
Medan - Kabag Humas RSUP H Adam Malik Medan, Sairi mengatakan kondisi bayi kembar masih sama seperti kemarin sewaktu pertama kali masuk ke RSUP H Adam Malik. Namun, Tim dokter RSUP H Adam Malik Medan yang sudah dibentuk sudah mengeluarkan SK (Surat Keputusan) untuk melakukan tindakan pemisahan bayi kembar siam gempet dada dan perut.
"Tapi saat ini, kita masih tetap melakukan diagnosa sekaligus memonitoring kondisi bayi kembar tersebut," katanya. Kamis (3/1)
Ditanya mengenai kapan dilakukan pemisahan kepada bayi kembar siam dempet dada dan perut, Sairi menerangkan, pihaknya belum bisa menentukan kapan dilakukan pemisahan bayi kembar yang belum mempunyai nama itu. "Dalam pemisahan tersebut, kita harus menstabilkan kondisi bayi kembar siam dempet dada dan perut itu, karena kalau kita melakukan pemisahan sebelum kondisinya stabil, akan menimbulkan masalah yang lain," terangnya saat dihubungi melalui selularnya sembari memaparkan kondisi bayi kembar masih buruk.
Dikatakannya, sebelum melakukan pemisahan, pihaknya masih melakukan penstabilan bagi bayi agar tidak terjadi masalah berikutnya.
Menurut Direktur Medis dan Keperawatan RSUP H Adam Malik Medan, dr Lukmanul Hakim mengatakan kondisi bayi kembar tersebut masih buruk dan direncanakan pihaknya akan melakukan poto ulang. "Kita akan melakukan poto ulang untuk melihat seperti apa yang dempet itu. Itu bertujuan agar kita mengetahui kendala apa yang diakibatkan apabila dipisahkan bayi kembar tersebut," katanya sembari mengatakan dokter mengupayakan bagaimana menjaga kesehatan.
Ditanya mengenai sejauh ini apakah keluarga dikenakan biaya untuk pembelian obat, Lukmanul menjelaskan pihaknya tidak pernah menyuruh pasien untuk membeli obat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendy mengatakan Elfrida ibu dari bayi kembar siam dempet dada dan perut sudah bisa pulang besok Jumat (4/1). "Saya bisa mengatakan begitu karena saya sudah berkoordinasi dengan pihak rumah sakit Imelda kalau Elfrida itu sudah menjadi tanggung jawab Dinkes Medan," katanya sembari mengatakan Daniel suami Elfrida sedang dalam pengurusan untuk mendapat Jaminan Kesehatan melalui Jamkesmas.
Ditanya mengenai Daniel sudah terdaftar mempunyai kartu Medan Sehat, Edwin menjelaskan, memang benar, Daniel terdaftar sebagai peserta Medan Sehat, namun sambungnya, terdaftarnya Daniel sebagai kepesertaan Medan Sehat itu karena dari orangtuanya. "Karena itulah, kita menegaskan kepada tingkat kecamatan dan kelurahan Helvetia agar sesegera mungkin menyelesaikan Kartu Keluarga dan KTP Daniel," terangnya seraya memaparkan kita upayakan Daniel sebagai peserta Jamkesmas biar pihaknya bisa berobat gratis secara nasional.
Dijelaskannya, Dinkes Kota Medan sebagai pendamping karena pihaknya sudah berkordinasi dengan pihak RSU Imelda. "Besok, orangtua dari bayi kembar tersebut sudah bisa pulang," katanya lagi.
Terkait masalah ini, Camat Helvetia, Reza Hanafi mengatakan pihaknya sudah berkordinasi dengan Dinkes Medan dan akan upayakan besok Kartu Keluarga (KK) dan KTP. "Sesuai dengan kordinasi dengan Dinkes Medan, kita akan upayakan KK dan KTP akan keluar besok," katanya. Pihaknya sudah melihat bayi kembar ke RSUP H Adam Malik dan akan mengupayakan ibu bayi kembar ini akan diupayakan menjadi warga Medan.
Terpisah, orangtua bayi kembar, Daniel mengatakan sudah mempunyai nama untuk kedua anak kembarnya. "Dua hari yang lalu, saya sudah mencari nama untuk kedua buah hati kami," katanya sembari mengatakan kedua nama anak mereka tersebut masing-masing Berliana Safani dan Berliani Safana.
Ditanya mengenai arti dari nama tersebut, Daniel menjelaskan arti dari nama anak kembarnya tersebut memberi cahaya baru. "Jadi dengan nama itu, saya sangat mengharapkan kedepannya kehidupan kami berubah dari sebelumnya, karena arti nama tersebut seperti cahaya baru yang menyinari kehidupan," katanya seraya mengatakan dirinya akan meminta tanggapan istrinya terhadap kedua nama anaknya tersebut. (Akb)
Kedua Bayi Tersebut Masih Buruk dan Sudah Mempunyai Nama
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 10:28:00 PMDana Talangan Menipis, DPRD Sumut Akan Silpa 2010
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 10:21:00 PM
Medan - Menipisnya alokasi anggaran yang diperuntukkan bagi program kesehatan, dana talangan 2011 sebesar Rp 1,5 miliar. Hal ini dikarenakan dana talangan untuk Tahun 2011, anggaran yang dialokasikan untuk program tahun 2011 sebesar Rp7 milyar, ternyata hampir habis untuk menutupi kekurangan klaim di Tahun 2010 sebesar Rp 5.558.097.191.
Terkait masalah ini, DPRD Sumut
berencana akan mengalihkan sebagian sisa lebih penggunaan anggaran (Silpa) Tahun 2010 yang diperkirakan mencapai Rp400Miliar.
"Kita akan liat dulu persoalannya. Namun, kita mendengar Tahun 2010 banyak Silpa. Dana tersebut memungkinkan untuk dipergunakan. Tapi ini
dipertimbangkan dulu," kata Wakil Ketua DPRD Sumut, M Affan. Selasa (1/2).
Dikatakannya, penyebab menipisnya anggaran tersebut, akan menjadi perhatian DPRD Sumut. Karena dengan minimnya anggaran kesehatan pendamping pelayanan kesehatan gratis Jamkesmas dan Jamkesda seperti
JPKMS, tersebut menyangkut pelayanan kesehatan. Selain itu, pihaknya melalui komisi E DPRD Sumut, akan mempertanyakan penggunaan anggaran tersebut.
"Kenapa di awal Februari hanya tersisa Rp 1,5 miliar dari total Rp 7
miliar yang dialokasikan dalam APBD. Biasanya, pembagiannya
menggunakan sistem proporsional. Namun ini kenapa di Februari, sudah
hampir habis," tanya Affan sembari menyatakan, salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan cara penambahan anggaran pada perubahan APBD 2011 mendatang.
Terpisah, pengamat kesehatan, dr Delyuzar menilai, salah satu
upaya agar menekan besarnya pengguna dana talangan ini dengan melakukan validasi data seakurat mungkin. ”Datanya harus valid, jika tidak itulah nantinya yang menyebabkan dana talangan ini dibutuhkan,”katanya seraya menambahkan fakta dilapangan saat ini masih
banyak masyarakat miskin yang belum tertalangi.
Dikatakan Delyuzar, jika semua masyarakat miskin masuk dalam layanan Jamkesmas atau Jamkesda, maka anggaran masih bisa diminimalisir atau ditekan.
”Jadi yang harus diperhatikan validasi data. Jika tidak valid, maka itu yang menyebabkan dana talangan. membengkak,”kata Delyuzar.
Ditegaskannya, keberadaan
dana talangan ini hanya untuk mengakomodir warga miskin yang belum tercover. Hal ini, yang harusnya menjadi perhatian dan pertimbangan.
Sementara itu, menurut Kabid Advokasi Pasien Miskin Dewan Kesehatan Rakyat (DKR), Rizaldi Manaf mengatakan kalau anggaran sebesar Rp1,5Miliar
dipastikan tidak cukup. ”Dana sebesar itu tidak mungkin cukup, apalagi jumlahnya
itu sangat minim,”katanya seraya mendesak agar pemerintah membuat program layanan kesehatan gratis yang setara dengan Jamkesmas.
Secara terpisah Kepala Dinas Kesehatan Sumut, dr Chandra Syafei mengatakan pihaknya masih menunggu sikap dari Gubsu, langkah seperti apa
nantinya yang akan diambil. ”Kalaupun nantinya pelayanan dilanjutkan, harus ada komitmen anggaran untuk itu. Saat ini Dinkes Sumut selaku pemodal
program benar-benar menyeleksi pasien yang akan dilayani,” tukasnya.
Sebelumnya, Kepala Seksi Program Dana Talangan Dinkes Sumut, Sugianto mengatakan alokasi anggaran untuk dana talangan di Tahun 2010 sebesar Rp10 milyar. Anggaran selama setahun ini sudah termasuk yang dialokasikan dalam APBD 2010 Rp7 milyar dan ditambah Rp3 milyar lagi di PAPBD 2010.
Ternyata, sebut Sugianto, klaim lima rumah sakit provider yaitu RSUP H Adam Malik Medan, RSUD dr Pirngadi Medan, RSU Haji Medan, RS Imelda Pekerja Indonesia dan RS Sufina Azis, mencapai Rp15,5 milyar. Maka kekurangan anggaran di 2010 sebesar Rp5,5 milyar lagi kepada RS Adam Malik harus ditutupi dari anggaran 2011. Sementara, alokasi anggaran 2011 hanya Rp7milyar. Maka dana yang tinggal untuk dana talangan tahun 2011 tinggal Rp1,5 milyar.
“Klaim Rp15,5 milyar itu belum lagi termasuk sisa pelayanan di akhir Desember 2010 lalu,” katanya. (Akb)
Terbelit Dana, Heprida Menunggu Belas Kasihan
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 10:15:00 PM
Medan - Elfrida warga Jalan Veteran pasar V orang tua kembar siam dada dan perut hanya bisa menunggu keajaiban agar dirinya bisa keluar dari RSU Imelda. Dirinya memang sudah sembuh dan mempunyai keinginan yang tinggi untuk melihat anak yang dilahirkannya namun pihak dokter masih melarangnya karena ditakutkan kondisi Elfrida bisa semakin parah saat melihat kondisi anak yang dilahirkannya. "Saya ingin sekali melihat anak saya, walau bagaimanapun kondisinya, saya ingin melihat, tapi pihak dokter RSU Imelda melarang saya karena mereka takut kondisi saya bisa drop saat melihat kondisi bayi saya yang sekarang dirawat di RSUP H Adam Malik," katanya.
Dikatakannya kalau dirinya tidak mempunyai persiapan, karena bayinya lahir prematur atau lahir belum waktunya. "Ya kami tidak ada persiapan karena kami pikir, anak kami lahir sekitar bulan 3 yaitu tepat sembilan bulan. Namun itulah, tuhan berkehendak lain dan itulah yang harus kami terima,". Terangnya.
Dia mengatakan pihak rumah sakit sudah memperbolehkan pulang, tapi harus menyelesaikan administrasi selama mendapat perawatan di RSU Imelda. "Saya sudah dianjurkan besok Kamis (3/1) untuk pulang, namun itulah saya harus membayar uang administrasi sekitar Rp3,8Juta sebelum meninggalkan rumah sakit," katanya sembari mengatakan dirinya sudah dipaksa pulang oleh pihak rumah sakit agar segera meninggalkan ruma sakit.
Jadi, sambungnya, saya harus bersabar dan berharap bantuan dari para dermawan untuk membantu dirinya agar bisa keluar dari RSU Imelda.
Terkait masalah ini, Humas RSU Imelda, Walman Ritonga mengatakan kalau Elfrida masuk sebagai pasien umum. "Elfrida masuk pertama kali mengaku sebagai pasien umum, makanya kita buat Elfrida tercatat sebagai pasien umum," katanya.
Diceritakannya, pertama sekali,
Elfrida masuk dan mendaftar menjadi pasien umum. Maka dari itu, sambungnya, pihak rumah sakit mencatat Elfrida terdaftar sebagai pasien umum. "Nah atas dasar itulah, maka kita melakukan perawatan seperti mana biasanya yang dilakukan pihak rumah sakit kepada pasien," bebernya.
Masih dikatakan Walman, awalnya pihaknya mendapat surat rujukan dari Puskesmas untuk melakukan perawatan kepada Elfrida. "Atas dasar surat rujukan itulah kita bisa menangani Elfrida," terangnya sembari mengatakan setelah itu pihaknya langsung melakukan operasi caesar. Setelah operasi selesai dan pihaknya melihat kondisi anak Elfrida tidak normal, pihaknya langsung merujuk bayi Elfrida ke RSUP H Adam Malik untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif. Sembari itu RSU Imelda tetap merawat Elfrida seperti khalayak pasien seperti biasanya.
Ditanya mengenai bagaimana selanjutnya terhadap Elfrida, Walman menjelaskan pihaknya pertama sekali tidak mengetahui kalau Elfrida merupakan pasien miskin. "Saya tidak mengetahui kalau Elfrida merupakan orang yang tidak mampu, karena pertama sekali datang ke RSU Imelda, Elfrida terdaftar sebagai pasien umum," bebernya sembari memaparkan kalau sudah begini adanya kenapa pihak keluarga tidak mau atau enggan memberi tahu kepada pihak rumah sakit kalau pihak keluarga tidak sanggup dalam pembiayaan administrasi.
"Kalau pihak keluarga sudah memberitahu kepada pihak rumah sakit, pasti akan dibantu semaksimal mungkin," ujarnya sembari mengatakan sampai sekarang pihak keluarga belum ada membayar sepeserpun kepada rumah sakit dan kalau memang keluarga Elfrida bisa menunjukkan surat Jamkesda, pihak rumah sakit akan mengalihkan dan mencatat Elfrida sebagai pasien Jamkesda.
Terpisah, Adik Ipar Daniel, Yudi Naibaho mengatakan pihaknya sudah membuat surat miskin dari Kelurahan dan meminta surat dari Kecamatan. "Orang Camat bilang kasih tunjuk KK yang asli, surat dari Camat dan KTP tunjukkan ke rumah sakit.
Sementara itu, masih dikatakan Yudi, tetangga sudah ada yang tahu semua tentang bayi Efrida yang anaknya lahir kembar siam dempet dada dan perut.
"Atas dasar itulah warga sekitar turut prihatin," katanya sembari memaparkan beberapa hari lalu dokter pernah mengatakan Elfrida dimasukkan sebagai pasien umum namun setelah ada kartu Jamkesmas, Elfrida bisa terdaftar sebagai pasien Jamkesmas.
Terpisah, Kabag Humas RSUP H Adam Malik Medan, Sairi mengatakan kondisi anak pasangan Daniel dan Elfrida masih sama seperti pertama sekali dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan.
Sebelumnya, pihaknya sudah membentuk Tim dokter yang diketuai Prof. Dr. Munar Lubis SpA(K) untuk menangani bayi kembar siam yang belum memiliki nama ini. "Kondisi bayi tersebut jelek dan masih sama seperti kemarin," katanya sembari mengatakan bayi tersebut kaki dan tubuhnya membiru karena ada gangguan pada jantung dan pernapasan. Untuk penanganan pertama, sambung Sairi pihaknya sudah memberikan fentilator, infus dan terapi.
Dikatakannya, Tim yang akan menangani bayi ini terdiri dari dokter anak, dokter anastesi, mikrobiologi, radiologi, dokter objin, dokter bedah plastik, dokter kulit, dokter jantung dll yang berhubungan untuk penanganan bayi kembar siam. Ditanya mengenai pembiayaan bayi tersebut menggunakan dana darimana, Sairi mengatakan pihaknya belum tahu dan yang pasti bayi kembar siam calon pasien Jamkesmas.(Akb)
RSUPHAM Rapat 2 Jam Untuk Membentuk Tim Penanganan Bayi Kembar
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 09:53:00 PM
Medan - Untuk menangani perawatan lanjutan untul bayi kembar siam dempet dada dan perut anak dari pasangan suami istri, Daniel Hutauruk (32) dan Helprida Naibaho (29) warga jalan Veteran pasar IV, Helvetia, lahir di RSU Imelda dengan cara operasi caesar sekitar pukul 11.30 Wib, Minggu (30/1). RSUP H Adam Malik Medan mengadakan rapat diruang rapat II lantai II Selasa (1/2) sekitar dua jam untuk membentuk Tim dokter khusus menangani masalah bayi kembar Siam dempet dada dan perut. Hal ini dikatakan Humas RSUP H Adam Malik Medan, Sairi. Selasa (1/2)
Dikatakannya pihaknya sudah membentuk Tim dokter yang diketuai Prof. Dr. Munar Lubis SpA(K) untuk menangani bayi kembar siam yang belum memiliki nama ini. "Kondisi bayi tersebut jelek dan masih sama seperti kemarin," katanya sembari mengatakan bayi tersebut kaki dan tubuhnya membiru karena ada gangguan pada jantung dan pernapasan. Untuk penanganan pertama, sambung Sairi pihaknya sudah memberikan fentilator, infus dan terapi.
Dikatakannya, Tim yang akan menangani bayi ini terdiri dari dokter anak, dokter anastesi, mikrobiologi, radiologi, dokter objin, dokter bedah plastik, dokter kulit, dokter jantung dll yang berhubungan untuk penanganan bayi kembar siam. Ditanya mengenai pembiayaan bayi tersebut menggunakan dana darimana, Sairi mengatakan pihaknya belum tahu dan yang pasti bayi kembar siam calon pasien Jamkesmas.
Sebelumnya, bayi kembar siam dempet dada dan perut atau dalam bahasa kedokterannya Torachopagus Konjuint Twin lahir Minggu (30/12) sekitar pukul 11.00 wib dirumah sakit Imelda dan satu hari berada di RSU Imelda, bayi Torachopagus Konjuint Twin dirujuk ke RSUP H Adam Malik Medan Senin (31/12) sekitar pukul 10.00 Wib.
Kelahiran bayi Torachopagus Konjuint Twin tersebut menambah daftar bayi kembar siam dempet dada dan perut yang ditangai di RSUP H Adam Malik. Di tahun 2010 terakhir kali yang ditangani anak dari pasutri Muslim dan Siti Hajar (Nabila dan Naila) warga Kampung Bandar Siloh, Kecamatan Bandar Masilam, Kabupaten Simalungun, namun keduanya meninggal sebelum dilakukan tindakan pemisahan.
Masih dikatakan Sairi, Heprida Naibaho melahirkan secara operasi caesar di RSU Imelda dengan usia kandungan 7 bulan (belum cukup umur) dan kelahiran tersebut merupakan kehamilan yang keenam kalinya.
Masih Sairi, bayi tersebut lahir dengan berat badan keduanya 2,6 kg, sedangkan panjangnya belum diketahui. Kondisi bayi setelah dirujuk ke RSUP H Adam Malik masih buruk dengan beberapa kelainan. "Bayi yang satu, ada gangguan dengan katub jantungnya dan bayi yang satu lagi ruang jantungnya tidak terbentuk sempurna, Kondisinya jelek, yang satu ada gangguan pada katub jantungnya dan yang satu ruang jantungnya tidak terbentuk sempurna. Biasanya jantung itukan ada empat ruang, diatas ada dua, dibawah ada dua disebelah kanan dan kiri. Tapi ini tidak tampak" katanya.
Meski pihaknya sudah memasangkan ventilator pada bayi torachopagus konjuint twin itu, sambung Sairi, namun pemberian oksigennya tidak bisa sempurna karena paru-parunya tidak mengembang. “Kita sudah pasangan ventilatior tapi tidak ada reaksi. Jadi pemberian oksigennya tidak bisa sempurna karena paru-parunya tidak mengembang. Soal apakah bisa diselamatkan, kita tidak bisa memprediksinya.
Sementara itu, menurut Ayah bayi Torachopagus Konjuint Twin, Daniel Hutauruk (32) saat ditanyai mengenai apakah ada firasat buruk saat sang bayi masih dalam kandungan, Daniel mengatakan tidak ada firasat buruk kalau anaknya bakal lahir kembar siam.
Karena, dirinya tidak pernah memeriksakan kandungan isterinya dari USG. Ia hanya memeriksakan kandungan isterinya beberapa kali kepada bidan diklinik kecil depan RSU Imelda. “Memang tidak pernah di USG, hanya periksa kandungan saja ke bidan. Bidan tidak pernah curiga kalau anak kami akan lahir kembar, karena saat ditimbang beratnya normal. Waktu saya periksa terakhir kali seminggu yang lalu, bidan hanya bilang posisi anak saya tidak mau berubah, kepalanya masih saja diatas,”cerita Daniel.
Sambung Daniel, tidak ada tanda-tanda buruk selama isterinya hamil hingga kelahiran anaknya. “Nggak ada tanda-tanda buruk, isteri saya juga ngidamnya nggak macam-macam, ya sewajarnya sajalah. Hanya saja, memang isteri saya waktu hamil wajahnya beda, kali ini wajahnya lebih cerah. Tingkah saya hanya sedikit aneh, saya jadi suka menanam bunga didepan rumah, ternyata yang lahir perempuan,” terangnya.
Daniel menjelaskan, anaknya yang lahir kembar merupakan anak ke enam dan tujuh. Anak pertama meninggal setelah sehari lahir, anak kedua dan keempat gugur saat dalam kandungan, anak ketiga dan lima yang masih hidup dan anak ke-enam dan tujuh baru lahir kondisi kembar siam. “Memang ada keturunan kita yang anaknya juga kembar dari adik ibu saya. Soal anak kami yang lahir kembar, isteri saya memang sudah tahu dari perawat yang menangani dia di RS Imelda, tapi dia belum melihatnya," katanya sembari mengaku, pasrah dan mempercayakan anaknya ditangai oleh tim dokter RSUP H Adam Malik.
“Saya percayakan saja kepada dokter untuk menanganinya, soal kematian itukan Tuhan yang menentukan, jadi saya pasrahkan saja pada Tuhan. Tapi, saya berharap kedua anak saya bisa selamat. Soal biaya, saya masih urus Jamkesmas dan mudah-mudahan bisa dikeluarkan segera,” harap Daniel yang hanya memiliki penghasilan Rp30.000-50.000/hari sebagai penarik becak bermotor ini, sembari menjelaskan kalau istrinya masih di RSU Imelda dan belum bisa keluar karena pihak rumah sakit belum bisa mengeluarkan istrinya karena kartu Jamkesda dari Deli Serdang tidak bisa digunakan. "Saya berharap ada orang yang mau membantu saya dalam penanganan biaya untuk kesembuhan bayi kembar saya," katanya lagi. (Akb)
60 persen Ibu lebih memilih memberikan susu formula kepada bayinya ketimbang memberi ASI Eksklusif
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 09:34:00 PM
Medan - Sekitar 60 persen Ibu lebih memilih memberikan susu formula kepada bayinya ketimbang memberi ASI Eksklusif. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan para Ibu tentang manfaat ASI Eksklusif dan keyakinan yang tinggi terhadap promosi susu formula. Selasa (1/2)
"Padahal, ASI eksklusif ini mampu memenuhi kebutuhan asupan gizi bagi si bayi tanpa harus memberikan makanan pendamping ASI," kata Staf Bagian Gizi Dinas Kesehatan Sumut, Rosida Brutu SKM MKes.
Dikatakannya, Berdasarkan hasil penelitian pakar di dunia, sampai usia enam bulan, bayi hanya mampu mencerna ASI. Apabila ditambah dengan makanan
pendamping, akan menambah beban bagi pencernaan bayi.
"Di Sumut, sekitar 40 persen Ibu yang memberikan ASI secara eksklusif pada bayinya," katanya seraya menjelaskan tidak jarang para orangtua lebih percaya pada promosi susu formula ketimbang manfaat pemberian ASI.
Sambung Rosida, Dengan memberikan ASI eksklusif secara tepat dan higenis, akan
mempengaruhi daya imunitas bayi. "Namun, rendahnya pengetahuan menjadi salah satu penyebab ibu tidak memberikan ASI eksklusif kepada bayinya," terangnya.
Sebenarnya, masih dikatakan Rosida, Susu formula sangat rentan dan tidak higenis karena hanya mampu bertahan sekitar dua jam saja, berbeda dengan ASI yang mampu bertahan sampai delapan jam dalam suhu normal.
"Jika ASI diberikan secara tepat, higenis, dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi," bebernya seraya menambahkan semakin
cepat diberikan makanan pendamping, akan mempercepat datangnya penyakit pada bayi.
Masih dikatakan Rosida, ASI akan menjadi senjata ampuh. Saya mengatakan begitu karena rata-rata anak yang menderita gizi buruk atau gizi kurang, akibat jarang diberikan ASI.
"persoalan gizi buruk atau gizi kurang tidak selesai dengan kesehatan, harus diatasi hingga ke bawah,"katanya seraya menegaskan pihaknya
menargetkan jika semua anak yang menderita gizi buruk mendapatkan penanganan.
Namun faktanya, saat ini masih banyak ibu yang belum tahu
tentang bagaimana memberikan ASI yang benar dan tepat bagi bayi.
"Ini jadi tantangan. tapi jika Ibu tahu mengetahui manfaat dari ASI, pasti dia berikan ASI eksklusif kepada bayinya," katanya
seraya menambahkan dalam hal ini kondisi Ibu juga harus dalam keadaan yang baik kalau hendak menyusui.(Akb)
Beri bendera pesan ini Dinkes Medan Perbanyak Jangkauan dan Kualitas Pelayanan
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 08:59:00 PM
Medan - Dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat Kota Medan, Dinas Kesehatan Kota Medan akan terus memperbanyak jangkauan ke masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan.
"Kita akan meningkatkan jangkauan pelayanan dengan melibatkan mitra kerja seperti dokter gigi, dokter spesialis, institusi kesehatan termasuk diluar pemerintahan," kata Kadis Kesehatan Kota Medan, dr Edwin Effendi MSc, pada acara Bakti Sosial Kesehatan Gigi dan Mulut di Kantor Lurah Labuhan Deli Kecamatan Medan Marelan, Minggu (30/1).
Dengan adanya kerjasama dalam hal pelayanan kesehatan tersebut, Edwin mengatakan, dapat meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan.
Menyangkut pelayanan gigi kedepan akan ada pemetaan sama seperti kasus DBD dan gizi buruk.
"Jadi kita akan intervensi dengan mengetahui masalahnya," sebutnya sembari menghimbau kepada masyarakat agar memberi perhatian khusus pada gigi dan mulut.
"Jangan setelah sakit baru dianggap gigi bermasalah. Periksakan kesehatan gigi dan mulut secara berkala agar dapat diketahui tindakan apa yang diberikan seperti penambalan pada gigi berlubang," terangnya.
Masih dikatakan Edwin, Sekarang tidak dianjurkan pencabutan gigi. "Jangan sampai gigi itu dicabut," katanya seraya menambahkan misalnya gigi berlubang, penanganannya bisa tanpa dicabut yaiut dengan cara ditambal. "Bisa dilakukan penanganan sakit gigi tanpa adanya penyabutan gigi," bebernya sembari memaparkan semua pelayanan kesehatan gratis dan diberi kemudahan dengan adanya pendataan jaminan kesehatan.
"Semua unit kesehatan siap untuk melayani kesehatan. Kita sudah mengingatkan seluruh jajaran kesehatan, untuk siap melayani kesehatan," ujarnya.
Ditempat yang sama Ketua Persatuan Dokter GIgi Indonesia (PDGI) Cabang Medan, drg Indra Siregar mengatakan dalam acara ini pihaknya menurunkan 120 orang tenaga kesehatan. "Kedepan hal ini diharapkan menjadi pilot proyek. Ini merupakan wujud kepedulian kita pada masyarakat," katanya seraya menambahkan kegiatan ini dalam rangka memperingati HUT PDGI yang ke 61 tahun.
Sementara itu, menurut Suyatmi (45) warga Jalan Panah Hijau Lingkungan V mengatakan kegiatan ini sangat bagus. Karena kegiatan ini sangat membantu masyarakat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut. "Saya datang ke acara bakti sosial ini karena saya diberitahu oleh kepling di lingkungan saya," katanya sembari mengatakan dirinya hadir diacara bakti sosial ini untuk membersihkan plat-plat yang menempel digiginya, sembari berharap kegiatan positif ini jangan berhenti sampai disini.
Hal yang sama dikatakan Sutri warga Jalan Panah Hijau Lingkungan X mengatakan kalau kegiatan ini sangat disambut hangat oleh masyarakat Jalan Panah Hijau. Karena kegiatan ini positif. "Ia saya berharap kalau kegiatan positif ini jangan berhenti sampai disini aja, kalau bisa berkelanjutan," kata Sutri.
Terpisah, Lurah Kelurahan Labuhan Deli, Abdul Hakim Nasution menyambut baik kegiatan tersebut dan menyampaikan terimakasihnya. "Masyarakat disini umumnya nelayan yang kadang kurang mampu berobat dan merasa terbantu," katanya seraya memaparkan masyarakat di kelurahan Labuhan Deli, masyarakat begitu antusias untuk menyambut acara Bakti Sosial yang diadakan Dinkes Medan bekerja sama dengan PDGKI.(Akb)
Kasus HIV, Lebih Besar dari Apa yang dilaporkan
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 08:35:00 PM
Medan - Seiring dengan penemuan kasusnya Penyakit HIV/AIDS, bukan tidak mungkin merambah seluruh kabupaten/kota di Sumatera Utara dan bakal meningkat dengan penemuan kasusnya di Kabupaten/Kota.
Jumlah kasus HIV/AIDS sering dikatakan sebagai fenomena gunung es, yang nampak hanya permukaannya saja, tetapi kasus sebenarnya lebih besar dari yang dilaporkan.
Dari estimasi Tahun 2007, HIV/AIDS sebesar 7.059 namun yang baru ditemukan sebanyak 2616. “Bukan tidak mungkin, dari sisa estimasi ini akan lahir bayi-bayi yang terinfeksi HIV. Untuk itu perlunya mengikuti program PMTCT,” kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara, dr Candra Syafei SpOG melalui Projek Manejer Global Fund, Andi Ilham Lubis. Sabtu (29/1)
Dia mengatakan hingga Januari tahun 2011 gambaran kasus HIV/AIDS sebanyak 2616, HIV 1081 dan AIDS 1535. Perincian kasus HIV/AIDS, untuk Kota Medan menduduki rangking pertama dengan jumlah 1712 orang, Deli Serdang 205 orang, Karo 117 orang, Tobasa 114 orang. Bahkan kabupaten yang baru dimekarkan seperti Batu Bara kasusnya ditemukan ada 6 orang, Padang Lawas AIDS 2 orang dan Pak-pak Barat 1 orang AIDS.
Ironisnya, kasus ini didominasi usia produktif antara 20-29 tahun sebanyak 1366 orang, juga telah sampai kepada anak usia dibawah 1 tahun dimana HIV ada 3 orang dan AIDS 2 orang. Usia 1-4 tahun 28 orang (HIV 24 dan AIDS 4 orang), usia 5-9 tahun 5 orang yang HIV.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Edwin Effendi MSc berharap agar hal tersebut menjadi perhatian bersama, agar kasusnya dimasa datang tidak menjadi bom waktu.
“Kota Medan harus memiliki strategi yang tepat dan berkesinambungan dalam hal menahan laju epidemi HIV/AIDS,” katanya.
Dinkes Medan, sambungnya, telah melakukan kegiatan untuk menahan laju epidemi HIV/AIDS antara lain dengan meningkatkan penyuluhan kepada kelompok resiko tinggi dan kepada masyarakat. Selain itu juga meningkatkan pelayanan kesehatan untuk penderita HIV/AIDS.
Sementara mengenai program Prevention Mother To Child Transmision (PMTCT) atau program pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, Kabid Bina Pelayanan Kesehatan Dinkes Medan, drg Irma Suryani menambahkan saat ini sudah ada 10 tempat pelayanan PMTCT seperti di Kelurahan Petisah, Tuntungan, Polonia, Belawan, Teladan, Bromo, Helvetia, Puskesmas Sering dan Medan Deli.
“Ini akan ditambah terus,” katanya. Masih dikatakan Irma, program PMTCT menyangkut sosialisasi, penyuluhan, konseling dan penjangkauan kasus serta pencegahan bayi agar tidak terinfeksi HIV dari ibunya.
“Ibu hamil yang diprediksi akan kita konseling, kita ambil darahnya agar jelas apakah terinfeksi HIV atau tidak,” bebernya. Namun sambungnya, sejauh ini belum ditemukan adanya ibu hamil yang terinfeksi HIV.
“Tapi kendala yang kita hadapi, tidak semua ibu hamil mau diperiksa darahnya dengan alasan takut. Padahal kalau kita mengetahuinya dengan memeriksa ibu hamil yang punya resiko, si ibu bisa waspada dan dapat dicegah penularanya,” terangnya sembari menambahkan dalam program PMTCT, pihaknya tidak bisa memaksa ibu hamil untuk diperiksa darahnya.(Akb)

Medan - RSU Pirngadi Medan menyediakan Showroom Honda persis disamping ATM Bank Sumut. "Pengadaan ini karena banyak pegawai Pirngadi yang miskin dan tidak memiliki mobil, makanya kita mempermudah dengan mengadakan Showroom Honda di lingkungan RSU Pirngadi Medan," kata KTU RSU Pirngadi Medan, Indah Kemala. Selasa (18/1).
Dia mengatakan pengadaan ini hanya untuk membantu pegawai Pirngadi yang tidak mempunyai kendaraan. "Kita hanya membantu makanya ini kita lakukan,"bebernya sembari mengatakan jangan hanya mengkritisi, kalau memang pengadaan Showroom ini mengganggu biar kita tutup sekarang sembari berlalu dan seakan tertutup tentang pengadaan Showroom Honda dari CV. Medan Baru yang terletak di Jalan S.Parman No 250 Medan.
Sementara itu, menurut Marketing dari CV. Medan Baru, Desti mengatakan kalau Showroom tersebut baru empat hari berjalan dan hanya sebulan pengadaannya di rumah sakit milik Pemko Medan.
Hal yang sama dikatakan Ichsan yang juga marketing dari CV. Medan Baru mengatakan showroom ini hanya sebulan dan baru empat hari berjalan di Pirngadi. "Disini kita ada program PNS, Guru dan Pegawai BUMN dimana kita memberikan potongan untuk mereka,"katanya kepada wartawan di RSU Pirngadi Medan.
Terkait masalah ini, Dirut Pirngadi Medan, Dewi F Syahnan SpTHT melalui selularnya mengatakan, kalau dirinya tidak mengetahui pengadaan Showroom dari CV. Medan Baru. "Nanti kita tanya dulu, saya lagi di Pemko ada urusan,"katanya sembari memaparkan tanya ke bagian KTU karena pengadaan dari KTU. (Akb)
2011, Dinkes Medan Membuat Program Khusus
created by Informasi Seputar Medan di 2/06/2011 08:19:00 PM
Medan - Dinas Kesehatan Kota Medan membuat program khusus disamping pelaksanaan kegiatan rutin lainnya sepeti program kesehatan Ibu dan Anak, Program Imunisasi, Usia lanjut, dan Program Pemberantasan Penyakit Menular. Hal ini dikatakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, Edwin Effendi. Minggu (6/2)
Dia mengatakan, Sejalan dengan komitmen kesehatan, pernyataan sikap dari jajaran kesehatan untuk siap melakukan program kesehatan dimana kedepannya Dinkes Medan merencanakan program yg perlu penanganan khusus dan terpadu.
Dikatakannya, Ada tiga hal pokok disamping program rutin lainnya, yang perlu penanganan khusus. Misalnya, pemutahiran kepesertaan JPKMS, dimana Dinkes Medan mengumpulkan data yang valid dan akurat tentang kepesertaan penduduk miskin. "Bantuan pelayanan kesehatan kepada penduduk miskin, dimana semua penduduk miskin harus terdaftar sebagai peserta Medan Sehat, baik jamkesmas maupun medan sehat," katanya.
Masih dikatakan Edwin, program khusus yang dirancang untuk Tahun 2011, tentang Gerakan Pemberantasan DBD, karena penyakit ini perlu penanganan terpadu. Dikatakannya, langkah-langkah penanganan kasus DBD, Dinkes Medan membuat pemetaan daerah rawan kasus. Artinya, pihaknya membuat pemetaan berdasarkan laporan kasus mana daerah lingkungan yang rawan sepajang tahun. "Dari pemetaan tadi, itu adalah daerah sumber perindukan nyamuk DBD dimana banyak terjangkit DBD," terangnya sembari mengatakan pihaknya telah melakukan intervensi dengan melibatkan sektor terkait, seperti Dinas kebersihan, Dinas PU, Dinas Perkim dll.
Masih dikatakan Edwin, satu yang kita lakukan selain gerakan 3m, jangan sampai ada wadah genangan air yangg terlantar.
"Karena sumber DBD ada digenangan air, dikantong plastik, tempat bunga atau dipot bunga. Kalau ditemukan sarang nyamuk disitu berarti sudah 2 minggu air tidak dikuras atau sudah 2 minggu air tergenang di wadah tersebut," bebernya seraya menambahkan DBD penularan dari nyamuk bukan dari yg lain, Jadi yang perlu kita berantas, sarang nyamuk.
Dijelaskannya, penyakit DBD merupakan penyakit berbasis lingkungan, artinya lingkungan kumuh yang tidak terurus pasti lingkungan tersebut endemis DBD.
"Untuk itu, kita membuat gerakan kebersihan lingkungan dan ini melibatkan keterpaduan lintas sektor untuk gerakan kebersihan lingkungan," ujarnya.
Masih Edwin, program khusus lainnya yang akan dilaksanakan Dinkes Medan di Tahun 2011, yaitu Antisipasi kejadian Gibur di Kota Medan.
"Kalau sudah ada kasus, kita melakukan upaya pemulihan," ujarnya sembari mengatakan kedepan melakukan gerakan bersama untuk mencegah Gibur.
Gibur bisa dideteksi melalui Posyandu dan Puskesmas. Saya bisa mengatakan begitu karena Gibur bisa terlihat dari timbangan. Misalnya, Berat badan dengan umur tidak sesuai atau tinggi badan tidak sesuai dengan berat badan. "Ini pertanda awal masalah gangguan gizi, bisa dimulai dari gizi kurang, biasanya gizi kurang dan gizi buruk dikarenakan Kurangnya kalori protein didalam tubuh.
Ditanya mengenai kendala dalam penanganan program kegiatan ini, Edwin memaparkan kalau kendala pasti ada, misalnya dalam pendataan JPKMS, yaitu kendalanya masih banyak penduduk Kota Medan yang belum mempunyai Kartu Keluarga dan KTP termasuk yang menjadi kendala dalam pendataan JPKMS, perlunya penganyoman yang lebih arif dari perangkat kecamatan.
Sedangkan kendala untuk DBD itu biasanya, kurangnya kesadaran dan pemahaman masyarakat tentang pentingnya kebersihan lingkungan, kendala lainnya untuk kasus DBD ini adalah masih rendahnya peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan sarang nyamuk dlingkungannya.
Sedangkan kendala untuk Kasus Gibur, dikarenakan rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatan ke Posyandu dan Puskesmas. Kendala lainnya, terang Edwin, Perlunya keterpaduan lintas sektor untuk memanfaatkan potensi yang ada dalam membantu kecukupan kebutuhan kalori bagi keluarga yang tidak mampu. "Saya mengharapkan semua elemen masyarakat yang mampu membuat bantuan kepada masyarakat miskin yang terkena gibur. Ini bertujuan agar tepat sasaran kepada penduduk yang berhak," katanya lagi.(Akb)
Badan besar dan gemuk itu merupakan ciri khas dari seorang yang bernama Wahyudi yang bekerja dan berprofesi sebagai wartawan di salah satu media ternama di Kota Medan. Dia sempat rehat sebentar karena ada sedikit masalah yang menghampiri dirinya, namun masalah itu perlahan sirna sembari pria berbadan gemuk ini berani menghadapi masalahnya dengan tegar.
Malam itu, seorang temannya yang juga berprofesi sebagai Jurnalis dan bekerja disalah satu media ternama di Kota Medan datang kekantornya yang pada malam itu suasana kantor tersebut sangat hening dikarenakan rekan-rekan wartawan masih dilapangan untuk memantau amannya situasi Kota Medan malam itu Sabtu (30/12).
“Gedut, kemana aja kau selama ini?? Kenapa kau gak kerja dan gak ngirim berita?? Apa cerita bro?” kata Akbar yang juga bekerja sebagai Jurnalis yang pada malam itu berada di kantor Wahyudi. Sembari dengan itu, lelaki berusia 23 Tahun ini menjawab. “Ginilah ber, aku kemarin itu ada masalah. Banyaklah masalah yang aku hadapi makanya aku pergi ke Lhouksumawe,” katanya sembari memulai ceritanya dengan mengambil sebatang rokok Ten Mild yang berada persis didepannya.
Sambil mengambil mancis, pria berbadan hitam dibaluti kulit tebal ini pun membakar rokok yang sudah dikepit antara jari telunjuk dan jari tengahnya itu. “hheeeeepppsss, huuuuufffffm hembusan asap yang dikeluarkan hingga membuat ruangan itu penuh dengan asap rokok yang dibakarnya,” masalah aku berat Ber. Kemarin aku sempat punya masalah dengan keluarga aku dan sembari itu juga aku mempunyai masalah dengan pacar aku yang sudah aku pacari selama kurang lebih enam tahun.
Diceritakannya, jadikan pacar aku udah jadi PNS di Auri, taula ko gimana cowok-cowok di Auri itu. “Ganteng, kaya pokoknya bagusla ber, kalau dibandingkan sama aku, ya kalahla aku,” katanya. Rupanya Ber, selama ini aku udah capek ditemu sama pacar aku ini Ber. “ah capeklah Ber,” katanya sembari menjelaskan rupanya semenjak SMA dia sudah menduakan aku Ber. Gimanalah aku gak cemburu Ber, tapi ya sudahlah Ber (Sebutan akrab untuk Akbar)aku mencoba untuk sabar.
“Ko tau dari mana Ndut klo kau ditipuin dia sejak SMA dulu?,” Tanyaku heran. Gini Ber, ada yang suka sama pacar aku dan dia teman satu kerja cewek aku ini Ber. “Taulah kau kalau orang PNS ini. Apalagi kalau udah sama-sama PNS, pasti masa depannya sudah terjamin,” bebernya sembari menarik rokoknya karena tanpa dia sadari rupanya rokok yang dia bakar tadi sudah hampir mengenai Filternya.
Continue. . .
