Medan, Tribun - Nurhayati (55) warga Dusun Lestari, Desa Pasar V Kebun Kelapa Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang, kritis setelah dibacok oleh anak perempuannya, Wulan (25). Dimana setelah kejadian tersebut, korban langsung dilarikan ke RSUP H Adam Malik untuk mendapat perawatan intensif, Jumat (18/2).

Berdasarkan keterangan yang diperoleh, korban saat itu berada dirumah anak keempatnya di Dusun Manggis Desa Tumpatan Kecamatan Beringin Kabupaten Deli Serdang. Namun, saat sebelum kejadian, korban sedang melaksanakan shalat Ashar, sekitar pukul 15.30 WIB, entah mengapa, Wulan bungsu dari lima bersaudara ini dan saat itu juga berada dirumah, tiba - tiba mendatangi korban kemudian membacok kepalanya dengan menggunakan cangkul.

Akibat peristiwa itu, dengan seketika korban tidak sadarkan diri dan bersimbah darah atas kejadian tersebut. Berdasarkan pantauan, korban masih menjalani perawatan di Ruang IGD dengan kondisi terbaring lemah dan dipasangi infus. Sementara itu, keluarga korban tidak dapat dimintai keterangannya lebih lanjut.

Humas RSUP H Adam Malik, Sairi Saragih mengatakan belum dapat dikonfirmasi mengenai masalah tersebut. "Saya belum dapat memberi keterangan. Karena saya juga belum mengetahui kondisi korban secara pasti. Selain itu, keluarga korban juga tertutup dan tidak mau memberi keterangan. Sekarang pasien masih mendapat perawtan di ruang IGD. Tapi besok akan saya cek, dan melihat kondisinya,"ujarnya

Nurmadi Mencurigai Kematian Istrinya


Medan - Suami korban Nurmadi (53) mengatakan dirinya tidak percaya dan menganggap kematian istrinya Suyatni sangat tidak wajar. Pasalnya kalau korban kebakaran, kenapa lidah dan gusi Suyatni ikut terbakar.

"Saya mencurigai atas meninggalnya istri saya. Memang saya tahu kalau istri saya meninggal karena kebakaran angkot yang ditumpanginya. Namun kenapa lidah dan gusinya ikut terbakar. Padahal kalau terbakar biasanya hanya bagian kulit luar. Ini sampai lidahnya pun ikut terbakar," katanya. Jumat (18/2)

Ditanya mengenai apakah dirinya pernah bermimpi atau mengalami kejadian yang aneh sebelum Suyatni meninggal, Nurmadi mengatakan dirinya tidak pernah mengalami hal buruk ataupun bermimpi. Namun sambungnya, Minggu (13/2) Suyatni (korban) mengendarai sepeda motor dan kendaraan yang digunakannya rem belakangnya putus. "Saya tidak pernah mimpi, tapi minggu (13/2) kemarin rem kereta istri saya tiba-tiba putus dan setelah kejadian itu, saya memperingatkan istri saya untuk berhati-hati," terangnya.

Ditanya mengenai kronologis kejadian sebelum Suyatni terbakar, Nurmadi menjelaskan sebelum kejadian, istri saya pergi mengendarai kereta itu sekitar pukul 12.00 Wib dan sesampainya diaksara, kereta yang dikendarai Suyatni disimpan diaksara setelah itu jumpa sama supir angkot 53 dan Suyatni menaiki ankot tersebut. Namun sesampainya di simpang pahlawan Jalan Serdang, angkot yang ditumpanginya terbakar.

"Saya sempat sms istri saya sekitar jam 13.00 wib namun belum ada jawaban. Setelah itu saya dapat telp dari tetangga saya dan memberitahu bahwa istri saya kecelakaan dan sudah dibawa ke piorngadi," terangnya seraya mendapat kabar tersebut, dirinya langsung menuju RSU Pirngadi Medan.

Masih dikatakan Nurmadi, setelah saya sampai di Pirngadi, satpam menghampiri saya dan menanyakan apakah saya suaminya dan saya bilang ia saya suaminya. Satpam tersebut mengatakan kepada saya kalau dompet dan jam istri saya ada sama supir angkot tersebut. "Saya langsung mengambil dompet dan jam milik istri saya," ujarnya seraya menjelaskan pada saat itu sebelum operasi, Suyatni masih bisa berbicara dan mengatakan kalau STNK dan kunci kereta ada sama sopir angkot tersebut.

"Saya curiga atas kematian istri saya, kenapa STNK dan kunci kereta bisa sama supir angkot itu," ungkapnya saat dijumpai dikediamannya Jalan Jermal 5 No 5 ini.

Masih dikatakan Nurmadi, setelah kejadian saya bertanya sama Suyatni, kenapa hal ini bisa terjadi, dan Suyatni mengatakan sudahlah bang, jangan dipermasalahkan, yang penting uruslah saya dan jangan lupa urus juga surat untuk medan sehat kata Nurmadi memperagakan ucapan istri tercintanya.

Suyatni meninggalkan 3 orang anak, Nuriana Sesi (25), Suheriaty (22), Andryanto (15). Nurmadi berharap agar Sopir angkot tersebut bisa ditahan selamanya oleh pihak kepolisian. (Akb)

Suyatni Meninggal, Humas Pirngadi Tidak Tahu, Ruang Informasi Tidak Ada Pegawai

Medan - Kabag Humas RSU Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin tidak mengetahui Suyatni pasien luka bakar yang menjadi korban akibat peristiwa angkutan kota (angkot) 53 meninggal dunia Kamis (17/2) kemarin sekitar pukul 05.00 Wib.

Menurut pantauan Tribun Kamis (17/2) sekitar pukul 15.00 wib, ruang informasi RSU Pirngadi Medan tidak ada pegawai yang stay disitu untuk melayani masyarakat. Jumat (18/2)

"Saya tidak tahu apakah Suyatni sudah meninggal atau tidak, coba chek ke ruang informasi, masih ada bawahan saya disana," kata Edison saat dihubungi melalui selularnya Kamis (17/2) kemarin seraya mengatakan kalau dirinya masih mendapat informasi kalau Suyatni masih mendapat perawatan di ICU pasca operasi untuk membersihkan luka bakar yang ada disekujur tubuhnya.

Dari kejadian ini, bisa disimpulkan kalau Humas RSU Pirngadi sepertinya tidak difungsikan sebagai mestinya Humas disetiap instansi. Menurut informasi yang dihimpun Tribun, Humas Pirngadi banyak tidak mengetahui kejadian dan perkembangan yang berada di seputaran rumah sakit milik Pemko Medan ini. Sementara itu, saat wartawan Tribun mencoba mengkonfirmasi tentang kesehatan Suyatni, Humas Pirngadi mengarahkan agar mencari data di informasi.

"Saya sudah tidak berada diruang kerja saya, tapi coba tanya ke ruang informasi untuk mendapatkan informasi lebih lanjut," katanya. Setelah mendapat arahan dari Humas, wartawan Tribun langsung ke Ruang Informasi, dan ternyata diruang informasi RSU Pirngadi Medan tidak ada pegawai yang berada disitu melainkan hanya dijaga sama security.

Sementara itu, saat wartawan mencoba menanyakan pasien bernama Suyatni warga Jalan Jermal V Kecamatan Medan Johor diruang informasi, security yang berada disitu menginput nama Suyatni dan keluar data tentang Suyatni menerangkan bahwa pasien bernama Suyatni masih diruang ICU dan menjalani perawatan. Pertanyaan itu dilontarkan Kamis (17/2) sekitar pukul 15.00 wib (Akb)

Penyakit Kanker Mendominasi di Sumut


Medan - Kepala Program Studi Departemen Patologi Anatomi Universitas Sumatera Utara, dr H Delyuzar SpPA(K) mengatakan penyakit kanker rahim ditemukan paling banyak di Sumut dibanding jenis kanker lainnya.

"Namun sayangnya, gejala penyakit mematikan ini tidak dapat diketahui," katanya seraya menerangkan, faktor kanker leher rahim ini, bisa dipicu oleh virus Human Paviloma Virus (HPV) yang dapat memicu kanker leher rahim dimana bisa diakibatkan dari hubungan seksual. Jumat (18/2)

Dikatakannya, selain kanker leher rahim, jenis lainnya disusul kanker payudara, kanker kolon (usus), kanker testis dan kanker nasoparing dimana semua jenis kanker ini, paling rentan menyerang manusia pada usia 40 tahun. Bahkan sejauh ini, sambungnya penyakit kanker ini paling banyak ditemukan pada perempuan.

Selanjutnya, kanker payudara disebabkan karena tidak seimbangnya hormon estrogen yang bekerja. Selain itu ada faktor pencetus lainnya, seperti zat-zat kimia tertentu. Kemudian kanker hati dapat disebabkan karena ada hubungannya dengan hepatitis B. Sedangkan kanker kulit dapat disebabkan oleh sinar ultraviolet yang kontak langsung dengan kulit. "Tidak hanya itu, kanker ini juga dapat disebabkan genetika (turunan)," ujarnya.

Dirincikannya, di Sumut untuk jenis kanker yang mendominasi perempuan dengan jenis kanker rahim dan kanker payudara. Sedangkan pada laki-laki jenis kanker paru, kanker nasoparing, kanker testis, kanker lokon (usus).

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr. Chandra Syafei SpOG melalui Kepala Seksi Wabah dan Bencana Dinas Kesehatan Sumut, Suhadi, mengatakan, berdasarkan 2007 hingga 2010, sebanyak 50782 orang sampel untuk diperiksa terhadap kemungkinan terkena kanker leher rahim ini. Namun, dari jumlah tersebut hanya, 18010 orang saja yang bersedia melakukan pemeriksaan di delapan kabupaten/kota masing-masing di Binjai, Medan, Sibolga, Padang Sidimpuan, Tebing Tinggi, Langkat dan Serdang Bedagai.

Dikatakannya, kemudian berdasarkan hasil periksaan terhadap 18010 orang yang diperiksa, ditemukan 145 warga yang positif. Namun yang bersedia dilakukan pengobatan hanya 88 orang. Kondisi ini sambungnya, menunjukkan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pengobatan terhadap penyakit kanker.

"Salah satu contohnya, di Serdang Bedagai, dari 20 warga yang positif terjangkit kanker leher rahim, hanya tiga bersedia diobati," terangnya seraya menjelaskan di Sibolga, dari 31 warga yang positif, tidak ada satupun yang bersedia diobati. Padahal, jika pengobatan secara dini dilakukan akan memberi peluang sembuh semakin besar.

Masih dr Delyuzar menilai, minimnya warga yang berobat disebabkan, kurangnya sosialisasi terhadap penyakit yang mematikan ini. (Akb)

BBPOM Menemukan Empat Zat Berbahaya dari Minuman Ringan


Medan - Kepala Bidang Sertifikasi dan Layanan Informasi BPOM Sumut, Sacramento mengatakan pihaknya telah memeriksa minuman ringan yang menewaskan Dachi bocah berusia 7 tahun. "Empat zat kimia kita temukan pada minuman ringan buahvita yang diduga menjadi penyebab meninggalnya seorang bocah bernama Salefina Natalia Dachi diperiksa di laboratorium pihak Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan (BPOM)," katanya. Kamis (17/2)

Dikatakannya, keempat zat kimia itu yakni, Logam Berat, Sianida, Rosen dan Nitrit."Keempat zat itu diperiksa karena menurut analisis ada gejala dugaan keracunan zat berbahaya itu," bebernya.

Dikatakannya, selain menguji isi dari minuman ringan tersebut, pihaknya juga memeriksa kemasan minuman ringan tersebut. "kita ambil semua untuk pengujian bersama dan memastikan apakah ada temuan disuatu tempat atau tempat tertentu atau sama sekali tidak ada,” katanya.

Dikatakan Sacramento, pemeriksaan itu sebenarnya akan siap dalam sehari, namun sejauh ini setelah dievaluasi belum ada ditemui tanda-tanda yang mengandung zat berbahaya dalam minuman ringan tersebut.

“Memang hasil kordinasi dari dokter, anak yang meninggal itu sudah mulai muntah-muntah dari rumah, ditempat perawatan pun masih muntah-muntah. kata dokter dan kata pasien yang datang, gejalanya seperti keracunan. Tapi, sejauh ini belum ada kita temui zat berbahaya didalam minuman ringan itu,”ujarnya.

Sacramento menambahkan, pihaknya akan terus berkordinasi dengan instansi terkait untuk mencari masalah dan kearah mana penyebab kematian Dachi, sehingga bisa memfokuskan program pencegahan kedepannya. “Tetap kita kordinasikan ke Dinkes, supaya datanya melengkapi. Terutama soal pengawasan IRT di Medan. Sebab, selama ini pembinaan IRT dalam mengolah produk masih lemah,” pungkasnya.

Sementara itu menurut Direktur Lembaga Advokasi dan Perlindungan Konsumen(LAPK), Farid Wajdi mengatakan terkait masalah ini, Dinkes Medan dan BBPOM harus mengevaluasi terhadap kebijakan regulasi dan makanan anak dimana hal tersebut menunjukkan bahwa anak-anak tidak punya rumah makanan aman dan sehat.

Dikatakannya, Begitu banyak terjadi kasus dimana anak-anak sebagai korban paling rentan. Lebih parah lagi, banyak ditemukan sarana produksi dan distribusi makanan anak yang tidak memenuhi persyaratan itu berasal dari industri kecil/rumah tangga, industri jasa boga dan penjual makanan jajanan menengah ke bawah. Maka dari itu sambungnya, perlu memperkuat pemahaman betapa pentingnya melindungi anak dari potensi korban keracunan makanan. Edukasi makanan sehat bagi anak adalah pilihan segera dan itu harusnya dimulai dari meja makan setiap rumah tangga.

Setiap keluarga perlu dibekali pula informasi dan pengetahuan memadai terkait dengan makanan sehat untuk anak. "Tak kalah penting pula adalah mengajak kesadaran para pedagang agar lebih selektif menjual dan memperdagangkan makanan sehat lebih khususnya dengan anak-anak sebagai konsumennya," bebernya seraya mengatakan Tugas moral dan sosial itu penting untuk didesak mengingat anak-anak merupakan aset yang harus dilindungi.

"Dosa terbesar orang tua, keluarga dan negara adalah ketika membiarkan anak-anak memilih sendiri makanan, padahal mereka ternyata merupakan korban eksploitasi makanan tak layak konsumsi tersebut," katanya lagi. (Akb)

Suyatni Masih di Ruang ICU


Medan - Suyatni (45), warga Jalan Jermal V Kecamatan Medan Johor yang menjadi korban saat menumpangi angkutan kota (angkot) 53 sekarang masih mendapat perawatan intensif diruang ICU RSU Pirngadi Medan.

Suyatni yang mengalami luka bakar sekitar 50 persen sudah menjalani tahap operasi untuk membersihkan luka bakar yang dideritanya. Menurut Kabag Humas RSU Pirngadi Medan, Edison Perangin-angin mengatakan Suyatni sekarang masih dirawat diruang ICU yang berada dilantai IV RSU Pirngadi Medan. "Suyatni masih menjalani perawata di ICU pasca operasi," katanya seraya menjelaskan kalau kondisi Suyatni sekarang masih dalam fase pemulihan. Kamis (17/2)

Sementara itu, pihak keluarga yang menjaga Suyatni tetap tidak mau memberi komentar tentang keadaan Suyatni. Sebelumnya, akibat peristiwa ini, Suyatni mengalami luka bakar 50 persen bagian tubuh korban ini mengalami luka bakar pada bagian wajah hingga dada, lutut sampai kaki. Pasien ini harus menjalani perawatan intensif. (Akb)

TKW Tewas di Rumah Kos Kekasihnya

Medan - Warga Desa Dolok Matubur Kecamatan Maura Tapanuli Utara, Alinska Raja Gukguk (28) tewas tergantung dikamar kos kekasihnya yang berada H2-2 Taman Desa Idaman di Johor Baru Malaysia pada (13/2).

Sementara keberada kekasih Alinska yang merupakan warga Miyanmar belum diketahui indentitas oleh pihak kepolisian Diraja Malaysia. Alinska yang merupakan Tenaga Kerja Wanita (TKW) asal Sumut bekerja di Kilang Elektronik dinegara tetangga Johor Malaysia.

Menurut informasi yang dihimpun hasil visum yang dilakukan Hopistal Temenggong Maharaja Tun Ibrahim sekaligus Salinan keterangan dari Pihak Kepolisian Diraja Malaysia Anliska Raja Gukguk pada (14/2) menunjukkan hasil visum tersebut bahwa TKW asal Tapanuli Utara Meninggal Gantung Diri.

Selanjutnya Jenazah dibawa ke Sumut untuk dikembalikan kepada keluarga duka yang didampingi oleh adik Alinska, Sarma Raja Gupgup. Jenazah Anliska tiba di Terminal Cargo Bandara Polinia Medan Kamis (17/2) Pukul 09.00 WIB dari Kuala Lumpur Malaysia menumpangi pesawat Malaysia Air Lines (MAS) MH 860.

Setelah itu, pihak keluarga membawa jenazah Alinska ke RSU Pirngadi Medan guna diotopsi kembali. Jenazah Alinska tiba di RSU Pirngadi Medan sekitar pukul 11.00 WIB didamping BP3TKI Sumut, Pihak Kepolisian Medan Baru, Depnaker, PJTKI Sansan Yonsindo dari Batam dan Staff Konsulat Jendral Malaysia Medan.

Saat jenazah di RSU Pirngadi pihak keluarga tidak mengizinkan jenazah Alinska untuk diotopsi kembali. Jenazah hanya dibersihkan setelah itu jenazah pada pukul 14.00 WIB dari RSU Pirngadi Medan langsung dibawa keluarga kekediamannya di Tapanuli Utara. Sarma Raja Gukguk Adik korban mengatakan kakak Alinska akhir januari 2011 habis kontraknya dan kakak rencana mau pulang Tapanuli Utata.

Tetapi pada tanggal (13/2) dirinya mendapatkan kabar bahwa Anliska sudah meninggal. "Anliska menjadi TKW di Malaysia Melalui PJTKI Sansan Yosindo Batam pada tahun 2008. pada akhir januari 2011 kontrak berakhir dengan perusahaan tempat Anliska bekerja," kata Syawalluddin Simamora Staff Tata usaha BP3TKI Sumut.

Dikatakannya, BP3TKI Sumut sudah berkordasi dengan Konjen RI di Johor Baru Malaysia untuk pemulangan jenazah, sementara hasil visum yang dilakukan rumah sakit setempat dan pihak kepolisan diraja malaysia bahwa Alinska meninggal gatung diri dikamar kos kekasihnya.

"Semetara pihak kepolisian Diraja Malaysia mencoba mencari kekasih korban (Alinski) untuk dimintai keterangan,” ujarnya. Sementara Staff Konjen Malaysia, Novel mendampingi jenazah di RSU Pirngadi dan membenarkan bahwa Alinska meninggal gantung diri dii kamar kos kekasihnya dan sementara kasus ini lagi diproses pihak Kepolisian Diraja Malaysia. (Akb)

Esia Melakukan Kegiatan Donor Darah


Medan - Dalam merayakan Ulang tahun Bakrie yang ke 69, Esia membuat kegiatan donor darah dimana ini bertujuan untuk berbagi kesehatan kepada masyarakat. "Acara donor darah ini sudah kita lakukan dua kali selama dua tahun dan ini kita lakukan untuk merayakan hari lahirnya Bakrie," kata Ketua Panitia sekaligus Tim Marketing Esia, Noval Helmy. Kamis (17/2)

Dikatakannya, acara ini dilakukan serentak di Sumatera Utara seperti Medan, Padang, Pekan Baru, Palembang dan Lampung. Dimana, sambungnya dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakukan tergantung dari daerah masing-masing.

"Acara ini bertujuan untuk membagi kegembiraan kita kepada masyarakat dengan berbagi kesehatan dan pasti acara donor darah yang bekerjasama dengan PMI akan berkelanjutan dan setiap tahun akan kita lakukan," paparnya.

Menurut dokter dari PMI, dr Indah mengatakan dalam donor darah di Esia Jalan Monginsidi menghasilkan 21 kantong darah dimana satu kantong terdapat 300 cc dari 350 cc. "50 cc itu merupakan anti pembeku darah," ujarnya.

Terpisah, Sekretaris PMI Kota Medan, Susyanto mengatakan sampai saat ini stok darah untuk Kota Medan masih aman. Hal ini dikarenakan karena setiap minggunya kita sudah membuat program safari setiap hari jumat untuk melakukan donor darah.

Dikatakannya, kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini dalam bentuk kepedulian dan atas dasar kemanusiaan. "Hal ini sangat membantu Unit Donor Darah (UDD) karena Kota Medan sangat membutuhkan darah," katanya.

Masih dikatakan Susyanto, dalam kegiatan ini, semua staf Esia yang bekerja di Kantor Esia Jalan Monginsidi turut adil dalam kegiatan donor darah ini. Setiap Jumat, sambungnya, PMI sudah membuat safari untuk donor darah dimana itu dilakukan secara rutin. "Safari donor darah ini, bertujuan untuk mengantisipasi kekurangan darah di Kota Medan dimana untuk Medan sendiri, perharinya membutuhkan 100 kantong darah," katanya lagi. (Akb)

Esia Melakukan Kegiatan Donor Darah

Medan - Dalam merayakan Ulang tahun Bakrie yang ke 69, Esia membuat kegiatan donor darah dimana ini bertujuan untuk berbagi kesehatan kepada masyarakat. "Acara donor darah ini sudah kita lakukan dua kali selama dua tahun dan ini kita lakukan untuk merayakan hari lahirnya Bakrie," kata Ketua Panitia sekaligus Tim Marketing Esia, Noval Helmy. Kamis (17/2)

Dikatakannya, acara ini dilakukan serentak di Sumatera Utara seperti Medan, Padang, Pekan Baru, Palembang dan Lampung. Dimana, sambungnya dalam pelaksanaan kegiatan ini dilakukan tergantung dari daerah masing-masing.

"Acara ini bertujuan untuk membagi kegembiraan kita kepada masyarakat dengan berbagi kesehatan dan pasti acara donor darah yang bekerjasama dengan PMI akan berkelanjutan dan setiap tahun akan kita lakukan," paparnya.

Menurut dokter dari PMI, dr Indah mengatakan dalam donor darah di Esia Jalan Monginsidi menghasilkan 21 kantong darah dimana satu kantong terdapat 300 cc dari 350 cc. "50 cc itu merupakan anti pembeku darah," ujarnya.

Terpisah, Sekretaris PMI Kota Medan, Susyanto mengatakan sampai saat ini stok darah untuk Kota Medan masih aman. Hal ini dikarenakan karena setiap minggunya kita sudah membuat program safari setiap hari jumat untuk melakukan donor darah.

Dikatakannya, kegiatan yang dilakukan pihak swasta ini dalam bentuk kepedulian dan atas dasar kemanusiaan. "Hal ini sangat membantu Unit Donor Darah (UDD) karena Kota Medan sangat membutuhkan darah," katanya.

Masih dikatakan Susyanto, dalam kegiatan ini, semua staf Esia yang bekerja di Kantor Esia Jalan Monginsidi turut adil dalam kegiatan donor darah ini. Setiap Jumat, sambungnya, PMI sudah membuat safari untuk donor darah dimana itu dilakukan secara rutin. "Safari donor darah ini, bertujuan untuk mengantisipasi kekurangan darah di Kota Medan dimana untuk Medan sendiri, perharinya membutuhkan 100 kantong darah," katanya lagi. (Akb)

Motor CB, Iconnya Kota Pakam


Lubuk Pakam - Pendiri HONDA CB Bikers Club (HCBC) Deli Serdang, Rakhmadin Zulfikar, Bermarkas di Jalan Perintis Kemerdekaan (Ahmad Yani), Kelurahan Paluh Kemiri, Kecamatan Lubuk Pakam, Kabupaten Deli Serdang, bertekad untuk menciptakan klub Honda CB ini bermasyarakat dan memiliki nilai tersendiri. Hal ini terbukti, sejak terbentuknya komunitas HCBC pada 30 Juni 2004 sampai sekarang, Kota Lubuk Pakam dikenal dengan ikon Honda CB.

Madin Mendai sapaan pria pendiri HCBC ini menyambut hangat dan menceritakan kisah berdirinya komunitas ini. “Awalnya, tersirat dari hati saya untuk menciptakan motor sekelas Eropa. Namun, untuk masyarakat di Sumatera Utara (Sumut), secara kemauan dan keinginan itu ada. Akan tetapi, dilihat dari segi financial tidak ternyata tidak mendukung. Akhirnya, saya mengalihkannya ke Honda CB yang mirip dengan motor keluaran Eropa. Dimana saya menilai Honda CB ada nilai klasik tersendiri,” kata pendiri HCBC Deli Serdang sekaligus menjabat sebagai ketua. Selasa (15/2)

Diterangkannya, di usia tua, sepedamotor ini tetap nyaman untuk dikendarai dan terlihat tangguh di jalanan. Honda CB 125 atau atau Honda CB 100 K1 produksi tahun 70-an, ternyata masih banyak digemari oleh anak-anak muda dimana saat sekarang ini banyak disodori produk-produk sepedamotor mutakhir.

“Sejak tahun 2001, komunitas ini sudah ada dan hanya beranggotakan empat orang saja. Namun, seiring berjalannya waktu, komunitas ini semakin bertambah banyak dan ada sekitar 15 anggota waktu itu. Tepat tanggal 30 Juni 2004, kita meresmikan komunitas ini hingga sekarang tetap eksis,” terangnya.

Bahkan, sambung Madin, dengan adanya komunitas ini, Lubuk Pakam yang dulunya tidak tahu menahu soal sepedamotor, kini sudah mengetahui apa arti dan nilai klasik dan dari sebuah motor tua. Hal ini terbukti dengan banyaknya ditemukkan pengguna sepedamotor tua ini di Kota Pakam.

“Sekarang ini anggota kita sudah mencapai 65 orang. Di luar dari pada komunitas kita ini, masih banyak pengguna sepedamotor Honda CB lainnya. Kira-kira, sama persis dengan jumlah komunitas kita saat ini,” tandasnya.

Tidak hanya itu, Honda CB yang dulunya dapat dibeli dengan harga Rp 350ribu - 500ribu, kini sudah tinggi. “Kita sering melakukan touring ke luar kota. Pokoknya, seluruh Sumatera Utara sudah habis kita jelajahi. Kalau biasanya, orang touring melalui jalan lintas, kalau kita memilih melewati perkampungan dan jalan yang terjal. Suatu hari, saat kita menjalani perkampungan, kita melihat ada Honda CB milik warga yang dipakai untuk menggalas pisang. Saat keesokannya kita balik lagi dan menawar Honda tersebut, pemiliknya menjelaskan, sepedamotor dijual dengan harga Rp 2 juta dan tidak bisa kurang,” paparnya.

Dikatakan Madin, selain usianya yang sudah tua, tampilan Honda CB ini memang terbilang sangat klasik dibandingkan dengan Honda tua lainnya. “ Saat ini juga sudah banyak yang mengincar Honda CB, mereka mencarinya karena ingin mengenang kembali ketika masih muda dengan mengendarai motor ini di jalanan. Motor ini tetap tangguh dibandingkan dengan motor tua lainnya, karena saat dikendarai sangat enak baik di jalan datar maupun terjal,” bebernya.

Setelah berdirinya HCBC ini, Madin dan kawan-kawan pun punya kegiatan lain selain sekadar jalan-jalan. Klub ini didirikan juga bertujuan membina persaudaraan yang erat serta menjalin kebersamaan satu dengan yang lain. Juga untuk membentuk kepribadian yang mandiri dan saling tolong menolong terhadap teman satu klub maupun orang lain yang membutuhkan pertolongan.

“Ini jelas terbukti, suka duka pasti kita jumpai saat melakukan touring ke pelosok-pelosok. Misal, terperangkap banjir, mogok dan kondisi lainnya pernah kita alami. Namun dengan adanya komunitas ini, rasanya suka duka itu hilang. Ada saja yang membantu. Disitulah terlihat rasa kekeluargaan. Bahkan saat ngumpul seperti biasa, kalau ada anggota yang tidak hadir, kita pasti kecarian. Begitulah rasa kekeluargaan di komunitas kita ini,” ungkapnya.

Ditanya mengenai apa saja kegiatan dari HCBC, Madin memaparkan, kegiatan klub GCBC ini, Tidak hanya touring, melainkan berbagai kegiatan positif pun dilakukan oleh HCBC Deli Serdang ini, misalnya, dimulai dari bakti sosial dan kegiatan lainnya, Menyantuni anak yatim dalam rangka HUT ke-5 HCBC. Tanggal 20 dan 21 Juni 2009 lalu. Dimana pihaknya melakukan touring ke Tugu perjuangan di daerah Tiga Juhar, Kelurahan STM Hulu, Desa Rumah Liang, Kabupaten Deli Serdang. Di sana kita melakukan renovasi, karena Tugu Perjuangan tersebut merupakan tempat sejarah yang terlupakan,”ungkapnya.

Dijelaskannya, April 2011 mendatang, HCBC Deli Serdang akan melakukan kegiatan bakti social lainnya dengan melakukan fogging (pengasapan) yang bertujuan untuk pemberantasan sarang nyamuk di Labuhan Batu. “17 Agustus mendatang, kita juga merencanakan melakukan touring di tiik O Indonesia yakni di Sabang. Komunitas lainnya yang berada di luar pulau Sumatera sudah melakukan hal ini. Kita yang di Pulau Sumatera saja belum melakukannya, jadi kita pun merencanakan touring ini ke Sabang,” ujarnya.

Harapan Madin mengajak seluruh masyarakat di Sumatera Utara (Sumut) pecinta Honda CB untuk menyatukan diri dan bergabung dalam komunitas Honda klasik ini. “Saat ini HCBC tidak hanya bisa dijumpai di Lubuk Pakam saja, melainkan bisa dijumpai seperti Tanjung Morawa, Galang, Marelan dan Perbaungan, kita sudah membuka cabang di daerah tersebut. Siapa pun yang mengaku sebagai pecinta Honda CB, bisa bergabung dan mendaftarkan diri di tempat yang sudah kita terangkan di awal tadi,” katanya lagi. (Akb)