![]() |
| IST-Olahraga |
Padahal, lemak sebenarnya merupakan sumber nutrisi yang disimpan di dalam tubuh, dan berfungsi sebagai cadangan energi. Lemak umumnya berasal dari makanan yang
Menceritakan tentang keadaan Kota Medan dan Sekitarnya
![]() |
| IST-Olahraga |
![]() |
| BNI memberikan fasilitas kredit perumahan bagi PNS dan Non PNS se-Sumut |
![]() |
| IST-Kebiasaan Tidur Larut |

Masih ingatkah kalian sewaktu duduk dibangku sekolah? Mungkin itu sudah 24 tahun silam persisnya sewaktu masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Umumnya, siswa SD dibekali ilmu dasar, membaca dan menulis. Biasanya yang menjadi objek dalam belajar membaca adalah “Budi”. Misalnya, Ini Ibu Budi. Kalimat itu acapkali kita dengar saat kita berada di tahun pertama memijak dunia pendidikan.
Selain membaca, menulis juga menjadi pelajaran utama dalam pengenalan dunia luar nantinya. Kali pertama diajarkan menulis oleh guru menggunakan pensil. Itu merupakan alat tulis pertama yang kita kenal waktu itu. Disitulah kita mulai mengenal alphabet. Selama SD, kita mempelajari tiga ilmu, membaca, menulis dan berhitung. Ketiga ilmu itu yang menjadi pelajaran khusus baik dari kelas satu sampai kelas enam.
Namun kalau kita sedikit mengingat tentang masa-masa SD, mengarang adalah satu pelajaran yang diharuskan untuk siswa kelas empat SD. Pelajaran itu sangat tidak mengenakkan bagi sebahagian siswa. Walau ada juga siswa yang menyukai pelajaran ini, karena pelajaran tersebut tidak mesti menguras otak. Hanya sekedar batas ingatan dan apa yang dialami oleh seorang siswa.
Beranjak dari bangku SD, awal pertama duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) mengarang semakin ditinggalkan. Hal itu kemungkinan dikarenakan mata pelajaran mengarang sudah tidak termasuk dalam silabus. Selain dari itu dibangku SMP, pelajaran semakin bertambah sedikit kompleks dari sebelumnya. Sehingga pengetahuan tentang merangkai kata-kata atau yang lazim disebut mengarang semakin mendingin dibenak dan pikiran kita. Alhasil, kita hanya bisa mengetahui dan memahami ilmu pasti yang dimana juga kita ketahui ilmu pasti itu sendiri tidak dinamis. Selalu itu-itu dan itu saja sampai dunia ini berakhir.
Semasa SMP les tambahan untuk memahami ilmu pasti sangat digemari para siswa. Tapi ilmu tentang mengarang, seakan memang ditinggalkan. Kembali ketopik sebelumnya, semasa SMP kita sudah diajarkan menulis dengan pena. Dengan kata lain, kebiasaan kita menulis dengan pensil seakan didinginkan begitu saja. Dan semasa SMP, kita dikenalkan pensil hanya untuk menggambar. Biasanya itu terdapat dalam pelajaran Keterampilan Tangan dan Kesenian (KTK). Jadi seakan, pengenalan kita tentang pensil diluluhlantakkan dengan pena.
Pena ini terus kita gunakan sampai ketingkat perguruan tinggi. Namun sebelumnya, kita juga dikenali dengan pensil sebagai alat untuk menghitamkan lingkaran jawaban saat Ujian Nasional (UN) atau ujian lulus-lulusan. Jelas sudah, semakin lama ilmu kita bertambah sedikit demi sedikit tentang perubahan penggunaan alat tulis. Hingga akhirnya memasuki perguruan tinggi. Tahap awalnya adalah ujian yang sering dikenal orang dengan SPMB. Saat itu juga kita masih menggunakan pensil.
Setelah lulus, dan memasuki jenjang perguruan tinggi, pensil seakan ditinggal begitu saja. Pena menjadi sorotan utama untuk menulis apa yang dikatakan dosen. Memang selain soft copy yang kita terima dari dosen, namun ada sebahagian yang kita tulis di binder kita kata-kata mutiara dari dosen yang biasanya dikeluarkan saat ujian mid semester dan ujian akhir semester (UAS). Namun pola pemikiran kita menulis dengan pena hanya sebatas sampai semester delapan saja. Karena dalam pengurusan skripsi atau tugas akhir, kita harus menulis laporan tersebut dengan computer. Dimana pensil dan pena tidak dibutuhkan lagi. Ada gunanya juga kita menulis laporan menggunakan computer, selain tulisan yang kita hasilkan mudah dibaca, juga kita bisa dengan mudah mengecek kesalahan tulisan sesuai Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Tapi apalah daya, karena sudah keseringan menulis dengan keyboard computer, kita semakin kaku menulis dengan tangan kita sendiri.
Belum selesai sampai disitu, setelah tamat dari perguruan tinggi kita juga memasuki dunia pekerjaan. Untuk saat sekarang ini, dunia pekerjaan semuanya dibekali dengan computer. Jadi tulisan tangan tidak digunakan lagi. Paling tidak, tulisan tangan hanya digunakan untuk tanda tangan semata. Pensil dan pena tidak digunakan bagi mereka yang sedang membuat tugas akhir dan bagi mereka yang sudah bekerja.
Ya mungkin itu sudah zamannya. Kalau tidak mengikuti perkembangan zaman, kita bisa dibilang manusia tertinggal. Revolusi dalam diri kita acapkali terjadi. Perubahan yang terjadi pada diri kita itu memang bagus, apalagi perubahan yang positif. Namun tidak salah juga supaya kita tetap mengingat kali pertama kita belajar menulis itu menggunakan pensil. Kalau tidak ada pensil, kita tidak bisa menulis. Namun kalau tidak computer, kita tetap saja bisa menulis karena masih ada pensil dan pena.

Lukisan potret Presiden RI ke-1 dikabarkan bisa berdetak persis di jantungnya. Lukisan tersebut kini dipajang di galeri yang berada satu komplek dengan makam Bung Karno, Blitar, Jawa Timur.
Lukisan dipasang dekat pintu masuk Galeri sehingga tampak mencolok bagi pengunjung yang masuk. Berbingkai kayu kelir emas, lukisan berukuran sekitar 1,5×1,75 meter tersebut ditopang penyangga besi sekitar setengah meter dari dinding, sehingga terlihat gagah.
Tak ada yang aneh saat melihat lukisan ini dari depan. Keganjilan baru terlihat ketika pengunjung melihat lukisan dari samping. Kanvas di dada kiri Bung Karno bergerak maju-mundur, menciptakan ilusi degup jantung. Menariknya, ritme degup jantung ini sekitar 60-70 detak per menit, mirip manusia normal.
Staf Galeri Bung Karno Friska Fauzi mengatakan, foto Bung Karno yang berdegup menjadi daya tarik tersendiri. Pengunjung kerap berkumpul di samping lukisan sambil menatap dalam-dalam ke arah dada Bung Karno.
Mohammad Zariul Alim dari Madura sengaja datang ke Blitar untuk membuktikan mitos tersebut. "Yang saya dengar lukisan itu bisa berdetak, jadi saya merasa penasaran," ujarnya, Jumat (6/4/2012).
Pengunjung lainnya, Nur Faizatul Maghfiroh juga ingin membuktikan langsung, tentang mitos jantung di lukisan itu bisa berdetak.
Mitos jantung di lukisan Bung Karno yang bisa berdetak itu memang tersiar luas. Ribuan pengunjung dari berbagai daerah di Jatim, selain berkunjung ke makam juga singgah ke lokasi perpustakaan.
Lukisan itu dibawa dari Istana Bogor oleh Mantan Presiden Megawati Soekarno Putri, untuk memperingati 100 tahun haul Bung Karno pada 2001 lalu.
Untuk melihat kebenaran dari mitos itu, para pengunjug harus antre lama melihat dengan mata jeli tentang kepastian dari mitos tersebut.
Mitos lukisan berdetak di jantungnya tersebut membuat pengunjung ke makam Bung Karno bertambah. Jika pada hari biasa hanya ada sekitar 400 kunjungan ke galeri, sekarang mencapai 600 kunjungan yang berasal dari seluruh Indonesia.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kota Blitar Muh Sidik mengatakan, fenomena jantung lukisan Bung Karno berdetak itu memang tidak bisa dijelaskan dengan ilmu. Ia hanya mengatakan, adanya fenomena itu memang menjadikan keunikan tersendiri.
"Fenomena itu tidak bisa dijelaskan lewat ilmu pengetahuan. Kami hanya melakukan pengelolaan perpustakaan saja, dan tentang mitos ini tentunya menjadikan keunikan sendiri," kata Sidik. (surya/berbagai sumber)
Hampir 24 tahun aku pendam penyakit yang kata orang bisa menyebabkan tidak bisa mempunyai keturunan. Sering sudah aku mendengar kalimat “Tunggu apalagi, segera diobati, baik dengan cara tradisional ataupun dengan cara modern atau dengan Operasi” kalimat itu yang acapkali memenuhi pikiranku sampai sekarang.
Namun tidak ada sedikit tindakan yang aku ambil untuk menghilangkan penyakit tersebut yang sudah membenam hampir 24 tahun tersebut. Hal itu aku lakukan karena aku takut untuk operasi. Oleh karena itu, pihak keluarga dan orang-orang terdekat menyuruh aku untuk menyembuhkan penyakit tersebut dengan pengobatan tradisional. Karena sudah banyak yang mengatakan dan menyuruh aku untuk melakukan pengobatan tradisional untuk menghilangkan penyakit yang aku derita, akhirnya aku memutuskan untuk mengambil cara pengobatan tradisional.
Mulai dari pengobatan tradisional yang berada di kampong aku yaitu di Batang Serangan sampai pengobatan tradisional di Kota Medan sendiri. Namun, penyakit aku tak kunjung sembuh sesuai harapan yang aku dan keluargaku inginkan. Memang penyakit yang aku derita tidak menimbulkan rasa sakit dan menghambat aktivitasku. Namun karena doktrin yang mengatakan kalau penyakit itu dipelihara tidak baik dan nantinya aku tidak mempunyai keturunan.
Oleh karena itu, setelah pengobatan tradisional tak kunjung memberikan hasil yang diinginkan, aku konsultasi ke dokter. Langsung dengan seketika dokter mengatakan penyakit itu harus dioperasi. Mendengar pernyataan dokter seperti itu, wajah aku langsung berubah menjadi pucat. Seketika dokter mengatakan kalau aku tidak boleh pucat, karena mau tidak maunya kamu itu harus segera diangkat. “Masaan anak laki-laki takut untuk dioperasi,” kata dokter itu seraya mengejekku dengan senyumannya.
Dengan seketika, dokter tersebut membuat surat pengantar agar aku bisa dirawat di rumah sakit Coloumbia Asia untuk melakukan operasi. Mau tidak mau aku harus mengambil surat itu dan dokter tersebut member aku waktu seminggu menanti keputusan dariku. Waktu terus berjalan detik demi detik, menit ke menit jam berganti jam hari berlalu berganti bulan dan tahun, aku tak kunjung memberikan jawaban apakah aku mau operasi atau tidak.
Namun apa yang aku dapatkan, penyakit tersebut masih bersarang dan duduk manis dibagian tubuhku. Tidak terasa sakit memang, namun yang namanya penyakit harus diambil. Aku berpikir, terus berpikir bahwa semua keputusan ada pada diriku sendiri. Bertahun-tahun setelah mendapat surat pengantar dari dokter tersebut, akhirnya aku memutuskan untuk memberanikan diriku melakukan operasi.
Waktu itu tahun 2011 persisnya awal bulan Maret aku datang kembali ke RS Coloumbia Asia untuk dirawat dan keesokan harinya agar aku bisa dioperasi. Sewaktu itu, aku masih ingat, aku dan mama datang ke rumah sakit tersebut sekitar pukul 11.00 Wib. Sesampainya aku di rumah sakit tersebut, spontanitas raut wajahku langsung berubah, tangan aku tiba-tiba dingin setelah melihat mama mendaftarkan aku sebagai pasien rawat inap dirumah sakit ternama di Kota Medan tersebut.
Beberapa menit berselang setelah pendaftaran tersebut, aku masuk keruangan dimana tempat kau akan menginap. Aku berada diruangan 704. Pertama aku masuk ke ruangan tersebut, aku belum diberi infuse karena aku harus menunggu dokter yang datangnya pada keesokan harinya. Jadi untuk hari itu aku bebas melakukan apa saja dirumah sakit tersebut.
Tidak terasa bagiku, akhirnya esok hari telah tiba setelah aku merasakan malam itu terasa sangat cepat. Esok hari pun datang, aku diinfus pada jam 08.00 Wib dan langsung disuruh puasa setelah jam 05.00 Wib aku memakan roti kering dan segelas susu.
Aku melakukan puasa karena itu merupakan satu syarat untuk operasi. Aku pun mengikuti prosedur tersebut. Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 Wib, suster pun datang membawa pakaian operasi dan langsung aku disuruh untuk membuka baju dan memakai baju operasi. Selang setelah aku memakai baju operasi tersebut, suster datang kembali dan membawakan aku kursi roda. Melihat kursi roda tersebut, seluruh badan aku dingin dan kulit aku dibaluti warna putih pucat. “Kok pucat bang? Biasa ajalah bang,” kata suster cantik yang membawakan kursi roda untuk diriku.
Seraya aku menjawab, siapa yang pucat mbak, jawabku kepada suster yang sepertinya usianya jauh lebih muda dari diriku. “Ya situlah, siapa lagi cobak?” tanya suster cantik itu kepadaku. Usai sedikit perbincangan dengan suster cantik bernama Rini ini aku yang sudah dibaluti dengan pakaian serba hijau akhirnya dibawa keruang serba dingin, ruang apalagi kalau tidak ruang operasi.
Sesampainya dilantai 3 RSU Coloumbia Asia yang berada di Jalan Listrik Kota Medan, gambaran pucat mewarnai tubuhku yang sudah terlanjur dingin seperti es. “Keluarganya tunggu diruang tunggu ya, operasi sepertinya berjalan selama satu jam,” kata suster yang membawaku keruang yang super dingin bernama Rini itu.
Kupikir Rini akan terus mengantarku sampai diruang yang mempunyai lampu besar dan sangat kontras, namun pikiranku meleset. Ternyata, Rini hanya mengantarku sampai kepintu operasi, selanjutnya aku ditangani dengan suster yang sedikit lebih tua dari usiaku. Ia dia bernama Juli. Suster itu langsung membawa berkas dan menyuruhku untuk bertanda tangan. Sontak kutanya dengan suster yang memakai penutup kepala serba hijau. “Untuk apa tanda tangan ini sus?” tanyaku. Oh, ini untuk menandakan kalau pasien setuju dilakukannya operasi terhadap dirinya bang. “Oo0o0o0,” jawabku menggigil karena ruangan begitu dingin.
Aku dipindahkan dari kursi roda ketempat tidur yang beralaskan seperti seng. Itu aku katakan, karena saat aku dipindahkan, terasa punggungku kaku karena dingin yang dihasilkan tempat tidur tersebut. Setelah itu selang beberapa menit datang seorang dokter yang memperkenalkan dirinya. Setelah perkenalan singkat itu, dirinya sontak mengatakan hendak membius aku sembari menjabat tangaku yang sepertinya sudah beku kaiak es batu. Disuruhnya aku berbalik kesebelah kanan, dengan kaki melipat dan tangan persis disamping kepala. “Tahan ya, sedikit terkejut dan tidak sakit,” kata dokter berkulit putih ini.
“Cenguueeetttt” bunyi dari obat bius yang disuntikkannya kepadaku. Setelah penyuntikan yang berlangsung hanya sekitar 15 detik itu, dia menginstruksikan agar aku mengangkat kedua kakiku. Imbauan pertama, kedua kakiku masih bisa terangkat namun imbauan kedua, kakiku tak bisa lagi digerakkan dan sontak aku merasa kehilangan kakiku. Setelah bius bereaksi dikakiku, kedua tanganku diikat dan penglihatanku dihalangi dengan sebuah penghalang yang bertujuan aku tidak bisa melihat mereka mempreteli bagian kemaluanku. Sudah tidak tahu lagi apa yang mereka lakukan kepadaku, aku merasakan ngantuk yang sangat dalam. Akupun tertidur namun sadar. Dalam tidurku, aku bisa merasakan perut bagian bawahku dibuka dengan gunting. Aku merasakan gesekan gunting dengan kulitku, namun aku tidak merasakan sedikit sakit akibat gesekan tersebut.
Dipertengahan operasi yang aku jalani, badanku yang begitu dingin akhirnya tersadar dan membuka mataku. Langsung aku bersuara dan meminta kepada suster yang ada disana untuk menyelimuti tubuhku karena aku merasakan dingin yang sedingin-dinginnya. Mereka langsung memberiku selimut tebal yang karena itu tubuhku sedikit terasa hangat. Namun entah kenapa, aku merasa mual dan sangat mual. Aku tak berani bersuara lagi, menahan rasa mual yang melanda tubuhku, aku terus-terusan menelan air liurku sampai air liurku tak terasa lagi.
Bibir kering akibat pendingin ruangan yang begitu banyak dan sepertinya di stel dengan ukuran dingin 16 derajat celcius. Terus aku melawan rasa mual itu sampai aku tertidur pulas. Tidak mengetahui apa yang terjadi, ternyata aku sudah tidak berada diruangan yang dingin. Ruang pemulihan merupakan ruanganku setelah aku dioperasi. Tempat ini biasa digunakan bagi pasien yang baru selesai dioperasi sebelum diantar keruagan tempat dimana dia dirawat dan menginap.
Beberapa menit pasca operasi, setengah sadarku melihat sesosok wanita berseragam hijau mengantarkanku kedepan pintu operasi untuk menyerahkan aku keperawat yang ada diruangan tempat aku dirawat dan menginap. Setelah itu, akupun dibawa ke ruanganku. Belum terasa sakit saat aku batuk pasca operasi. Hal itu kemungkinan karena bius yang ada dalam tubuhku masih bereaksi.
Tidur pun menjadi pilihanku karena ngantuk menyerang. Beberapa jam aku terpulas ditempat tidurku persisnya di kamar 704 rumah sakit Coloumbia Asia yang berada di Jalan Listrik Kota Medan. “Aduh, sakit sekali kurasakan” ternyata, bius yang ada di tubuhku sudah habis. Sakitpun mulai melanda sebagian tubuhku. Terasa sakit saat batuk sedang aku laksanakan. Ntah kenapa jelang operasi, batuk melanda diriku. Padahal jauh hari, batuk belum menghampiri diriku.
Merana, bisa dikatakan begitu. Karena batuk tak bisa ditahan karena dia menggerogoti tenggorokanku sehingga rasa gatal tak mungkin dipungkiri. Namun rasa sakit itu hanya beberapa menit. Itu karena aku langsung menghubungi suster dan meminta obat penahan rasa sakit. Setelah aku meminum obat yang diberikan suster itu, rasa sakit yang aku alami perlahan menghilang.
Sehari setelah aku selesai operasi, BlackBerry aku berbunyi dan menandakan ada BlackBerry Messanger (BBM) yang masuk. Aku lihat dan rupanya, perempuan yang aku kenal dari BBM mengirim pesan sama aku. “Sakit apa? Kok gak ngabari? Sudah berapa lama dirawat disana? Dirumah sakit mana? Dan kamar nomor berapa,” BBM dari perempuan bernama Emi yang terdaftar di kontak BBM aku. Sontak akupun menjawab “Aku dirumah sakit Coloumbia Asia dikamar 704. Beberapa hari sebelum aku dioperasi, aku sudah mencoba menghubungi mu, tapi tak ada respon” jawabku membalas BBM dari Emi.
Keesokan harinya, Emi langsung membesuk aku dirumah sakit. Kali pertama aku melihat wanita berparas cantik sepadan dengan tinggi badan dan kulit putih berjilbab membuat anggun dirinya dipenglihatanku.
“Akbar ya?” sapanya ramah.
“Ia. Kamu Emi ya?” jawabku. “Silahkan duduk ditempat yang kosong,” jawabku seloro.
“Ia. Ini ada sedikit bawaanku. Dimakan ya.” Jawabnya ramah.
“Baiklah,” kata ku singkat.
“Gimana keadaan kamu sekarang? Oia, emang kamu sakit apa?” tanyanya.
(Percakapan pun dimulai)
“Alhamdulillah sudah mendingan. Aku sakit Hernia mi,” jawabku.
“Udah lama? Kok milih untuk dioperasi?” tanyanya
“Udah. Penyakit ini aku derita saat aku masih kecil. Sudah berbagai pengobata aku lakukan, namun tak kunjung sembuh. Jadi ya, cara terbaik harus dioperasi dan ya ini sekarang keputusanku, alhamdulillah sekarang penyakit yang aku derita selama 24 tahun sudah clear dalam beberapa jam saja,” uraiku kepada wanita berparas cantik ini.
“Ooohh, Alhamdulillah ya,” jawabnya singkat namun padat.
Setelah berbincang denganku, keluargaku pun datang untuk melihatku. Terkejut, baik itu orangtuaku maupun saudara kandungku. Namun keluargaku tak mau bertanya panjang lebar siapa perempuan ini. Mereka hanya melontarkan pertanyaan, siapa ini bar? Langsung ku jawab, teman ma. Kebetulan yang bertanya mamaku. O0o0o0, jawab mamaku.
Selama Emi disitu, yang merawat aku, baik itu mengambil air minum, menyulangi makanku dan membuang kotoran yang ada dimulutku, ya wanita berjilbab ini. Aku heran, kenapa dia melakukan hal ini kepadaku. Padahal ini kali pertama aku dan dia bertemu. Namun serasa sangat lama kami kenal karena perilakunya terhadapku saat itu.
Bukan aku saja yang merasa heran, seluruh keluarga intiku juga bertanya-tanya. Siapa perempuan ini. Tak terasa, wanita berkulit putih ini sudah menemanika sekitar 11 jam. Waktu itu, jam dinding dikamarku sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB. Aku bertanya, pulang naik apa Emi? O0o0o0, ntar bisa naik taksi. “Emang, rumah Emi dimana?” tanyaku. “Galang,” jawabnya singkat. Wew, agak jauh ya rumahnya. Gak apa-apa tu kalau naik taksi kesana? “gak papa kok. Aman-aman aja,” jawabnya penuh dengan keyakinan.
Cerita punya cerita, akhirnya aku tahu kalau dirinya diantar jemput sama supirnya. Aku mengetahui itu dari penuturan Emi sendiri. Setelah dua hari dia menghampiri ku dirumah sakit, akhirnya dia mau angkat cerita mengenai dirinya pulang menaiki dan sama siapa. Hari berganti, Emi tak lagi datang. Hanya kabar dan komunikasi dari selular. Akupun pulang kerumah karena kondisiku sudah agak baikan. Pesan dokter pada diriku, aku kudu banyak istirahat dan obatnya jangan lupa diminum. Semenjak aku pulang dari rumah sakit itu, sehari setelah dirumah, keesokannya, Emi berkunjung kerumahku. Perhatian dan kepeduliannya tak berubah dan tak ada bedanya. Aku jadi semakin bertanya kenapa dan mengapa. Setelah pertanyaanku semakin larut, wanita itu menghilang bagai ditelan bumi. Kesehatanku pulih, perempuan pun itu pulih dari hadapan dan pikiranku.
Komunikasi tak lagi terjadi, kenangan tinggal kenangan. Namun, kebaikan, perhatian dan santun dari perempuan itu, tak dapat aku lupakan. Sampai sekarang aku belum tahu apa maksud dan tujuan wanita itu memperlakukan aku sedemikian melebihi pacarku sendiri. Biarlah itu tetap menjadi kenangan yang terindah selama aku dirawat dirumah sakit. Terakhir aku mendapat kabar tentang dirinya, dirinya hendak menikah. Dalam hatiku, alhamdulillah semoga pernikahan dia berjalan lancar dan mempunyai keturunan yang baik dan bisa membina keluarga shakinah ma wahdah warohmah. Terimakasih Nuri Erika Mita.

Rincian yakni, anggaran untuk Rehabilitasi Pendopo Rumah Dinas Wali Kota Medan sebesar Rp750juta, Rehabilitasi Garasi dan Ruang Kerja Rumah Dinas Wali Kota Medan sebesar Rp800juta, Rehabilitasi Dapur dan Kamar Rumah Dinas Wali Kota Medan sebesar Rp1miliar.
Forum Indonesia untuk Transparansi (Fitra) Sumatera Utara menyayangkan besarnya anggaran tersebut. "Ditengah-tengah maraknya issu kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang mengguncang setiap lapisan masyarakat, dimana masyarakat sudah mulai mengencangkan ikat pinggang menjelang kenaikan harga BBM, Pemerintah Kota Medan malah menghambur-hamburkan uang dalam anggaran untuk renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5Miliar," ungkap Rurita Ningrum selaku Sekretaris Eksekutif FITRA Sumut, Minggu (18/3).
Menurutnya, anggaran rehabilitasi rumah dinas Wali Kota Medan yang terletak di persimpangan Jalan Imam Bonjol dan Jalan Sudirman terlalu besar. Yang artinya juga bahwa Wali Kota Medan Rahudman Harahap hanya menghamburkan uang untuk kepentingan pribadi dan keluarganya tanpa memikirkan masyarakat.
"Padahal kalau kita lihat garasi dan pendopo rumah dinas Wali Kota Medan sebenarnya masih layak dipakai dan tidak perlu direnovasi sehingga anggaran renovasi ini hanya "proyek-proyekan" untuk mengambil keuntungan segelintir orang," ujarnya.
Jika digunakan untuk kebutuhan lain, tambah Rurita, anggaran renovasi sebesar Rp2,5miliar bisa menyelamatkan 417 Kepala Keuarga (KK) miskin untuk membeli rumah RSS (Rumah sangat sederhana). Harga satu unit rumah RSS kurang lebih Rp60Juta, maka anggaran renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5miliar di bagi Rp60juta maka akan bisa menyelamatkan masyarakat miskin 417 KK miskin.
Anggaran ini juga terlalu mewah dan tidak manusiawi bila dibandingkan dengan anggaran program KIBLA (Keselamatan Ibu melahirkan dan anak) tahun 2012 sebesar Rp 22.000.000. "Padahal APBD ini adalah milik rakyat dan sudah seharusnya program-program APBD ini untuk kepentingan rakyat bukan untuk merenovasi rumah Dinas Wali Kota yang hanya untuk kepentingan pribadi," ungkapnya.
Untuk Fitra Sumut meminta kepada DPRD Kota Medan untuk segera membatalkan renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5miliar karena sangat mencederai hati nurani rakyat.
"Kedua, kami meminta dan mengetuk hati nurani Wali Kota Medan agar membatalkan renovasi rumah dinas Wali Kota Medan, karena kebijakan anggaran untuk renovasi rumah dinas Wali Kota Medan sebesar Rp2,5miliar tidak memperlihatkan kebijakan pemerintah Kota Medan yang peka dan peduli terhadap kondisi masyarakat Kota Medan yang masih banyak dibawah garis kemiskinan," ujar Rurita.
Copyright © 2011 - Anak Medan Punya Kreasi - Using Blogger
Illacrimo - Design by Design Disease
- Blogger Templates by Blog and Web