165 kasus, dari jumlah kasus tersebut yang diberikan VAR sekitar 126 orang, dan 5 orang diantaranya meninggal dunia

Untuk Kota Medan sendiri ,Suhardiono menjelaskan, jumlah kasus gigitan rabies mencapai 160 orang, dan 114 kasus diantaranya sudah diberikan VAR.
"Untuk korban jiwa di Kota Medan sampai saat ini belum ditemukan,"ujarnya.

Saat ditanya mengenai persediaan VAR (Vaksin Anti Rabies-red) melalui selular, Suhardiono, menjelaskan sampai saat ini, persediaan VAR masih cukup asalkan tidak terjadi peningkatan seperti tahun sebelumnya.

Mengenai masalah VAR yang diberikan tidak sesuai dengan jumlah gigitan, Suhardiono, menjelaskan kemungkinan orang yang sudah kita latih didaerah tersebut menganggap kalau yang terkena gigitan itu tidak berbahaya. Bisa juga dikarenakan masyarakat tidak tanggap terhadap penanganan dan pencegahan penyakit rabies. (AKB)

Setelah di Amputasi, Jesica Memerlukan Kaki Palsu

Jessica warga Tarutung Kabupaen Taput, penderita kanker tulang atau Osteosarkoma di kaki kirinya memerlukan kaki palsu. Setelah tim dokter bedah Orthopedi RSUP H. Adam Malik Medan berhasil mengangkat kanker tersebut dengan cara mengambil kebijakan mengamputasi kaki kirinya, Rabu (16/6) lalu.

“Setelah luka bekas operasi ini sembuh kami berharap Jessica mendapatkan kaki palsu, agar dia bisa berjalan tanpa memakai tongkat,” ujar ibunya Renty Simorangkir, 38, di RSUP H. Adam Malik Medan, Rabu (23/6). Waktu operasi yang dibutuhkan tim bedah Orthopedi RS. Adam
Malik untuk mengangkat kanker tersebut membuthkan waktu sekitar 3 jam, dan Jesica di operasi di Ruangan Operasi Lantai III Gedung Central Medical Unit (CMU).

“Jessica masuk ke ruang operasi jam 14.00, keluar dari ruang operasi 17.00. Begitu keluar Jessica langsung sadar,” ungkap Renty. Menurut informasi yang diterima starberita, Kanker tulang di kaki kiri Jessica sudah terbilang ganas. Makanya tidak ada pilihan lagi kecuali mengamputasi kakinya. Kini Jessica hanya memiliki satu kaki. “Mungkin ini yang terbaik buat anak saya,” terangnya sembari berharap anaknya mendapat bantuan berupa kaki palsu.

Sementara itu, Kasubbag Humas RSUP H. Adam Malik Sairi M. Saragih, DCN, Mkes menuturkan, pasien jamkesmas yang bernama Jessica kini dalam proses penyembuhan maupun pemulihan bekas luka operasi. “Hari ini Rabu (16/6) dia konsul tongkat. Nanti akan diukur berapa panjang tongkatnya dan sampai saat ini kondisinya baik,”jelas Renty.

Sebelumnya, kanker tulang yang menyerang Jessica berawal dari Jesica jatuh saat bermain dengan teman-temannya. Ketika itu Jessica baru kelas 4 SD. Kedua orang tuanya hanya membawa Jessica ke tukang kusuk. Namun, dua tahun kemudian yakni tahun 2009, benjolan sebesar biji jagung muncul tepat di kaki kirinya. Kemudian, lama-kelamaan benjolan tersebut sudah sebesar buah nangka.

Melihat kondisinya semakin parah, keluarga membawa anaknya ke RS. di Jakarta. Setelah dilakukan pemeriksaan, dokter menyatakan kaki
anak pertama dari lima bersaudara ini harus segera diamputasi. Mendengar hal tersebut, pihak keluarga mengaku tidak siap baik itu secara
mental maupun biaya amputasinya, sehingga Jessica pun kembali dibawa pulang ke kampungnya.

Namun tidak ada pilihan lagi, mau tidak mau, Jessica harus segera mengamputasi kakinya karena kanker tulang di kaki kirinya itu sudah
terbilang sangat ganas.(AKB)

Darah di Medan, Aman

Persediaan darah di Kota Medan untuk saat ini masih cukup, karena didalam acara gebyar donor darah kemarin, banyak pendonor sukarela yang menyumbangkan darahnya. Hal ini dibenarkan Sekretaris PMI, drg Susyanto disela-sela kesibukannya, Selasa (22/6).

Dalam gebyar donor darah kemarin banyak pendonor sukarela yang ikut andil dalam gebyar donor darah tersebut, yang mengakibatkan persediaan darah untuk Kota Medan bisa bertahan sampai 10 hari yang tercatat dalam 1 hari Kota Medan membutuhkan 100 Kantong darah.

Menurut Sekretaris PMI, drg. Susyanto, mengatakan dalam gebyar donor darah kemarin, kita memperoleh sekitar 1000 kantong darah. Dalam hal ini kita sangat mengharapkan kelanjutan dari acara Gebyar kantong darah, agar Kota Medan tidak kekurangan darah seperti dulu. "Dalam acara gebyar donor darah yang lalu, saya sangat mengharapkan kelanjutan dari acara tersebut agar Kota Medan tidak kekurangan darah lagi,"ujarnya.

Susyanto menambahkan, Stok darah ada di PMI mampu menampung 1400 kantong darah dan ini dibagi ke Bank Darah. Sedangkan untuk UTD (Unit Transfusi Darah-red) mampu menampung 900 kantung darah dan untuk RUmah Sakit, kita memiliki Satelit dan mampu menampung 500 Kantong Darah. "Jadi kalau dari acara gebyar yang lalu berkelanjutan, kita tidak pusing darah itu mau disimpan dimana, karena kita bisa menyimpan 2800 kantung darah,"ujarnya.

Saat ditanya mengenai pembayaran yang harus dibayar oleh orang yang meminta darah, Susyanto menjelaskan kalau pembayaran tersebut tidak lain tidak bukan untuk membeli kantung darah karena darah itu harus disimpan di tempatnya dan darah tersebut cuma bertahan sekitar 3 bulan. "Dana itu digunakan untuk membeli kantong darah,"imbuhnya.

Susyanto memaparkan, kalau tahun 2011 mendatang, orang yang membutuhkan darah tidak perlu mengeluarkan uang untuk mengambil darah. Karena di tahun 2011 dari Pemko Medan ada dana untuk PMI sekitar 500 Juta pertahun dan ini merupakan keputusan dari Dinas Kesehatan Sosial. "Kemarin kami sudah memberi masukan ke Pemko Medan agar PMI diberi dana agar para penerima darah tidak perlu membayar uang untuk membeli kantong darah,"jelasnya.

Susyanto menambahkan kalau pihak Pemko Medan setuju dan kami meminta anggaran pertahun untuk PMI sebesar Rp500juta dan itu merupakan Keputusan dari Dinas Kesehatan Sosial. Jadi yang dikutip dana Rp200Ribu tersebut, bukan untuk jual beli darah, melainkan untuk membeli kantong darah dan memberi puding kepada pendonor.

Intinya, Susyanto mengatakan kalau dana 500Juta pertahun sudah berjalan di tahun 2011, setiap orang yang membutuhkan darah, tidak dipungut biaya lagi. Karena menurut saya dengan anggaran 500Juta pertahun itu sudah cukup untuk PMI. (AKB)

Stok Darah di RS Haji Medan Aman

Rumah Sakit Haji Medan yang terletak di Jalan RS Haji Medan Estate, ternyata mempunyai stok darah cukup sampai bulan ini. Hal ini dibenarkan oleh Humas RS Haji Medan, Fauzi, SH di ruang kerjanya, Rabu (23/6).

Saat ditanya mengenai persediaan stok darah di RS Haji, Fauzi menjelaskan kalau stok darah di RS Haji ini cukup dalam arti kalau dibutuhkan pasti ada. "Stok darah yang ada di RS Haji tergantung, karena kalau sudah lewat 3 bulan, darah itu harus dibuang karena sudah tidak bagus lagi, tapi kalau ada yang membutuhkan darah, pasti ada"paparnya.

Sebelumnya, Fauzi, menjelaskan darah itu diambil dari PMI (Palang Merah Indonesia-red), kalau darah itu layak pakai, maka darah itu dibalikkan ke RS Haji Medan kalau diperiksa di PMI dan ternyata darah tersebut tidak bagus, maka darah itu harus dibuang."Rata-rata stok darah di PMI ada 10 kantong per hari,"ungkapnya. Kemarin Selasa (22/6) Fauzi menjelaskan kalau ada pasien yang memakai 2 kantong darah untuk operasi. "Dalam sebulan, untuk RS Haji Medan bisa menghasilkan 30 kantong darah,"jelasnya.

Saat ditanya mengenai apakah setiap pasien yang membutuhkan darah, apakah mereka harus mengeluarkan duit untuk mendapatkan darah tersebut, mendengar penjelasan tersebut, Fauzi menjelaskan kalau mereka yang memerlukan darah memang dikenakan biaya sekitar Rp200Ribu perkantong darah. Hal ini dilakukan hanya untuk membeli kantong darah, jarum suntik dan semua peralatan untuk kebutuhan penyimpanan darah. "Dana tersebut digunakan untuk membeli semua peralatan yang digunakan untuk menyimpan darah seperti kantong darah dan beberapa peralatan untuk mengambil darah, karena itu semuanya hanya dipakai sekali,"jelasnya. (AKB)

Jamkesmas Untuk Wira Penderita Tumor di Pipi

Baluap - Medan, Wira Ardiansyah (5) anak dari pasangan Afrida Nuryana (38) dan Safaruddin yang masih terbaring di ruangan Rindu anak B-18 RSUP H. Adam Malik Medan yang menderita Tumor Ganas di bagian pipinya semenjak tiga bulan lalu, kini sudah ada perkembangan Rabu (9/6)

Setelah di rawat di RSUP H Adam Malik Medan, Wira seorang anak yang menderita Tumor Ganas di Pipi sebeleh kirinya, kini sudah ada sedikit perkembangan.

Menurut Humas RSUP H Adam Malik Medan, Sairi M. Saragih. DCN. Mkes saat dihubungi melalui selular, mengatakan kondisi Wira Ardiansyah anak dari pasangan Afrida dan Safaruddin kini sudah ada perkembangan, tetapi kondisinya belum begitu pulih.

Saat ditanya sudah sampai mana penanganan yang dilakukan pihak Rumah Sakit, Sairi, menjelaskan sejauh ini sudah kami lakukan pemeriksaan setiap hari untuk mengecek kesehatan Wira, dan kalau kesehatannya sudah pulih total, kami akan mengoperasi Wira.

Menyangkut masalah biaya perobatan, Sairi menjelaskan untuk masalah itu, kami sudah mengeluarkan Jamkesmas untuk membiayai semua perobatan Wira.
Orangtua Wira kini bisa sedikit lega saat mendengar masalah biaya sudah ditanggung oleh dana talangan Jamkesmas. (AKB)

Selama 2 Bulan, Baru 2 kali Buang Air Besar

Baluap - Medan, Nurul Hasanah bayi umur 2 bulan anak dari pasangan Ahmadin (32) dan Sri Hayani (27) kini terbaring lemah di Ruang XI RSU Pirngadi Medan karena diserang penyakit Hichprung Diases (sistem syaraf usus tidak berfungsi-red) yang dideritanya sejak 2 hari setelah kelahirannya. Karena penyakit yang dideritanya, menyebabkan perut Nurul menjadi membesar. Rabu (9/6).

Dua hari setelah kelahiran Nurul pada 12 Maret 2010 kemarin, Nurul diserang demam. Mengetahui hal tersebut Ahmadin yang sehari-hari bekerja sebagai buruh bangunan membawa anak keduanya ke Rumah Sakit Katarina untuk diberi pengobatan.

Menurut Ahmadin saat diwawancara baluapberaniberani di Ruang XI RSU Pirngadi, mengatakan sejak dia lahir sampai sekarang, Rabu (9/6) anak saya baru dua kali buang air besar (BAB-red). "Selain terkena demam, anak saya baru dua kali buang air besar, dan itu yang menyebabkan perut anak saya membesar sampai sekarang,"jelasnya.

Menurut Tim Kesehatan klinik Nabila, Aldi Hasibuan, mengatakan kemarin bayi tersebut sempat dibawa ke Rumah Sakit Katarina guna mendapat perawatan yang intensif. Namun sekitar 15 hari di RS Katarina, selain karena keterbatasan biaya dan perlatan dari Rumah Sakit Katarina, Ahmadi yang sehari-hari tinggal bersama mertuanya di Desa Sei Kamah II Kec. Sungai Dadap Kisaran, akhirnya memindahkan buah hatinya atas rujukan Aldi ke RSU Pirngadi Medan.

"Saya yang mengantar Nurul dan keluarganya ke RSU Pirngadi Medan karena masalah biaya dan peralatan yang kurang lengkap dari Rumah Sakit Katarina,"papar Aldi.

Setelah ditangani oleh dr. Jeni Diantoro SpA, bayi yang bernama Nurul mengalami kelainan pada usus atau sistem syaraf pada usus Nurul tidak berfungsi dengan baik.

Sebelumnya, saat ditanya baluapberaniberani, tindakan yang sudah dilakukan untuk kesembuhan Nurul, Ahmadin menjelaskan usai 15 hari di RS Katarina, Nurul kami bawa ke orang pintar untuk penyembuhan. "Saya melakukan hal tersebut, karena penyakit Nurul tak kunjung sembuh walau sudah dirawat di RS Katarina selama 15 hari,"paparnya. Ahmadin juga menambahkan kalau dirinya sudah 6 kali membawa Nurul ke orang pintar.

Humas Pirngadi Medan Edison Parangin-angin, mengatakan pihaknya akan mengusahakan dana talangan untuk Nurul dan kami akan memasang alat bantu Soster (Nama alat bantu-red) untuk mengeluarkan kotoran didalam perut Nurul.

"Saya sangat mengharapkan anak saya Nurul sembuh dari sakitnya, kasian dia masih kecil sudah mengalami sakit kayak begitu,"ungkapnya. (AKB)

Bocah Periang itu Pun telah terbaring Lemah. .

Baluap - Medan, Bocah Periang yang tinggal dikeluarga sederhana ini terpaksa terbaring di tempat tidur akibat benjolan yang terletak di lutut kirinya sebesar bola basket. Kecerian itu hilang sejak Februari 2009 lalu. Bocah yang sering di panggil dengan sebutan Jesica (15) ini sempat berobat, baik itu ke tukang urut atau ke Rumah Sakit. Namun tetap saja tidak ada membuahkan hasil, Senin (7/6)

Jesica yang merupakan anak sulung dari pasangan suami istri Disel Sibeua (44) dan Renti Simorangkir (38), mengatakan awalnya Jesica tiba-tiba demam, selain itu Jesica kelihatan tertatih-tatih saat berjalan. "Saat mengetahui hal tersebut, Orangtua Jesica langsung membawa Jesica untuk kusuk. Saat dikusuk, tukang kusuk itu menyatakan kalau engselnya lari,"jelasnya.

Karena benjolan dikaki kirinya terus membesar, atas saran tetangganya, Jesica dibawa ke RSU Swadana Tarutung, dengan rujukan menggunakan kartu Jamkesmas. Sesampainya disana, kaki Jesica difoto. Tetapi dokter yang memeriksa mengaku belum bisa mendiagnosa apa penyakit yang diderita Jesica.

“dokter hanya menduga tulang Jesica retak, setelah itu Jesica diberi tiga macam obat,” papar Renti. Tiga minggu berlalu, namun tetap tidak ada perubahan pada kaki kiri Jesica, malahan benjolan dikakinya semakin membesar. Mengetahui hal tersebut, dokter yang merawat Jesica menyuruh Jesica dibawa ke RSUP Adam Malik Medan. Setelah dilakukan beberapa test, akhirnya Jesica terdiagnosa penyakit Tumor Ganas dan harus diamputasi.

"Setelah dilakukan beberapa pemeriksaan, ternyata Jesica terkena Tumor Ganas dan harus diamputasi karena gumpalan daging dan cairan dikaki kiri Jesica,"papar Renti.
Renti menambahkan, kalau bisa kaki anak saya jangan diamputasi.

Saat ditanya Baluapberaniberani terkait masalah pendanaan, Renti mengatakan, kami sudah menggalang dana dari Tarutung. Tetapi tidak menutup kemungkinan, saya masih membutuhkan uluran tangan dari para dermawan yang mau membantu untuk kesembuhan Jesica. (AKB)

Gizi Buruk Masih Menghantui Medan

Baluap - Medan, Balita penderita gizi buruk di Medan bak kata pepatah, 'patah tumbuh hilang berganti'. Kondisi ini terjadi di kota Medan dengan kembali masuknya pasien penderita gizi buruk di rumah sakit Pirngadi Medan, Rabu (2/6) Penyakit ini masih menghantui warga kota terbesar ketiga di Indonesia ini.

Meskipun telah dilakukan upaya penanggulangan gizi buruk oleh Dinas Kesehatan. Namun pasien gizi buruk tak berpantang surut. Hari ini seorang bayi asal Medan Belawan bernama Mutiara Dwi Rahmadani Usia 20 bulan dibawa ke RSU Pirngadi Medan.

Menurut Nina Misyuliana (30) selaku ibu Mutiara, mengatakan dirinya tidak pernah menyangka kalau anak keduanya yang akrab dipanggil Mutiara ini bakal mengalami gizi buruk. Karena saat Mutiara dilahirkandi klinik dalam keadaan normal dan cukup bulan dengan berat badan 3 kg dan panjang 56 cm. Bahkan sewaktu saya (Nina-red) hamilpun diperiksakan ke Puskesmas, kondisi bayi saya bagus dan sehat.

Namun, ungkapnya, pada usia 10 bulan berat badan Mutiara sekitar 8,9 kg sejak itulah buah hatinya tidak bisa apa-apa lagi yang sebelumnya bisa duduk dan menyebut nenek dan mama, namun sejak berusia 11 bulan berat badan anaknya mulai turun. Begitupun anaknya tidak pernah sakit. "Waktu usia anak saya ini 12 bulan sempat saya bawa ke Puskesmas dan dibilang gizi buruk. Sejak itu saya tidak pernah lagi bawa anak saya ke Puskesmas karena kami orang tidak mampu. Ayahnya hanya jualan sosis, kalaupun jualan kami habis untungnya cuma Rp20.000," ujarnya sambil mendiami anaknya yang terus menangis.

Saat ini dengan kondisi keluarganya yang hidup miskin, Nina berharap anaknya dapat kembali sehat seperti anak-anak yang lain dan kiranya adanya bantuan dari para dermawan disebabkan kehidupan mereka yang susah.

Kasubag Hukum dan Humas RSU Dr Pirngadi Edison P SH MKes saat melihat kondisi Mutiara yang berada di lantai III ruang anak gedung baru Rumah Sakit, mengatakan pihaknya akan berusaha semaksimal mungkin merawat dan menanganinya. Menyangkut biaya rumah sakit, mereka akan dimasukkan kedalam dana talangan Pemprovsu walaupun surat-surat belum diselesaikan, walaupun saat masuk, Mutiara yang merupakan anak dari pasangan Kristanto dan Nina masuk dengan pasien Umum.

Menurut informasi yang diterima baluapberaniberani, saat masuk ke Rumah Sakit Milik Pemko Medan ini, Mutiara Dwi Rahmadani memiliki berat badan sekitar 4,4 kg. Padahal berat normal saat usia 20 bulan seharusnya mempunyai berat sekitar 10-11 kg. (AKB/BHI)

Orang Tua Melati mengeluh masalah dana.


Baluap - Medan, Orang Tua Melati penderita Atresia Bilier atau yang dikenal dengan penyakit kelainan Hati yang berasal dari belawan ini mendapat sedikit pencerahan soal pengobatan Melati, Yuli Afizal selaku ayah Melati merasa sedikit lega.

Pasalnya sore (28/5), Yuli Afizal (39) selaku ayah Imel sapaan melati warga jalan warga Jalan
Cilacap Barat No.100 Belawan mendatangi RSU Pirngadi Medan, kedatangannya bertujuan guna mengeluhkan masalah biaya operasi Imel kepada beberapa wartawan kesehatan.

"
Saya sangat membutuhkan bantuan dari warga Medan untuk biaya operasi anak saya Imel,"jelasnya kepada wartawan. Dia juga menambahkan kalau dirinya sangat malu karena masyarakat Semarang terus mendukungnya.

"Saya sangat malu karena masyarakat Semarang baik dari kalangan wartawan, fotografer dan beberapa organisasi lainnnya. Saya malu karena mereka (Masyarakat Semarang-red) sempat bertanya kepada saya,kenapa bantuan dari Medan belum terlihat,"imbuhnya.


Menurut informasi yang diterima starberita, biaya untuk kebutuhan sehari-hari istrinya dan anaknya itu selain didapat dari sanak saudara juga mendapat uluran tangan dari masyarakat Semarang termasuk para artis. Untuk menggalang dana, Imel mempunyai ibu angkat yang akrab disapa Julianti yang sehari-harinya bekerja di Bank BCA.

Wanita inilah yang mengusahakan untuk membuat rekening bantuan dan
Facebook peduli Imel. "inilah rekening Imel,BCA KCP MT HARYONO Nama Melati, 2520857560. Kami sangat membutuhkan uluran tangan anda,"ungkapnya.

Anggota DPD RI Parlindungan Purba saat dikontak oleh wartawan, langsung meluncur ke RSU Pirngadi Medan dan meminta kronologis cerita Imel dari ayahnya bernama Yuli Afizal.
"Ini sudah menjadi masalah nasional dan ini akan dilaporkan ke Menteri Kesehatan karena pengobatan Imel membutuhkan biaya yang sangat besar,"jelas Parlin.

Akhir kedatangan Parlin ke RSU Pirngadi Medan meminta sendiri kepada Yuli Afizal untuk menyiapkan surat miskin dan kartu keluarga untuk dibawa langsung ke Semarang. "Saya akan membawa surat-surat ini, dan Minggu saya akan ke Semarang untuk bertemu Imel dan membicarakan ini dengan Kementrian Kesehatan,"tegasnya mengakhiri.(AKB)

Kelenjar Tiroid Tidak Sakit


Baluap - Medan, Kelenjar Tiroid yang akrab dikenal dengan penyakit Gondok ini ternyata tidak ada rasa sakit, Rabu (26/5)

Tiroid merupakan kelenjar kecil dengan diameter 5 Cm yang terletak di leher tepatnya dibawah jakun. Terkait memperingati hari tiroid sedunia yang kedua yang terjadi selasa (25/5) kemarin dan sembari itu juga RSU Pirngadi Medan mengadakan seminar untuk menjelaskan tentang penyakit Tiroid.

Menurut informasi yang diterima baluapberaniberani sebanyak 300juta penduduk dunia mengalami penyakit gondok (Tiroid-red). "Diperkirakan sebanyak 300juta penduduk dunia mengalami penyakit gondok, dan dari jumlah ini, setengahnya dimungkinkan tidak merasakan sakit,"jelas Dewi selaku Direktur Utama (Dirut-red) Pirngadi disela-sela Seminar kemarin.

Sedangkan menurut dr Mardianto SpPD yang kemarin menjadi narasumber di seminar, mengatakan penyakit tiroid dapat membesar disebabkan berlebihnya produksi hormon dan terjadi penyakit gondok yang disebabkan kekurangan yodium.

Dalam keadaan normal, kelenjar tiroid tidak terlihat dan hampir tidak teraba, tetapi bila membesar, dokter dapat merabanya dengan mudah dan suatu benjolan bisa tampak dibawah atau di samping jakun.

Adapun seminar yang dilakukan Pihak RSU Pirngadi Medan, guna untuk menyadarkan dan memberitahu kepada masyarakat Medan tentang penyakit Tiroid (Gondok). (AKB)

Gawat.....!!!! AIDS bertambah di Bulan Mei


Baluap - Medan, Akibat pergaulan bebas yang semakin merebak, membuat manusia khususnya para remaja terjerat kelembah hitam yang akrab disebut dengan AIDS. Bayangkan kalau dalam bulan ini saja (19/5) Mei, tercatat sebanyak 7 orang yang terkena HIV AIDS positif. Ketujuh orang tersebut masing-masing laki-laki sebanyak empat orang, wanita satu orang dan waria sebanyak dua orang.

Pergaulan bebas yang semakin merebak di Kota Medan membuat remaja Kota Medan tidak bisa mengontrol diri mereka, alhasil mereka terkena berbagai penyakit yang mematikan, diantaranya shypilis, AIDS dan penyakit kelamin lainnya.

Menurut informasi yang diterima Baluapberaniberani, seorang lelaki imigran dari Medan ke Jakarta berusia 31 tahun terkena HIV AIDS positif. Lelaki yang sehari-hari berjualan sebagai pedagang kaki lima (PKL) mengalami HIV AIDS positif. Penyakit HIV membutuhkan waktu kurang lebih 4 sampai 5 tahun untuk menjadi penyakit AIDS, dan itu tergantung kondisi tubuhnya masing-masing.

Bisa kita simpulkan bahwa lelaki yang tidak mau disebutkan namanya itu sudah mulai melakukan seks bebas mulai dia berumur 26 tahun, makanya sekarang dia terjangkit AIDS positif. Menurut informasi yang diterima. Standart WHO untuk CD4 yang dibawah 100 harus sudah mengkonsumsi ARV (Anti Retro Vina-red) setiap hari untuk penyembuhan sebelum AIDS.(AKB)

Waspada DBD


Baluap - Medan, Cuaca yang tidak menentu belakangan ini terjadi melanda Kota Medan membuat semua masyarakat Medan Harus mewaspadai Demam Berdarah Dengue (DBD) dan berbagai penyakit yang berasal dari spesies nyamuk. Karena dimusim hujan saat seperti ini, diwaspadai gejala DBD akan menaik seperti data yang dikutip selama lima tahun terakhir, Selasa (18/5) Siang.

Menurut informasi yang diterima baluapberaniberani, penderita DBD tiga bulan terakhir yang mengancam Sumatera Utara sekitar 897 orang. Sedangkan di Medan sendiri selama empat bulan terakhir sebanyak 661 orang terkena penderit DBD dan 5 diantaranya meninggal.

Terkait data yang menyatakan lima tahun terakhir mulai tahun 2005, bahwa disetiap bulan april, gejala DBD mengalami penurunan sedangkan di bulan Mei gejala DBD kemungkinan meningkat.


Menurut Suhardiono selaku Kasi (Kepala Seksi-red) P3B2 (Pencegahan Penularan Penyakit Bersumber Binatang-red), mengatakan melihat situasi cuaca yang sekarang ini sering terjadi hujan yang melanda Kota Medan, kemungkinan gejala DBD akan naik karena curah hujan yang tidak menentu.

"Saya harapkan kepada seluruh masyarakat Kota Medan agar mereka melakukan pencegahan, karena pencegahan itu lebih bagus ketimbang mengobati,"ujarnya saat dikonfirmasi melalui selular, Selasa (18/5) siang.


"Kalau sudah terjadi demam, segeralah berobat dan periksa ke Rumah Sakit terdekat, karena kalau sudah lama, dokter yang menangani sudah bingung untuk mengobatinya karena virus sudah masuk kedalam tubuh. Kalau terjadi kematian, pasti selalu dokter yang disalahkan karena tidak bisa menangani. Padahal hal itu terjadi bukan kesalahan pihak dokter, melainkan kesalahan pihak keluarga yang kelamaan untuk memeriksa ke dokter,"jelasnya. (AKB)

HIV AIDS


Baluap - Medan, Sebanyak 792 orang yang datang berkunjung (post test) selama April 2010 di Medan diperoleh 89 orang positip HIV. Perinciannya 61 orang laki-laki dan 28 perempuan. dengan usia produktip 25-34 tahun, Senin (17/5).

Hal itu dikatakan Kadis Kesehatan Kota Medan dr Edwin Effendi Msc melalui Kabid Penanggulangan Masalah Kesehatan (PMK) dr Hj. Rumondang,M.Kes, Senin (17/5) di ruang kerjanya.

Disebutkannya, dari jumlah tersebut tidak dilaporkan adanya ibu hamil. Perinciannya, terbanyak dilaporkan dari RS A.Malik yakni 113 orang, positip 58 orang, RSU Dr Pirngadi Medan sebanyak 105 orang yang positip 11 orang.

Selanjutnya RS Haji berjumlah 89 orang positip 2 orang, RS Rumkit Dam II BB sebanyak 124 orang yang positip 4 orang, Klinik Bestari 11 orang positip 4 orang dan dari Binjai 71 orang tetapi tidak ada yang positip HIV.

Sedangkan sejak bulan Januari sampai Maret di kota Medan penderita HIV sebanyak 118 orang dan AIDS 47 orang. Untuk yang luar kota, penderita HIV ada 52 orang dan AIDS 21 orang. Total keseluruhannya berjumlah 238 orang. Berdasarkan faktor resiko dari Januari sampai Maret untuk Medan dan Luar Kota Medan, laki-laki 184 orang dan perempuan 54 orang.

Menurut faktor resiko bila digabungkan dari Medan dan luar kota Medan, Heteroseksual 137 orang, Homoseksual 11 orang, IDUs 84 orang, Perinatal (Ibu Hamil-red) 5 orang, tidak diketahui hanya dijumpai di Medan yaitu 1 orang. Sedangkan melalui transfusi belum diperoleh datanya atau kasusnya tidak ada. (AKB)

Puncaknya DBD dibulan Juni



Baluap - Medan, Dinas Kebersihan diprediksi orang dewasa puncak terjadinya penyakit puncaknya Demam Berdarah Dengue (DBD) di Medan pada bulan Juli.

Untuk itu masyarakat dihimbau agar selalu menjaga kebersihan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Himbauan itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan dr Edwin Effendi Msc, Senin (17/5) yang dihubungi melalui telepon selular.

Untuk itu, lanjutnya, pihaknya tetap melakukan pemetaan daerah rawan DBD, melaksanakan antisipasi dan pentingnya partisipasi masyarakat. Dan kegiatan penanggulangan merupakan kegiatan rutin dinas kesehatan kota Medan disamping memberikan pelayanan yang bagus dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan yang bersih.

Terpisah Kabid PMK Dinkes Medan dr Hj. Rumondang MKes menjelaskan data pada bulan Januari 2010 jumlah yang terdaftar DBD sebanyak 269 orang, Februari 119 orang dengan 2 meninggal, Maret 152 orang dan April 123 orang dengan 3 orang meninggal.

Sedangkan kecamatan yang terbanyak jumlah penderita DBD yaitu Helvetia, Sunggal, Johor, Baru, Selayang, Denai dan Medan Kota. Sementara berdasarkan insiden rate (angka kejadian yang berdasarkan jumlah penduuk-red) dibanding jumlah penduduk yaitu kecamatan Medan Baru. Berdasarkan jumlah kasus berada di kecamatan Medan Helvetia.

"Tapi kendalanya masih ada beberapa rumah sakit yang tidak melaporkan jumlah penderita DBD dan berapa orang yang sudah ditangani karena terjangkit penyakit tersenut.. Kita sifatnya memberikan pembinaan," ujar Rumondang.

Untuk itu, harap Rumondang, kalaupun trend kasusnya naik, tetapi angka insiden dan kematian menurun. "Saya sangat berharap agar masyarakat Kota Medan harus sadar terhadap penyakit. Harus menerapkan pola hidup sehat,"jelas Edwin (AKB)